Tambah 16 KL, Siapkan Digitalisasi Bagi Konsumen

Suasana pengisian BBM di SPBU Nagoya Jln. Koti Jayapura, Sabtu (24/10) lalu. ( FOTO: Yohana/Cepos)

Melihat Upaya Pertamina Atasi Lonjaknya Permintaan Solar Subsidi

Terjadinya antrean solar yang sering dijumpai masyarakat dalam satu bulan terakhir tak hanya terjadi di Kota Jayapura saja, tapi juga sampai di Kabupaten Jayapura bahkan di Kabupaten Keerom,  Apakah stok solar mulai menipis?

Laporan: Yohana

Memasuki akhir tahun, permintaan solar selalu menjadi kendala, mengingat berbagai kegiatan operasional mulai gencar dilakukan, penyelesaian proyek-proyek besar maupun kecil dan kebutuhan pembangunan lainnya mulai digenjot demi kejar target ditahun 2020.

Belum lagi ditambah dengan aktivitas jalan Trans Papua yang sudah mulai lancar dilalui kendaraan roda empat sampai roda 6, pastinya akan menambah kebutuhan BBM di Jayapura dan sekitarnya.

Mengingat sepanjang rute jalan trans Papua yang menghubungan Jayapura – Wamena tidak ada tempat pengisian BBM, selain di Jayapura dengan demikian tidak menutup kemungkinan bahwa stok solar di Jayapura kuotanya bertambah dari yang seharusnya.

Untuk diketahui total solar di Papua sebesar 1.000 KL dan sudah terserap 60 persen sampai dengan saat ini, masih tersisa 40 persen lagi, artinya kondisi solar di Papua atau di Jayapura masih dalam keadaan aman terkendali.

Meski demikian Pertamina selalu memastikan bahwa meski sering terjadi antrean di SPBU, baik dari Kota Jayapura sampai dengan Kab. Jayapura, hal ini bukan disebabkan oleh menipisnya solar.

Unit Manager Communication, Relations & CSR Marketing Operation Regional VIII, Edi Mangun menjelaskan antrian solar yang terjadi ini juga hanya terjadi pada jam-jam tertentu, tidak setiap hari ada antrian, untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya menambah 16 KL kuota solar untuk setiap SPBU.

“16 KL atau 16.000 liter, yang ini disediakan berdasarkan kebutuhan dari SPBU masing-masing, jadi kami mau memastikan bahwa kondisi solar saat ini dalam keadaan aman,” kata Edi kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (24/10) lalu.

Solar sendiri merupakan BBM bersubsidi yang mana subsidinya diberikan oleh Negara, sehingga penyalurannya juga diberikan kuota masing-masing. Maka pengawasan dan pengendaliannya harus ketat tidak seperti BBM non subsidi lainnya.

Selain melakukan antisipasi sementara kebutuhan solar dengan menambah 16 KL disetiap SPBU, Pertamina juga memiliki program Digitalisasi bagi konsumen khususnya solar subsidi.  Yang mana program ini telah dijalankan sejak tahun 2018 lalu, dan terkait kesiapannya sendiri untuk penyediaan fasilitas disetiap SPBU dilakukan oleh pihak telkomunikasi dalam hal ini Telkom.

“Kita masih terus berkoordinasi dengan pihak Telkom terkait layanan digitalisasi bagi konsumen ini, ya seperti biasa setiap adanya program-program baru selalu dimulai dari Indonesia Barat terutama dari pulau Jawa, Sumatera, Bali dan selanjutnya di Papua,” terangnya.

Program ini untuk pulau Jawa sudah hampir 60 persen SPBUnya telah digitalisasi, sementara untuk Papua, pihaknya masih menunggu konfirmasi dari kantor pusat, jadi ketika semua kebutuhan yang dibutuhkan sudah siap maka pihaknya pastikan SPBU-SPBU di Papua siap untuk Digitalisasi.

“Manfaat digitalisasi ini, lebih mengontrol keluar masuknya suplai di SPBU sebagai poin terakhir di Pertamina, dengan harapan semua konsumen yang mengisi BBM Solar dapat terdeteksi dan jika ada kebiasaan lama seperti satu mobil yang datang ambil solar dan keluarkan kemudian isi lagi hal ini akan langsung terdata,” terangnya.

Intinya dengan digitalisasi akan menertibkan konsumen dalam hal pengisian Solar, dan juga digitalisasi ini akan lebih mempermudah sistem pembayaran, karena tidak lagi menggunakan uang cash melainkan uang elektronik, dan ini sangat bagus diterapkan dalam kondisi pandemic covid-19 seperti saat ini.

“Harapan kami ketika terjadinya digitalisasi pengawasan BBM, transaksi dan kegiatan lainnya dapat dilakukan lebih efisien dan efektif, dengan digitalisasi ini kami harapkan dapat memutus matarantai pencurian solar bersubsidi,” tambah Edi.

Menurutnya, khusus untuk isu penimbunan BBM solar bersubsidi sendiri pihaknya sudah mendapat info dari pihak-pihak terkait termasuk masyarakat, hanya saja sesuai dengan UU Hiswana Migas bahwa yang bisa berkomentar dan bertindak adalah pihak Kepolisian.

“Kami tidak tinggal diam ketika menerima laporan, melainkan langsung kami teruskan kepada pihak terkait dalam hal ini pihak kepolisian, kami mempersilahkan setiap masyarakat, teman-teman media yang mengetahui ada oknum-oknum yang melakukan penimbunan terhadap BBM Bersubsidi terutama silahkan menghubungi kami di nomor kontak 135,” jelasnya.

Masih terkait dengan antrian kendaraan di setiap SPBU, menurut Ahmad Pengawas di SPBU Nagoya Jayapura menjelaskan, antrean solar memang kerap kali terjadi setiap menjelang akhir tahun.

“Tahun ini kami pihak SPBU diberi kemudahan dengan adanya penambahan Solar 16 KL setiap hari, ini sangat membantu kami yang tadinya setiap kendaraan kami batasi hanya bisa mengisi sebanyak Rp 200 ribu/ kendaraan kini dengan adanya penambahan Rp 16 KL, kami bebaskan kendaraan mengisi seusia kebutuhan,” kata Ahmmad.

Antrean kendaran bukan hanya kendaraan proyek, container dan sebagainya tetapi juga antrian dari kendaraan lainnya yang melintas dari Jalan Trans Papua.

“Kami di SPBU Nagoya setiap hari menjual 10 ton solar namun dengan adanya penambahan 16 KL, setiap harinya kami jual 15 ton solar untuk melayani permintaan konsumen, dan alhamdulilah sampai saat ini mengurangi antrian yang signifikan,”pungkasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *