Secara Virtual, Panitia Minta Maaf

Ketua Panitia Peresmian, Yunus Wonda (kiri) didampingi oleh Humas Panitia Peresmian, Kadkis Matdoan saat memberikan keterangan kepada awak media di Sekretariat PB PON, Senin (19/10). ( FOTO: Erik/Cepos)

1000 Personel Siap Amankan Peresmian Stadion Utama 

JAYAPURA-Ketua Panitia Peresmian Venue Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, Yunus Wonda menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat lantaran ceremony peresmian Stadion Lukas Enembe dan beberapa infrastruktut PON nantinya hanya akan digelar secara virtual.

Hal tersebut dilakukan lantaran tak mendapatkan izin dari untuk dihadiri oleh penonton dalam jumlah besar. Mengingat situasi Covid-19 saat ini masih terus meningkat.

Padahal menurut Yunus Wonda, sejak jauh hari, panitia peresmian dan Panitia Besar (PB) PON XX Papua telah menyediakan beberapa posko rapid test di sejumlah titik yang tersebar di Kota dan Kabupaten Jayapura untuk memeriksakan kesehatan calon pengunjung.

“Panitia menyampaikan permohonan maaf karena kami tidak bisa menggelar acara peresmian dengan dihadiri banyak orang. Kami sudah berdiskusi terus dengan pihak keamanan dan kami tidak mendapatkan ruang untuk jumlah besar,” ujar Yunus Wonda kepada awak media dalam siaran persnya di Sekretariat PB PON Papua, Senin (19/10).

Tapi pria yang juga menjabat sebagai Ketua Harian PB PON itu mengaku, untuk mengobati kekecewaan para masyarakat, pihaknya sudah menyiapkan segala persiapan menjelang peresmian tersebut. Termasuk siaran langsung dan live streaming agar dapat disaksikan seluruh masyarakat Papua bahkan tanah air.

“Untuk kesiapan kami panitia sebagai tuan rumah sudah siap. Kalau pun masih ada kekurangan masih ada waktu untuk dapat diselesaikan. Nantinya masyarakat bisa menyaksikan langsung di stasiun tv dan live streaming untuk mencegah kerumunan massa,” ujarnya.

Yunus Wonda juga membeberkan alasan pemberiaan nama Stadion Lukas Enembe, karena menurut Yunus Wonda, Gubernur Papua (Lukas Enembe) merupakan tokoh paling penting dalam menghadirkan PON XX di Papua.

“Kami rakyat Papua tidak pernah bayangkan bila Provinsi Papua bisa menjadi tuan rumah PON, karena kami menyadari secara infrastruktur, Papua sangat tidak mungkin melakukan itu. Tetapi oleh komitmen yang kuat dari bapak Lukas Enembe yang didukung juga oleh bapak wakil Gubernur dan semua pihak, maka hal yang tidak mungkin,” ucap Yunus Wonda.

“Bahkan ketika itu Pak Lukas dengan berani mengatakan siap menjadi tuan rumah PON dan meyakinkan pemerintah pusat hingga akhirnya disetujui,”sambungnya.

Alasan kedua adalah stadion Papua Bangkit ini menggunakan APBD Papua dan ini danggap sebagai satu keberanian seorang pemimpin yang mau menyiapkan anggaran untuk sebuah pembangunan yang akan dikenang.

“Itu keberanian beliau untuk meletakkan seluruh venue agar ke depan generasi Papua itu harus muncul. Jika selama ini  kita sibuk mencari lapangan dan berangkat ke luar Papua. Hari ini semua berstandart internasional. Dari banyak pertimbangan tersebut kami akhirnya mengajukan melakukan perubahan dari stadion Papua Bangkit menjadi stadion Lukas Enembe,” aku Yunus Wonda.

Ia menyebut pengusulan nama ini bukan tanpa perdebatan dan adu argumen termasuk turun ke lapangan  untuk mengecek pendapat masyarakat.  “Jadi kami putuskan dalam sidang paripurna beberapa waktu lalu dan beliau juga tidak keberatan.   Pak Lukas berani mengambil keputusan untuk menyiapkan Rp 1,4 triliun lebih  menggunakan APBD murni sehingga ini bentuk penghargaan tadi,” jelas Yunus.

Yunus mengakui bahwa ada banyak pertentangan dan penolakan namun yang perlu diingat adalah ada keberanian dan keberpihakan yang dilakukan oleh Lukas Enembe untuk rakyatnya dikemudian hari sehingga ke depan generasi penerus akan mengingat bahwa ada sosok yang bisa melakukan ini sehingga siapa saja bisa.  “Untuk 9 venue lainnya nanti menggunakan nama kearifan lokal,” tutup Yunus.

Sementara itu, sebanyak 1.000 personel gabungan terdiri dari TNI-Polri dan  Satpol PP diturunkan untuk mengamankan Peresmian Stadion Utama, Pergantian nama Bandar Udara Sentani, peresmian nama stadion Papua Bangkit menjadi Stadion Lukas Enembe dan beberapa Venue PON, Polda Papua pada Jumat (23/10).

Wakapolda Papua Brigjen Pol Mathius Fakhiri mengatakan, pengamanan sebanyak 1.000 personel gabungan tersebut untuk memastikan yang masuk ke dalam stadion hanya orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Ini untuk menekan klaster baru penyebaran Covid-19,” kata Fakhiri kepada wartawan di Mapolda Papua, Senin (19/10).

Wakapolda Fakhiri juga menegaskan, Polda Papua tidak mengizinkan melakukan acara hitung mundur 360 hari yang akan diselenggarakan secara terbuka dengan menghadirkan banyak orang yakni kurang lebih 30 ribu orang.

“Dengan tegas Polda Papua tidak mengizinkan dan tidak menerbitkan surat izin,” tegas mantan Wakapolda Papua Barat.

Dikatakan, tercatat Senin (19/10) hingga kedepan, Polda Papua selalu berkomunikasi dengan panitia untuk melihat secara detail rincian dari kegiatan yang akan diselenggarakan pada acara tersebut.

“Kita akan mengantisipasi acara-acara yang akan disiapkan. Namun yang pasti tidak boleh ada bakar batu. Hal ini mengantisipasi perkumpulan masyarakat,” kata Wakapolda.

Dikatakan, Polda Papua telah memutuskan tentang pemberian izin keramaian kegiatan tidak dapat diterbitkan karena sangat berisiko terjadi klaster baru penyebaran Covid-19 di Papua.

Untuk itu, Polda Papua menyarankan kepada Ketua Panitia agar pelaksanaan peresmian stadion utama, pergantian nama Bandar Udara Sentani, peresmian dan pergantian nama stadion Papua Bangkit menjadi Stadion Lukas Enembe, sosialisasi persiapan PON XX 2021, peluncuran buku orang asli papua dan count down  atau hitung mundur 365 hari menuju PON XX Tahun 2021 Provinsi Papua serta ibadah syukur dilaksanakan dengan menggunakan sarana virtual tanpa penonton dan tidak berkerumun.

“Jumlah peserta yang akan dihadirkan sebagaimana dalam surat permohonan izin keramaian yang diajukan oleh panitia kurang lebih 30 ribu orang. Hal tersebut jelas bertentangan dengan upaya pemerintah dalam mengoptimalkan pencegahan penyebaran Covid-19 di Provinsi Papua,” pungkasnya. (eri/ade/fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *