Masak Menggunakan Gerabah, Bumbunya Hanya Garam dan Daun Bete

Salah seorang mahasiswi dari Uncen, Gelda Asrouw saat hendak makan papeda dan ikan mujair tradisional dan ikan mujair kuah kuning di Kampung Abar, Distrik Ebangfau, Kabupaten Jayapura, Minggu, (18/10). ( FOTO: Yewen/Cepos)

Melihat Cara Masak Ikan Mujair Ala Kampung Abar, Distrik Ebangfau, Kabupaten Jayapura

Tidak hanya ikan mujair kuah kuning yang dimasak dengan menggunakan bumbu yang lengkap. Ada juga masakan ikan mujair secara tradisional menggunakan gerabah dengan hanya menggunakan garam dan daun bete, tapi rasanya tak kalah dengan ikan mujair kuah kuning. Seperti apa proses masak ikan mujair ala Kampung Abar?

Laporan: ROBERTHUS YEWEN- Sentani

Mama Barbarina Elbalkoi terlihat serius menyiapkan gerabah, ikan mujair, daun bete dan garam, sembari menyalakan api di tungku untuk memasak ikan mujair ala Kampung Abar, Distrik Ebungfau Kabupaten Jayapura.

Setelah api sudah dinyalakan di tungku, maka gerabah dinaikkan di api dan selanjutnya dimasukkan garam di dalam gerabah.

Lalu kemudian, mama Barbarina mengambil ikan mujair yang sudah dibersihkan untuk dimasukkan ke dalam gerabah. Di atas ikan mujair ditaru sayur batang daun bete atau sejenis keladi. Kemudian diberi air sedikit di dalam gerabah yang sudah berisi ikan mujair.

“Ikan mujair dalam gerabah ini akan kita masak dalam api sedang selama kurang lebih dua jam agar bumbu garam meresap,” kata Mama Barbarina sambil menggeser api di tungku.

Dengan kalori rendah dan kandungan serat yang tinggi, batang daun bete berfungsi sebagai pelengkap bergizi untuk diet. Ini adalah bentuk kearifan lokal masyarakat Kampung Abar.

Seperti diketahui, ikan mujair berlemak tinggi. Oleh karena itu, untuk mengimbanginya, maka perlu digunakan batang daun bete ini, sehingga dapat menetralisir lemak yang ada di ikan mujair ketika dimasak dalam gerabah atau sempe.

Setelah menunggu kurang lebih dua jam, maka terlihat dengan jelas air mendidih dan meresapi ikan mujair dan batang daun bete. Kemudian mama Barbarina mengangkatnya dan tetap berada di gerabah. Hal ini agar aroma dan kelesatannya tetap terjaga.

Mama Barbarina kemudian memutar papeda dan menghidangkannya di rumah bersama ikan mujair yang dimasak menggunakan resep secara tradisional dan ikan mujair kuah kuning. Setelah itu, kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan tersebut.

“Oromanya wangi sekali. Ternyata ikan mujair yang dimasak secara tradisional ini sangat enak,” kata Gelda Asrouw salah satu mahasiswi dari Uncen sambil menikmati ikan mujair di dalam piringnya.

Bapak Kepala Suku Kampung Abar, Naftali Felle mengatakan, ikan mujair yang dimasak secara tradisional di dalam gerabah atau sempe menggunakan garam dan batang danu bete ini merupakan makanan tradisional yang secara turun temurun telah dilakukan oleh masyarakat Sentani, khususnya di Kampung Abar.

Meskipun tidak menggunakan bumbu yang lengkap seperti memasak ikan mujair kuah kuning, tapi masakan mujair secara tradisional menggunakan gerabah atau sempe ini sangat enak. Selain itu, sangat sehat bagi tubuh jika dikonsumsi.

“Masakan ikan mujair tradisional ini sudah sejak dahulu dan secara turun temurun sampai saat ini masih di masak oleh setiap generasi yang ada di Kampung Abar,”ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *