Sejarah dan Kesiapan Tim Ragby Jelang PON 2021 Papua

Atlet Rugby Putra Papua saat berpose di Stadion Papua Bangkit awal tahun lalu. (FOTO: Erianto/CEPOS)

Rugby Papua

Oleh: Erianto-Jayapura

JAYAPURA – Cabang olahraga Rugby di Papua dari tahun ke tahun terus berkembang. Cenderawasih Pos mencoba menggali lebih dalam sejarah Rugby di Papua, serta bagaimana kesiapan Rugby menyambut PON XX 2021 Papua?.

Kita harus mengetahui lebih dulu, bahwa olahraga Rugby merupakan sejenis permainan bola tim yang dimainkan oleh dua tim. Setiap tim mencoba mencetak skor dengan cara menyepak, melontar, atau membawa bola sehingga mereka dapat menyepak untuk melepaskan gol lawan atau menyentuh di belakang garis lawan. Tim yang mencetak poin paling banyak menjadi pemenang

Rugby adalah olahraga yang cara mainnya hampir sama dengan american football, hanya saja, tingkat amannya lebih minim dari american football, karena aksesoris pengaman yang lebih sedikit.

Olahraga rugby berasal dari negara Inggris pada awal abad ke-19. Rugby ini telah diatur oleh Internasional Rugby Board sejak pembentukannya pada tahun 1886.

Sejarah Olahraga Rugby di Papua

Olahraga Rugby pertama skali dikenal di Papua mulai dari areal kerja PT Freeport Indonesia di Timika tahun 1994. Paul Quaglia merupakan bangsawan asal Australia yang memperkenalkan Rugby di Papua.

Kala itu, Paul Quaglia merupakan salah satu karyawan PT Freeport Indonesia. Rugby pun diusung sebagai selah satu cabang olahraga pengembangan masyarakat kampung-kampung di Timika, Mimika Papua.

“Diprogramkan di tahun 1994 dan dikembangkan pada tahun 1996. Olahraga ini dibawa oleh bule (Paul Quaglia) dari Australia dia pertama kali kembangkan olahraga ini, dia pake untuk olahraga pengembangan masyarajat. Kebetulan saya staf dari paul, dan kami coba kembangkan Rugby,” ungkap pelatih kelala Rugby Papua, George Deda.

“Dan ternyata olahraga ini berkembang terus, dan cukup berpengaruh di masyarakat, sampai hari ini di Timika hampur setiap kampung banyak orang main Rugby,” sambungnya.

Meski baru awam di Papua saat itu, ternyata Rugby Papua langsung mengikuti turnamen Internasional untuk pertama kalinya dalam turnamen Bali Open tahun 1996. Tapi saat itu, Rugby Papua merupakan kolaborasi dari karyawan orang asing PT Freeport Indonesia dengan putra Papua.

“Sampai dengan kita ikut Arafura Games 1999 di Darwin, Rugby Papua yang mewakili, tapi itu masih gabung dengan bule, tapi kami anak-anak Papua yang lebih mendominasi,” sebut Deda.

Kata Deda, barulah di tahun 2000, saat Rugby Papua memgikuti Rugby 7 Darwin, satu tim benar-benar dihuni oleh putra Papua.

“Setelah itu hampir setiap tahun kami ikut turnamen dan disponsori oleh PT Freeport langsung. Event Internasional seperti Bali Open, Jakarta Open adalah agenda yang selalu kami ikuti,” jelas Deda.

Meski Rugby Papua sudah ada sejak tahun 1994, tapi untuk kepengurusan provinsi barulah dibentuk di tahun 2021. Bersamaan saat Rugby masuk dalam salah satu cabang olahraga binaan KONI.

“Pengurusnya ini sudah kami bentuk sebelum menunggu pengesahan di KONI, tapi baru terdaftar di KONI Pusat tahun 2012, dan tahun itu juga kami sah mendaftar di KONI Papua. Dan saya cukup bangga Rugby di Papua hingga saat ini orang sudah banyak tahu olahraga Rugby,” bebernya.

Atlet Rugby Papua saat melakukan latihan di lapangan sepakbola Lantamal X Jayapura awal tahun lalu. ( FOTO: Erianto/CEPOS)

Perkembangan Rugby di Papua

Dari tahun ke tahun, olahraga Rugby Papua terus berkembang. Bahkan peminat olahraga Rugby di Bumi Cenderawasih mulai menjamur. Terhitung, untuk pengurus cabang (Pengcab) saat ini telah berdiri 5 Pengcab.

Lima Pengcab Prui saat ini diantaranya Pengcab Kabupaten/kota Jayapura, Mimika, Keerom dan Merauke. Bahkan, dalam waktu dekat, Pengcab Prui Pegunungan Bintang pun dalam waktu dekat akan dilantik.

“Sangat luar biasa, sampai saat ini kami sudah ada di 5 kabupaten, ini menunjukan bahwa cabang olahraga Rugby terus berkembang di Papua,” sebut Deda.

Selain Pengcab Prui, klub Rugby di Papua pun juga bak klub sepakbola. Diketahui, dalam beberapa event Kejurda Rugby Papua dalam dua tahun terakhir selalu diikuti sebanyak 11 tim asal Papua.

Bahkan Deda mengaku, hampir setiap Kabupaten di Papua telah memiliki klub Rugby. Hanya saja, sampai saat ini menurutnya ada sekitar 20 klub Rugby di Papua yang masih aktif.

Menurut Deda, karakter dan fisik anak-anak Papua menjadi satu dari sekian alasan kenapa olahraga Rugby sangat cocok dimainkan oleh putra/putra Papua.

“Minatnya sangat luar biasa sekali, ini bicara mengenai karakter, jadi sangat berpengaruh skali, mereka melihat hampir rata-rata di pasifik bermain rugby ini sangat berpengaruh dengan orang Papua. Bakat alam. Dan karakternya pas dengan olahraga Rugby,” ujar Deda.

Andalkan Putra/putri Papua

Cabang olahraga Rugby merupakan salah satu Cabor yang benar-benar mengandalkan putra-putri Papua. 100 persen tanpa atlet kontrak. Berbeda dengan cabang olahraga beregu lainnya yang harus mendatangkan atlet kontrak untuk mempertebal kekuatan tim.

Faktor alamiah yang dimiliki oleh atlet putra/putri Papua membuat mereka tidak kesulitan untuk bermain rugby. Apalagi, atlet Papua selama ini selalu menjadi langganan Rugby Indonesia di Sea Games maupun Asian Games.

“Cabor Rugby terbuka untuk umum, tapi yang banyak bergabung adalah atlet putra/putri Papua. Karena olahraga ini justru olahraga menantang untuk mereka. Sehingga 16 atlet putra dan 16 atlet putri samuanya anak-anak Papua,” kata Deda.

Tak hanya untuk atlet, tapi untuk staf pelatih serta official pun mengandalkan putra/putri Papua. Tentu hal itu menjadikan Rugby Papua sebagai cabang olahraga yang benar-benar mengandalkan talenta Papua.

“Semua atlet, pelatih dan official 100 persen Papua. Staf pelatih ada 6 orang, 4 diantarany asisten dan 1 lagi saya usulkan sebagai pelatih fisik. Official kami ada 2 orang, 1 di putra dan 1 di putri,” jelas Deda.

Dominasi Papua di Timnas

Tak hanya di sepakbola, tapi atlet Papua juga merupakan tulang punggung bagi cabang olahraga Rugby Indonesia. Buktinya, dalam beberapa pagelaran internasional, atlet Papua selalu mendominasi.

Berawal dari Sea Games di Manila 2005 silam, Rugby Indonesia nyaris didominasi atlet Papua. Tak tangung-tangung, dari 12 atlet Rugby Indonesia, 9 di antaranya merupakan atlet asal Papua.

Uniknya, kala itu, George Deda mengemban kapten Rugby Indonesia dan mempersembahkan medali bagi sang Garuda Indonesia.

“Kita mulai Sea Games 2005, hampir didominasi dari Papua, kami dapat medali perak, saya kaptenya. Sejak situ, Papua untuk Rugby selalu mendominasi,” ucap Deda.

Saat Asian Games Indonesia 2018 silam, Rugby Papua kembali mengirimkan atlet-atlet terbaiknya. Saat itu, Rugby Indonesia diperkuat 10 atlet Papua.

“2018 Asian Games kembali didominasi oleh atlet Papua, 4 putra 6 putri dari masing-masing 12 atlet,” kata Deda.

Saat Sea Games Filipina 2019 lalu, Rugby Papua kembali mengenakan 7 atletnya. 4 untuk putra dan 3 untuk putri. Artinya, setiap ajang internasional, wajah-wajah Papua selalu menghiasi Rugby Indonesia.

“Mereka banyak yang dipanggil seleksi tapi hanya itu yang dipilih, tapi yang tidak ikut mereka juga memiliki potensi yang besar. Dan yang persiapan PON kali ini hampir semua merupakan mantan pemain timnas,” jelasnya.

Punya Pelatih Berlisensi Internasional

Rugby Papua tidak hanya dikenal berhasil mengorbitkan atlet hebat. Tapi Rugby Papua juga terus meningkatkan SDM dibidang pelatih. Tercatat, hingga saat ini, Rugby Papua juga telah memiliki empat pelatih berlisensi nasional dan satu pelatih berlisensi internasional.

“Rugby Papua punya 4 orang asisten pelatih yang sudah bersertifikasi nasional level 1, dan saya sendiri sebagai pelatih kepala berlisensi internasional level 2,” ungkap Deda.

Miliki Venue Terbaik Se Indonesia

Cabang olahraga Rugby Papua akan memiliki Venue sendiri, sempat dikabarkan akan menggunakan lapangan Cricket, kemudian akan menggunakan lapangan Trikora. Akhirnya, Rugby Papua menemukan solusi soal venuenya sendiri.

Melalui dana perubahan APBD tahun ini, venue Rugby Papua akan dibangun berdampingan dengan venue Baseball/Softball di Auri Sentani.

Bahkan, untuk desain pun kini telah disiapkan. Berkaca dari desain tersebut, menurut Deda, venue Rugby Papua nantinya merupakan salah satu venue terbaik di Indonesia.

Apalagi menurut Deda, venue Rugby Papua nantiny akan melampaui kemegahan venue Rugby di Senayan. Venue yang digunakan saat Asian Games lalu.

“Indoensia kami baru punya lapangan di senayan, itupun dibangun karena Asian Games. Jadi itu dibuat pun semi permanen, toilet, tribun itu portabel,” jelas Deda.

“Nah untuk kita yang di Papua ini dilengkapi dengan lapangan pertandingan, tribun, lapangan pemanasan, kolam renang, tempat fitnes dan wisma atlet,” sambung Deda.

Deda pun melayangkan pujian kepada pemerintah Papua yang telah memberikan perhatian bagi cabang olahraga Rugby dengan menyediakan venue sendiri. Deda pun berambisi untuk membayar kepercayaan tersebut dengan dua medali emas.

“Dan ini perhatian yang luar biasa, artinya Rugby pertama kali mau tampil di rumah sendiri, kami sudah meyakinkan pemerintah Papua dan KONI, bahwa kami siap memberikan yang terbaik atas kepercayaan tersebut,” tegas Deda.

Terapkan Promosi Degradasi

Selama pemusatan latihan, Rugby Papua memiliki 16 atlet putra/putri. Meski atlet yang kini memperkuat Rugby Papua mayoritas atlet Pelatnas, bukan berarti nama-nama tersebut akan lanjut hingga pelaksanaan PON XX 2021.

Pasalnya, sistem promosi dan degradasi terus diterapkan oleh Rugby Papua untuk menyiapkan skuat yang mumpuni di pentas olahraga terbesar tanah air itu.

“Kita akan sampai dengan 14 atlet, sesuai kuota KONI. Semua atlet harus bersaing untuk menunjukan yang terbaik bahwa mereka layak masuk dalam tim. Dan kita juga berikan kesempatan kepada atlet lain, bila ada yang menunjukan progres yang baik kita akan berikan kesempatan,” ujar Deda.

Hal tersebut bukan sebatas wacana, buktinya, khusus Rugby Papua, saat ini beberapa atlet telah ikut melakukan latihan bersama tim.

“Semua masih punya kesempatan, dengan adanya covid, ada atlet yang pulang, mereka pulang belum bisa kembali. Sampai di daerah masing-masing, ada yang latihan dan yang tidak. Khusus untuk tim putri saya panggil beberapa atlet untuk mengikuti seleksi,” ungkap Deda.

Menurut Deda, Rugby Papua tak ingin malu di rumah sendiri, sehingga pembenahan dalam tim merupakan sesuatu yang wajib mereka lakukan menuju prestasi gemilang.

Waspadai Rugby DKI Jakarta

Sebagai pelatih kepala Rugby Papua yang sudah malang melintang dan kenyang kompetisi, di pentas PON XX Papua, Deda mengaku ia memberikan perhatian kepada 5 tim yang lolos pra PON, baik putra maupun putri.

Diketahui, tim yang lolos Pra PON Rugby ialah, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Banten dan Aceh untuk putra. Sementara untuk putri ada DKI Jakarta, Jawa Barat, Aceh, Bali, Yogyakarta.

Dari 5 tim yang lolos, Deda memberikan perhatian khusus kepada Rugby DKI Jakarta. Menurutnya, DKI Jakarta merupakan langganan tim yang mereka jumpai dalam beberapa event.

“Kalau dari peta kekuatan, kami berkaca dalam dua Kejurnas terkahir, 2018 dan 2019. Dan kami semua menjuarai, nah ini jadi tolak ukur kami,” bebernya.

“Musuh terberat kita sampai dengan terakhir dua Kejurnas terakhir kita ketemu DKI di final putra/putri. Sehingga mungkin lebih mewaspadai Rugby DKI,” ujarnya.

Target Sapu Bersih Medali Pada PON Papua

Pengprov Prui Papua berambisi menyapu bersih medali emas di PON XX 2021 mendatang. Berbekal Eksebisi serta beberapa event dalam 2 tahun terakhir, Rugby Papua selalu memberikan hasil yang sempurna.

Saat Eksebisi PON XIX 2016 Jawa Barat silam, Rugby Papua sukses mengawinkan medali emas putra/putri. Kali ini PON di laksanakan di Bumi Papua, tentu target 2 medali emas adalah sebuah misi yang akan diwujudkan oleh para perugby handal Papua untuk berjaya di rumah sendiri.

Tak hanya di PON, Kejurnas Jakarta 2017 dan Kejurnas Yogyakarta 2018, Rugby Papua kembali perkasa atas lawan-lawannya. Di dua Kejurnas berbeda, Rugby Papua selalu sukses mengawinkan gelar juara.

Tak heran bila atlet Rugby Papua, baik putra mau pun putri selalu menjadi langganan Tim Nasional Rugby Indonesia dalam beberapa event besar.

“Tanpa mendahului kehendak Tuhan, kita pasti upayakan dua medali emas, kebetulan saya sendiri ketua Binpres Prui Pusat dan untuk perkembangan Rugby di Indoensia saya ikuti dengan baik. Dan saya bisa mengukur kekuatan Rugby di Indonesia seperti apa,” ujar pria yang juga sebagai Ketua Harian Prui Papua itu.

Apalagi menurut Deda, ia telah mengatahui secara persis kekuatan calon lawan mereka yang lolos ke PON.

“Paling tidak sudah bisa tahu kekuatan Rugby di Indoensia seperti apa, sehingga kami juga sudah melakukan upaya-upaya dalam mempersiapkan atlet agar bisa berbicara banyak di PON nantinya,” tutup Deda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *