Tiga Anggota DPRP Reaktif, Satu Orang Positif

WAMENA-Satu dari tiga orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) yang melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Jayawijaya dinyatakan Positif Covid -19, setelah dilakukan pemeriksaan swab di Lab RUSD Wamena. Kini anggota tersebut menjalani masa karantina di Jayawijaya, sedangkan untuk rekannya yang lain telah meninggalkan Wamena.

  Ketua Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid -19 Jayawijaya Jhon Richard Banua membenarkan hasil pemeriksaan tersebut, dimana saat mereka datang ke Wamena dan dilakukan rapid tes itu ada 3 orang Anggota dewan yang reaktif,  dan selanjutnya ditindak lanjuti dalam pemeriksaan Swab, maka hanya satu orang yang positif.

  “Satu orang yang dinyatakan positif Covid-19 ini sudah kita isolasi di Wamena, sedangkan rekan -rekannya yang lain semuanya telah kembali ke Jayapura,”ungkapnya Kamis (8/10) kemarin.

   Menurutnya, untuk anggota dewan yang dinyatakan positif ini untuk yang melakukan kontak langsung pihaknya akan melakukan tracing lagi. Tracing dilakukan baik itu keluarganya yang ada di Wamena, maupun sopirnya akan dilakukan pencarian semuanya, sehingga tak ada yang tidak dicari ini dilakukan untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid -19.

   “Sebelumnya rombongan anggota dewan ini tiba di Wamena untuk melakukan hearing dengar pendapat dari masyarakat tentang perpanjangan Otsus jilid II , namun karena ada salah satu yang positif sehingga agenda tersebut tak bisa dilakukan,”jelasnya.

  Bupati Jayawijaya menegaskan penyebaran Covid -19 tak mengenal usia, karena selain orang dewasa yang dirawat saat ini, anak usia sekolah. Bahkan bayi 2 bulan  juga tidak luput dari serangan virus ini, namun ia tetap bersyukur karena selama merawat pasien covid -19 di jayawijaya tak ada satupun pasien yang meninggal dunia.

  “Covid-19 tidak mengenal usia, karena yang kita rawat sampai saat ini tak hanya dewasa, anak usia 9 tahun ada, dan juga bayi usia 2 bulan juga ada dan saat ini masih menjalani perawatan, namun sejak awal hingga saat ini tak ada pasien kami yang meninggal dunia karena corona virus, ini patut untuk kita syukuri,” beber Jhon Banua

   Penanganan yang dilakukan tim gugus, kata JRB, ini diambil langkah cepat agar tidak bergejala. Artinya penanganan yang dilakukan ini lebih cepat sebelum penderita itu bergejala dan virus itu tidak terus berkembang dalam tubuh manusia.

  “Kalau penanganannya dilakukan cepat, itu artinya pasien itu tak bergejala, namun dari pemeriksaan bisa ditemukan , sedangkan kalau dibiarkan lama dan pasien itu bergejala lalu ditemukan mungkin akan lebih berbahaya bagi penderitanya,”katanya (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *