Masa Genting yang Tak Bisa Dilupakan

Pernahkah kau menginjakkan kaki di wilayah Papua paling timur? Tentunya ada orang yang pernah datang ke Papua untuk urusan bisnis, pekerjaan, bahkan untuk berlibur. Tapi banyak orang yang merasa kalau letak Papua itu sangat jauh. Papua termasuk ke dalam wilayah teritorial Indonesia, tetapi cukup sulit untuk melihatnya secara mendalam. Tentunya Papua memiliki kota-kota yang besar, ada juga tempat wisata kelas dunia seperti Wamena dan kehidupan lokal yang masih tradisional. Tapi wajah asli Papua tercermin pada gaya hidup dan kebiasaan penduduk lokal dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Tujuan ditulisnya tulisan ini agar orang bisa mempelajari tentang Papua dari sudut pandang penulis.

Penulis: Asmarullah / perawat senior, Klinik Asiki

Asmarullah / perawat senior, Klinik Asiki

Kami bertemu anak itu di Kecamatan KI, di desa YANG yang ada di sungai Digoel. Penduduk desa ini berjumlah kurang dari 50 orang. Rumah-rumah yang ada di sekitar tepi sungai dibangun dengan kayu yang tak dapat melindungi penghuninya dari angin. Oleh karena itu, desa itu sulit dikatakan sebagai lingkungan hidup yang sehat.

Sebagian besar desa yang kami kunjungi melalui pengobatan keliling itu tidak memiliki hal yang disebut dengan ekonomi wilayah. Hal itu juga terjadi di Desa YANG. Biasanya, ikan yang ditangkap di sungai dan sayur yang dipetik dari ladang rumah yang kecil itu merupakan satu-satunya makanan mereka. Swasembada saja tidak bisa melepaskan mereka dari masalah kronis ketidakseimbangan nutrisi. Kalau saja mereka memiliki kemampuan ekonomi untuk menyiapkan berbagai jenis makanan, maka mereka tentu dapat memenuhi kebutuhan dasar-dasar kesehatan.

Saat tiba di desa dan merawat penduduk desa, beberapa penduduk bergegas menuju kami, lalu meraih baju kami seakan-akan tidak mau melepaskannya. Kata salah satu penduduk desa itu, anaknya mengalami sakit yang sangat serius. Jadi, mereka menyarankan agar kami pergi ke rumah anak itu. Kami segera mengemasi barang kami yang ada di desa dan langsung menuju ke rumah anak itu.

Seluruh desa itu jauh dari kekayaan dan kenyamanan. Bahkan, rumah yang ditempati anak yang sakit itu lebih memprihatinkan. Atapnya terbuat dari daun sagu dan terlihat sudah lama tidak diperbaiki. Kalau hujan turun, maka atapnya akan bocor. Ketika saya masuk ke dalam, rumahnya terlihat lebih mengkhawatirkan.

Dokter mulai memeriksa kondisi anak itu. Saya pun melihat sekeliling rumah untuk memeriksa kondisi kehidupannya. Di rumah itu hanya ada satu ruangan, tidak ada kamar tidur, dapur, atau ruang tamu. Di ruang tempat pasien itu berbaring, peralatan rumah tangga berserakan. Namun, tidak ada jejak yang menandakan bahwa peralatan makan telah digunakan. Saya bertanya kepada anak laki-laki yang terlihat seperti saudara anak yang sakit itu, “Apakah kamu sudah makan?” Anak itu menjawab, “Belum…”

Dalam keluarga yang miskin, kecemasan pasien akan menyebar ke seluruh keluarga atau desa. Demikian juga dengan rumah ini. Jika ada seorang anak yang sakit, anak yang sedang sakit pun akan bergegas untuk merawat anak yang sakit itu atau mungkin mencari makanan seadanya untuk mereka makan. Keempat anggota keluarga itu, yaitu ayah, anak yang sakit, ibu, dan saudara laki-lakinya, tidak bisa menemukan semangat hidup di tengah kamar yang sempit dan sesak itu.

Anak itu telah diperiksa dengan cermat oleh dokter, kelihatannya berat badannya jauh di bawah rata-rata dan terlihat sangat lemah. Setelah selesai memeriksa anak itu, dokter menjelaskan kondisinya kepada orang tuanya. Ia mengatakan bahwa sakit yang dialami anak ini cukup serius, jadi anak ini harus dipindahkan ke RS secepatnya untuk perawatan intensif. Anak itu sedang menderita diare menahun dan malnutrisi.

Tempat tinggal anak itu terlihat sulit untuk diperbaiki kebersihannya, demikian juga kondisi malnutrisi anak itu. Pada awalnya, orang tua itu jera pergi ke RS yang mereka anggap asing. Namun, dokter tidak berhenti membujuk mereka. Karena kalau dibiarkan, anak itu akan terinfeksi dan mengalami dehidrasi.
Orang tuanya hampir mengangguk, seperti orang yang kehilangan kesadaran atau tidak memiliki tenaga, setelah mendengar kata-kata dari dokter beberapa kali bahwa anaknya dalam kondisi yang berbahaya.

Setiap kali mau memindahkan pasien ke rumah sakit, kami kesulitan untuk membujuk pengasuhnya. Kadang-kadang kami merasa dipertanyakan oleh mereka (warga),
“Mengapa kami harus bersikeras membujuk mereka pergi ke rumah sakit (RS), memberitahu caranya mengurangi gejala penyakit, dan menyelamatkan sebuah nyawa yang tidak mereka kenal.”
Pada dasarnya, pertanyaan itu muncul karena mereka merasa tidak mampu untuk pergi ke RS. Kami ini tenaga medis. Jadi, kami akan terus-menerus memberikan penjelasan kepada mereka sampai kami berhasil membujuk mereka dan memindahkan pasien ke rumah sakit. Dengan demikian, Klinik kami memiliki banyak pengalaman dalam menyelamatkan pasien dan mengobatinya dengan sepenuh hati. Keluarga anak itu juga memutuskan meninggalkan desa untuk merawat anaknya.
Setelah anak itu dipindahkan ke Klinik, dia diberikan pengobatan dan terapi gizi. Pada hari pertama dan kedua, kondisi anak itu tidak kunjung membaik, jadi tenaga medis dan keluarganya pun khawatir. Awalnya, kami terdiam dengan kondisinya itu. Akan tetapi seiring bergantinya hari, anak itu perlahan-lahan semakin membaik, lalu semua orang pun dapat menghelakan napasnya dengan lega. Anak itu dirawat selama 10 hari di Klinik Asiki, kemudian pulang dengan kondisi badan yang sehat. Klinik Asiki tersebut merupakan klinik yang dikelola oleh Korindo Group.
Ada sebuah istilah yang dikenal dengan “masa genting” atau golden time yang dapat memperkirakan kelangsungan hidup pasien dalam keadaan darurat. Artinya, waktu yang sulit untuk menyelamatkan nyawa pasien, jika sudah melewati masa genting itu.

Anak itu bukanlah pasien dalam keadaan darurat, tetapi jika kami terlambat sedikit saja tiba di desa itu, mungkin akan sulit untuk menjamin kesembuhannya. Saya pikir pengobatan keliling kami mengamankan masa genting/golden time karena berhasil menyelamatkan anak itu.

Di Papua, kematian sering kali disebabkan oleh penyakit yang serupa dialami anak itu, yaitu diare menahun dan malnutrisi karena tidak adanya sarana hidup yang baik. Mungkin ada kalanya mereka tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup. Selain itu, tidak mudah mendapatkan berbagai nutrisi secara merata di desa itu.

Apakah hanya desa YANG yang ditempati anak itu saja yang seperti ini? Tidak. Sebagian besar, 80 desa di Papua yang telah saya kunjungi melalui pengobatan keliling, tempat tinggalnya seperti telatap, makanannya buruk, dan terisolasi karena tidak ada transportasi dan jalanan.

Saya berharap perjalanan kami dapat memberikan nutrisi yang cukup untuk merawat anak yang sakit itu agar tumbuh dengan sehat. Tidak ada lagi yang kami inginkan, selain melihat anak-anak itu tumbuh besar dan menjadi masa depan pembangunan Papua.

Bukankah masa genting atau golden time yang dibutuhkan untuk membuat Papua sehat dan memiliki tempat tinggal yang baik? Kapan? Sekarang? Saat ini? Itulah sebabnya kami berkemas dan menyeberangi sungai setiap bulan selain bekerja di Klinik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *