Pelajaran Sejarah Tanamkan Nilai Patriotisme dan Nasionalisme bagi Peserta Didik

Ketua AGSI Provinsi Papua Harjuni Serang, S.Pd, M.Si  (Foto : Yewen/Cepos)

Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Bicara Tentang Wacana Penghapusan Mata Pelajaran Sejarah

Wacana Kemendikbud untuk menghapus ata mengurangi mata pelajaran pendidikan sejarah mendapat respon yang beragam, bagaimana para pendidik pengajar sejarah menilainya?

Laporan Robert Yewen

Kendati telah ada statmen dari Mendikbud Nadiem Makarim soal tak ada penghapusan mata pelajaran sekolah, namun bola liar masih terus beredar di masyarakat terutama para guru-guru sejarah.
Salah satunya adalah Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Papua yang tidak menyetujui adanya penghapusan dan pengurangan mata pelajaran Sejarah di SMA/SMK yang ada di seluruh Indonesia, khususnya di Papua.
“Mewakili AGSI Papua, saya tidak setuju dengan adanya penghapusan mata pelajaran Sejarah di SMK dan pengurangan atau reduksi mata pelajaran di SMA,” kata Ketua AGSI Provinsi Papua Harjuni Serang, S.Pd, M.Si kepada Cenderawasih Pos di sela-sela mendampingi para siswa SMA Negeri 1 Sentani mengikuti kegiatan lomba di Balai Arkeologi Papua, Kamis (22/10) kemarin.
Menurut Harjuni jika pelajaran Sejarah ini dihapuskan atau dihilangkan di SMK dan dikurangi di SMA. Apalagi di SMA sendiri dikatakan sudah tidak menjadi mata pelajaran wajib lagi, melainkan sebagai mata pelajaran.
“Hal ini tentu dikhawatirkan jati diri dan penanaman patriotisme, nasionalisme kepada anak didik,” tutur pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru dan dosen sejarah di SMA Negeri 1 Sentani dan Jurusan Sejarah FKIP Universitas Cenderawasih ini.
Harjuni berharap, draf mengenai penghapusan dan pengurangan mata pelajaran Sejarah ini jangan sampai disahkan oleh pemerintah pusat. Sebab mata pelajaran Sejarah ini sangat penting dalam membentuk karakter anak didik untuk mengenal sejarah masa lalu di Indonesia.
“Presiden pertama Ir. Soekarno pernah mengatakan “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Ini tentu yang harus kita ingat jika mata pelajaran Sejarah dihapuskan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa rasa patriotisme, rasa nasionalisme akan hilang,” ucapnya.
Sementara itu Syahril, salah satu orang tua murid mengaku isu penghapusan mata pelajaran sejarah mungkin saja tidak dilakukan dalam waktu dekat, namun perlu dkawal terus mengingat pelajaran sejarah penting untuk membangun karakter bangsa, artinya masa lampau tak boleh dilupakan oleh generasi saat ini dan yang akan datang.
“ Seperti masa-masa kerajaan sebelum ada negara Indonesia, bahwa kita punya kerajaan yang kuat dan disegani di seluruh kawasan Asia Tenggara, lihat saja kerajaan majapahit yang mempunyai wilayah sampai Malaysia, Singapura, Brunei bahkan sebagian Filipina dan Thailand, inilah yang perlu diketahui generasi muda bahwa kita dulu punya kerajaan besar,” katanya. (*/wen)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *