Presiden Negara Federal Beri Warning

Presiden Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB) Forkorus Yaboisembut (berdiri tengah) didampingi pasukannya memberi keterangan pers usai merayakan HUT ke IX NFRPB di Kertosari, Distrik Sentani Barat Kabupaten Jayapura, Senin (19/10).  Foto:Gamel/cepos

JAYAPURA – Perayaan HUT Negara Federal Republik Papua Barat ke IX akhirnya digelar secara sederhana di Sekretariat NFRPB di Kertosari Distrik Sentani Barat Kabupaten Jayapura. Dihadiri hampir 100 orang perayaan ini tetap digelar meski mendapat pengawasan ketat aparat kepolisian. Bintang kejora yang awalnya direncanakan akan dikibarkan juga batal dinaikkan. Bendera tersebut hanya diletakkan di tiang dan dilakukan ibadah. Meski demikian menurut Presiden NFRPB, Forkorus Yaboisembut itu tidak mengurangi pesan dan makna perayaan HUT. “Bintang Kejora mau dikibarkan atau tidak, NFRPB tetap dalam posisi menang,” kata Forkorus disela-sela perayaan HUT di Ketrosari, Senin (19/9). Apalagi kegiatan ini tidak hanya dilakukan di Kabupaten Jayapura tetapi ada juga di Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Mappi, Yapen, Sorong dan beberapa titik lainnya. “Di Pegunungan Bintang mereka sampaikan sedang mempersiapkan bakar batu kemudian menaikkan bendera sedangkan di kabupaten lain hanya ibadah karena memang teman-teman di daerah mendapat tekanan dari aparat,” bebernya. Pihaknya menyatakan tetap menang lantaran dengan adanya pelarangan ini artinya ada gesekan dan sengketa dan ini disebut bagian dari bukti. Disini Forkorus menyatakan telah mengirimkan proposal perundingan pengakuan peralihan kedaulatan dari NKRI ke NFRPB ke Presiden Jokowi dan kedutaan negara – negara sahabat. Dari proposal tersebut kata Forkorus yang didampingi pasukannya, Presiden Jokowi harus membahas proposal tersebut dengan DPR RI dan segera dorespon. “Pa Jokowi masih punya banyak waktu untuk membahas proposal kami sebab jika sampai 2021 tidak direspon maka kami siap ke kawasan Pasifik melalui Pasific Island Forum (PIF) maupun MSG untuk disuarakan dan diperjuangkan berama-sama. “Secara undang – undang internasional kami surah menenuhi semua persyaratan jadi salah jika tidak menjawab dan merespon proposal kami. Kami selama ini masih menghormati Indonesia dengan menempuh jalur damai tapi jika tahun depan tetap tidak ditanggapi makan kami akan mulai berjuang dari luar dan itu akan semakin membuat posisi Indonesia sulit,” imbuhnya. (Ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *