Kehidupan Masyarakat di Situs Yomokho Sejak 2.590 Tahun lalu

SITUS YOMOKHO Tim dari Balai Arkologi Papua, ISBI Papua, dan Rumah Menulis Papua Universal saat tiba di puncak Situs Yomokho di bagian barat Dermaga Khalhote Kampung Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura, Sabtu (17/10). ( FOTO: Yewen/Cepos)

Melihat Situs Yomokho Awal Mula Kehidupan

Kehidupan masyarakat di pesisir Danau Sentani telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Situs Yomokho yang berada dibagian barat Dermaga Khalhote Kampung Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.

Laporan: ROBERTHUS YEWEN, Sentani

TIM yang terdiri dari Peneliti Balai Arkeologi Papua bersama para dosen dan mahasiswa dari Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Papua serta mahasiswa yang tergabung dalam Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN) melakukan perjalanan dari Dermaga Khalhote, Sabtu (17/10) sekira 13.49 WIT menuju Situs Yomokho.

Untuk menjangkau Situs Yomokho, tim harus berjalan kaki mengikuti jalan raya yang telah diaspal. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit.

Untuk bisa sampai ke puncak Situs Yomokho, tim harus mendaki bukit. Situs Yomokho ini diketahui merupakan lokasi pertama perkampungan di wilayah pesisir Danau  Sentani.

Jalan menuju puncak Situs Yomokho tidak mudah. Kondisi jalan tanah yang licin membuat tim berjalan satu persatu dengan hati-hati.

Beberapa orang terlihat kesulitan untuk menaiki gunung. Sebab sepatu dan sandal yang digunakan juga tidak bersahabat dengan tanah.

Perjalanan ke puncak cukup menguras tenaga dan keringat. Namun rasa lelah yang durasakan oleh seluruh tim seakan sirna begitu sampai di puncak.

Keindahan pemandangan Danau Sentani dari ketinggian Situs Yomokho, seakan menghilangkan rasa lelah. “Wah indah sekali,” kata Maria Bayububun sambil bersama beberapa orang tim mengabadikan momen ini dengan melakukan swafoto dengan latar belakang pemandangan Danau Sentani.

Dari atas Situs Yomokho terlihat dengan jelas di bagian timur terdapat hamparan hutan sagu yang tumbuh dan menjulang tinggi. Meskipun sebagian hutan sagu telah ditebang untuk pembangunan jalan raya.

Di bagian utara terdapat Danau Sentani dan Kampung Asei Pulau yang terlihat sangat jelas keindahan dan penoramanya. Di bagian barat terlihat Kampung Ifar Besar dan beberapa kampung lainnya. Sedangkan di bagian utara terlihat dengan jelas Stadion Lukas Enembe yang berada di Kampung Harapan.

Dari puncak Situs Yomokho ini juga menyuguhkan pemandangan pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas dari Bandara Sentani.

“Pemandangan dari atas Situs Yomokho ini bagus sekali. Kita bisa lihat pesawat melewati danau Sentani saat akan mendarat,” kata salah salah seorang warga Kampung Asei, Corry Ohee sambil menunjuk ke arah pesawat yang akan mendarat.

Peneliti Balai Arkeologi Papua telah melakukan penelitian sejak tahun 2010, 2011, 2012 dan 2018, untuk mengetahui tentang kehidupan masyarakat Sentani di Situs Yomokho tersebut.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Papua berhasil mengungkapkan bahwa kehidupan awal masyarakat di pesisir Danau Sentani ini berawal dari Situs Yomokho di bagian Sentani Timur, kemudian menyebar ke Sentani Tengah dan Sentani Barat.

Balai Arkeologi sendiri belum melakukan penelitian terhadap peninggalan pra sejarah di wilayah Sentani Tengah dan Sentani Barat. Sehingga kesimpulan sementara bahwa kehidupan masyarakat di pesisir Danau Sentani ini pada awalnya berada di Situs Yomokho kemudian menyebar wilayah Sentani Tengah dan Sentani Barat.

Penelitian yang dilakukan dari Balai Arkeologi Papua adalah mengambil arang yang merupakan bekas bakar dari kehidupan masa lampau. Untuk mendapatkan arang tersebut,  Balai Arkeologi Papua harus mengali hingga kedalaman kurang lebih 180 cm dengan ukuran kotak 1×2.

Dari tahun 2010, 2011 dan 2018, pihak Balai Arkeologi Papua telah lakukan penelitian di Situs Yomokho. Untuk arang sendiri ditemukan pada tahun 2011 dan tahun 2012 yang dilakukan uji laboratorium. Hasil laboratorium menyebutkan bahwa kehidupan masyarakat di Situs Yomokho telah ada sejak 2.590 tahun yang lalu.

“Masyarakat Sentani, mereka hidup di sini (Yomokho). Karena dekat dengan sagu, dekat dengan air danau untuk minum. Selain itu juga mencari ikan dan siput untuk dimakan. Sagu mereka buat papeda,” ungkap Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto sambil memperlihatkan tempat pengalian di Situs Yomokho.

Tidak hanya menemukan arang, di Situs Yomokho juga ditemukan tulang dan tengkorak manusia. Serta benda-benda yang digunakan untuk masak seperti gerabah atau sempe dan benda-benda lainnya.

Selain itu, di sepanjang Situs Yomokho terdapat batu-batuan yang telah dihampar sepanjang jalan. Sementara di samping kiri dan kanan jalan merupakan pemukiman warga. Batu-batu tersebut masih ada sampai sekarang meskipun ditutupi alang-alang yang menjulang tinggi.

Menurut Hari Suroto, masyarakat di Situs Yomokho sejak dahulu memilih daerah yang tinggi sebagai tempat tinggal mereka, karena bisa melindungi diri dari musuh-musuh yang datang.

“Ketika berada di ketinggian atau di atas gunung, maka tentu mereka akan dengan mudah melihat musuh-musuh yang datang dari arah Danau Sentani, maupun dari daerah daratan rendah,” jelasnya.

Tim kemudian melakukan perjalanan di atas hamparan batu yang telah ada ke arah bawah. Tim kemudian mendapatkan sebuah kebun yang telah ditanami beberapa tanaman seperti singkong atau kasbi, tebu, kacang tanah, kemangi, dan beberapa tanaman lainnya yang berada di dalam kebun tersebut.

Tim kemudian memutuskan untuk turun kembali melalui pinggiran kebun milik warga tersebut. Diarahkan oleh Corry Ohee, maka satu per satu dari tim mulai turun sambil harus berhati-hati. Sebab turunan lebih berbahaya, dibandingkan dengan ketika menanjak gunung  sebelumnya.

“Ayo semua turun. Menerima tantangan. Jangan berhenti,” ucap Corry Ohee sambil melihat satu per satu dari tim yang akan turun tersebut.

Satu per satu dari tim kemudian turun secara perlahan-lahan dan berhasil sampai kembali ke jalan raya yang berada di bawah daratan rendah. Meskipun demikian, ada sekira tiga orang tim yang tak berani mengambil risiko, sehingga memutuskan untuk kembali mengikuti jalan awal.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *