Masyarakat Harapan Sudah Usulkan Nama Stadion ke Provinsi

Mathius Awoitauw, SE., M.Si

SENTANI-Menyikapi penolakan pergantian nama stadion Papua Bangkit menjadi Stadion Lukas Enembe yang dilakukan oleh masyarakat yang mengatasnamakan Dewan Adat Suku (DAS) Sentani, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, SE, MSi, sudah menemui sejumlah masyarakat adat yang ada di Kampung Harapan. Menurut Bupati Mathius, sejumlah tokoh masyarakat adat di Kampung Harapan sebenarnya sudah melakukan pertemuan khusus dengan perwakilan pihak provinsi untuk membahas mengenai persoalan nama Stadion Papua Bangkit itu.
“Tim dari provinsi tiga minggu lalu sudah melakukan pertemuan dengan masyarakat adat di Kampung Harapan. Tentang pemberian nama stadion. Tadi pagi saya sudah rapat dengan mereka dan mereka sampaikan usulan nama Stadion Papua Bangkit, provinsi sudah bawa ke sana. Kita tunggu saja proses itu,”ungkap Mathius Awoitauw saat ditemui media ini di Kantor Bupati Jayapura, Kamis (22/10).
Oleh karena itu, dia meminta kepada masyarakat khususnya pihak-pihak yang sudah melakukan aksi penolakan terhadap rencana pemberian nama Stadion Papua Bangkit menjadi Stadion Lukas Enembe supaya tetap bersabar dan menanti prosesnya yang sementara ini sedang berjalan.
“Kalau misalnya provinsi akan memfasilitasi, mungkin akan ada waktu. Apakah minggu depan, kita tunggu saja. Tapi apa yang sudah direncanakan ini biarkan jalan saja,”jelasnya.
Sehubungan dengan persoalan ini, Bupati Jayapura itu hanya menyayangkan aksi sejumlah masyarakat yang melakukan aksi penolakan dengan cara memasang baliho di tempat umum seperti jalan raya yang ada di depan Stadion Papua Bangkit.
Menurutnya, tindakan ini sebenarnya sangat bertentangan dengan etika adat yang ada pada masyarakat adat Sentani yaitu bicara dari hati ke hati di bawah pendopo.
“Kita hanya menyayangkan saja karena segala sesuatu itu harus dibicarakan secara bersama-sama, DAS secara keseluruhan. Masyarakat Kampung Harapan, Kleubleuw juga harus diminta pandangannya,”harapnya.
Adat orang Sentani bukan seperti itu, semua datang dan duduk bicarakan dulu di Obhe, siapa yang ambil keputusan. Bukan datang di jalan-jalan dan bikin aksi. Artinya orang lihat seperti bukan sebagai orang adat,”pungkasnya.(roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *