Pendidikan Kontekstual Penting Untuk Mengejar Ketertinggalan Papua.

Suasana meetingzoom Pendidikan Kontekstual Papua tentang sebuah asa pendidikan di Papua, Kamis (3/8). (FOTO :Ginting/Cepos)

Seberapa penting pendidikan kontekstual Papua dimata penggiat pendidikan di Papua?

Berikut Laporan: A. Buendi Ginting

Pendidikan Nasional tidak seutuhnya bisa diterapkan di Papua, disebabkan budaya dan karatistik wilayah yang berbeda dibandingkan daerah lainnya. Oleh sebab itu pendidikan kontekstual Papua perlu dibuat dan sahkan guna mengejar ketertinggalan Papua dibidang Pendidikan.

Dengan harapan pendidikan kontekstual Papua lebih mudah diterima dan diterapkan di Papua karena akan menyesuaikan kebiasaan keseharian masyarakat, kesesuian budaya dan juga lebih gampang diterima masyarakat Papua.

Pendidikan kurikulum yang secara nasional juga tidak bisa dipaksanakan karena banyak hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Papua. Seperti yang diungkapkan oleh Albertus Fiharsono yang merupakan Pendiri Fiharsono Institute mengatakan pentingnya penerapan pendidikan kontekstual Papua karena banyak didaerah Papua yang merasa terasa asing dengan pendidikan formal yang disama ratakan dengan daerah lain.

“Karena kita berbeda di Papua. Jika sistem pendidikan Nasional diberikan sama disetiap daerah tidak akan bisa adil. Maka sangat penting konseptual pendidikan di diPapua . sehingga sangat penting penerapatan pendidikan sesuai dengan konseptualan atau sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah,”bebernya.

Sedikitnya ada enam hal pentingnya pendidikan kontekstual yang harus dilakukan yakni meliputi design bangunan dan lingkungan sekolah, integritas pendidikan tradisional dan keterlibatan komunitas lokal, ritual dan pesta adat, strategi pembelajaran dan sumber belajar lokal, bahasa lokal dan terakhir adalah suasana positif dan suportif.

Apakah kurikulum nasional ada konseptual Papua?, Albertus menilai jika di ukur maka tidak ada ukurannya atau bisa dibilang sangat minim. Maka menurtnya pendidikan nasional sekarang masing sangat nasional sekali tanpa memperhatikan konteks dimana kurikulum tersebut dijalankan.

“Maka diperlukan pendidikan dengan gaya Papua dan ini tidak bisa ditawar lagi. Adil bukan berarti memberikan hal yang sama, namun memberikan sesuai dengan kebutuhan yang ada,”bebernya.

Sementara itu Imelda Kopeaw yang merupakan relawan pendidikan Papua Selatan mengatakan pendidikan kontekstual Papua sangat penting dilakukan di Papua. Pendidikan formal tidak bisa dipaksakan karena tidak sesuai dengan budaya dan kebiasaan sehari-hari oleh masyarakat.

“Pendidikan hak semua warga Negara termasuk anak yang terisolir seperti anak-anak di Korowai sana. Itulah mengapa saya berani membayar harga mahal untuk tetap melayani pendidikan Papua di pedalaman,”bebernya.

Ia menegaskan bahwa dirinya bersama relawan dan guru lainnyame rindukan kurikulum kontekstual Papua yang nantinya gampang dimengerti guru dan anak anak Papua.

“ Saya mengakui sangat kurang itu saat ini jika kurikulum nasional itu dipaksakan. Kita harus menyesuaikan dengan anak-anak bukan anak-anak ini kita paksa menyesuaikan kurikulum saat ini,”bebernya.

Ia berharap anak anak Korowai mendapatkan pendidikan yang layak dan pengetahuan yang baik. Sehingga diharapkan kehadiran Negara terutama dibidang Pendidikan.

“Saya prihatin sekali tidak adanya pendidikan yang baik disana dimana sering terjadi pernikahan dibawah umur, saya ingin anak-anak ini menempuh pendidikan yang layak dan menatap masa depannya,”Pungkasnya.

Sedangkan penggiat pendidikan lainnya Maruntung Sihombing yang juga mendiri Pondok Baca Indawa di Kabupaten Lanny Jaya mengatakan pendidikan konseptual Papua sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pendidikan formal dipaksanakan tidak akan bermanfaat.

“ Seperti cerita malingkundang secara Nasional hal ini tidak akan diterima oleh masyarakat Papua. Karena sebenarnya banyak cerita Papua yang bermanfaat yang dapat diterima oleh masyarakat Papua,”bebernya.

“Kita harus memiliki buku pendidikan kontekstual Papua yang memenuhi pendidikan dan segera dirancang pendidikan kontekstual ,”tegasnya.

Maruntung mengatakan bahwa guru yang mengajar di Papua juga harus berani mengajar diluar kurikulum dan aturan yang ada karena bila dipaksakan menurutnya akan sia-sia. Ia menilai bahwa guru juga harus dapat menemukan metode yang baik untuk mengajar sesuai dengan keseharian dan budaya yang ada pada masyarakat Papua.

“Seperti kita mengajar bahasa inggris misalnya, kita tidak bisa hanya menanyakan arti dari bahasa inggris tersebut ke bahasa Indonesia tapi harus juga kita menanyakan apa artinya dalam bahasa daeah,”katanya.

Sementara itu Martha Refwalu Guru di Kabupaten Merauke meminta agar kurikulum Kontekstual Papua segera di buat dan sahkan karena sangat membantu pendidikan di Papua.

“Saya dengar dulu sempat di buat dan dibahas. Selanjutnya kita tidak tau sampai dimana. Saya berharap ini segera disahkan sehingga menjadi acuan tenaga pendidik dan sangat sesuai dengan kebutuhan pendidikan Papua,”bebernya.(gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *