Rela ke Kota Jayapura Hanya Untuk Mengikuti Kuliah Secara Daring

Solce Kobak ketika mengikuti proses belajar mengajar secara daring dari Stiper Katolik ST.Vincentius A Paulo Surabaya dari Kota Jayapura, Rabu (23/9) ( FOTO: Ginting/Cepos)

Perjuangan Solce Kobak Kuliah Daring di Masa Pandemi

Solce Kobak anak Papua asal Distrik Lolat Kabupaten Yahukimo yang lulusan SMA Yapesli Wamena  tahun ini diterima kuliah Stiper Katolik ST.Vincentius A Paulo Surabaya. Seperti apa perjuangan Solce Kobak mengikuti kuliah daring di mana Pandemi Covid 19?

Laporan: Buendi Ginting

Adanya Pandemi Covid 19 dirinya harus menunda keberangkatan ke Surabaya untuk mengikuti perkuliahan secara tatap muka karena kampus yang berpola asrama tersebut pada semester pertama harus menggelar kuliah secara online atau daring.

Karena buruknya jaringan internet di daerah Pegunungan Tengah Papua seperti di Distrik Lolat Kabupaten Yahukimo dan Distrik Wamena Kabupaten Jayawijaya mengakibatkan Solce Kobak  harus ke Kota Jayapura hanya untuk mengikuti perkuliahan online.

Mengikuti perkuliahan secara daring oleh kampusnya di Surabaya dari Kota Jayapura juga tidak lah mudah, karena perbedaan waktu dua jam lebih. Dimana dihari pertama proses perkuliahan awal yakni kegiatan pengenalan kampus dilakukan pada pukul 06:00 WIB atau waktu Surabaya dan di Papua sendiri masih jam 04:00 WIT pagi.

“Sa dari Lolat Kabupaten Yahukimo dan selama ini SMA saya di Wamena dan tahun ini sa diterima kuliah di Surabaya dengan program pendidikan strata 1 Ilmu Keperawatan. Semester satu ni kita kuliah Online maka itu sa harus ke Kota Jayapura karena dari Lolat dan Wamena pasti tra bisa karena jaringan tra baik,”Ungkap Solce Kobak, Rabu (23/9).

Solce nenambahkan bahwa persoalan jaringa membuat dirinya harus ke Kota Jayapura hanya untuk mengikuti perkuliahan. Ia juga mengatakan bahwa untuk mengikuti materi kuliah tidak ada masalah hanya saja terkendala perbedaan jam.

“Pas pertama tu pas pengenalan kampus disana disuruh ikut zoomeeting jam 6 pagi, disini tu jam 4 pagi, jadi tong harus bangun subuh sekali, sedangkan pelajaran memang jauh lebih banyak dari dulu SMA tapi sa dibantu kakak-kakak disini jadi sa bisa ikuti dengan baik”bebernya.

Ia mengatakan tidak semua anak dari pedalaman Papua seberuntung dirinya karena bisa mendapatkan tempat tinggal dan bantuan jaringan dari pengurus Rumah Belajar Wamena yang tinggal di Kota Jayapura.

“Kaget juga dulu SMA tugas tra banyak seperti ini, sekarang tu banyak apa bilang. Tugas kuliah tu seperti ilmu kesehatan dan sebagainya. Yang masih agak bingung itu seperti tugas buat video, kumpul tugas lewat Gmail dan juga langsung tanya jawab lewat aplikasi zoom meeting tu tapi bersukur kakak-kakak sini bantu saya,”bebernya.

Untuk proses pendaftaran waktu dirinya diterima kuliah di Stiper Katolik ST.Vincentius A Paulo Surabaya , Ia mengatakan bahwa semua materi dikirim melalui daring dengan dibantu kaka relawan Rumah Belajar Wamena yang ada di Kota Surabaya.

Ditempat terpisah Kepala Dinas Pendidikan Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPPAD) Provinsi Papua Christian Sohilait ST. M.Si meminta meski dimasa Pandemi saat ini anak-anak Papua yang baru berkuliah tahun ini di luar Papua dan mengalami kendala perkuliahan agar tetap semangat dan tidak boleh minder.

“Untuk anak-anakku kalian tidak boleh minder, meski dimasa Covid saat ini kalian harus semangat dan mari kita buktikan kita bisa meraih cita-cita guna memajukan Papua,”bebernya.

Diirnya mengatakan bahwa persoalan jaringan memang menjadi kendala proses belajar mengajar daring di Papua. Sehingga mengakibatkan banyak anak-anak di Papua ketertinggalan materi perkuliahan.(*wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *