Trauma Demo Masih Ada, Kami Selalu Menginginkan Kota Ini Aman

Salah satu karyawan di bengkel las Entrop ketika mengerjakan pesanan pelanggan, Jumat (28/8) kemarin. Pelaku usaha di kawasan Entrop mengaku masih trauma tiap kali ada demo. (Foto : Elfira/Cepos)

Mengenang Kisah Korban Kerusuhan 29 Agustus Jayapura

Hari ini (29/8) tepat setahun yang lalu, terjadi demo anti rasisme yang berujung dengan kerusuhan, pembakaran penjarahan hingga hilangnya nyawa manusia di Kota Jayapura pada 28 agustus 2019 lalu. Apa kata mereka?

Laporan-Elfira

Beberapa pedagang yang ditemui Cenderawasih Pos Jumat (28/8) di Kota Jayapura, berkisah dan mengenang masa-masa pilu itu. Ketika tempat usaha dan rumah mereka dibakar oleh sekelompok orang saat aksi demo.

Trauma masih terlihat jelas di raut wajah Rizal (31) pemilik usaha bengkel las di Entrop. Pria 31 tahun itu turut menjadi korban kerusuhan 29 Agustus lalu, tempat usahanya dibakar bersama ratusan tempat usaha lainnya. “Trauma sudah pasti. Namun semua itu sudah berlalu, yang penting saat ini kita aman-aman saja,” ucap pria yang baru saja melepas masa lajangnya itu.

Rizal berkisah, setahun lalu saat kerusuhan. Dirinya bersama karyawannya sedang berada di luar mengerjakan beberapa pesanan pelanggan, saat kembali ke bengkel lasnya. Tempat usaha yang dibangunnya bertahun-tahun itu telah terbakar.

Iapun mengalami kerugian hingga ratusan juta akibat kerusuhan tersebut, taka da harta benda yang bisa ia selamatkan kecuali dirinya sendiri yang selamat. “Saat itu, saya marah, kecewa dan perasaan-perasaan lainnya,” kisahnya.

Rizal mengaku akibat kerusuhan tersebut dirinya mengalami kerugian sekitar ratusan juta. Dari kerugian tersebut, ganti rugi yang dia dapatkan hanya 10 persen dari pemerintah. Lalu kembali membangun usahanya dari nol dengan modal yang dimiliknya.

“Kalau mengenang kisah itu sedih sekali mbak, kalau ada demo saya kerap merasa cemas dan khawatir jika hal serupa terulang lagi. Saya harap kejadian 1 tahun lalu tidak terulang lagi, kita harus hidup damai dalam keberagaman,” ucap pria yang sudah 13 tahun tinggal di Kota Jayapura.

Kisah lain juga datang dari Hasriani (54), pemilik warung makan yang turut menjadi korban kerusuhan 29 Agustus. Ibu tiga anak ini tidak hanya kehilangan warung makan, melainkan kios dan rumah yang dibangunnya sejak tahun 83 tahun silam ikut dibakar. Kesal, sudah pasti. Apalagi saat ini Hasriani belum bisa membangun kembali rumahnya dan memilih tinggal di rumah kontrakan bersama tiga anaknya.

“Hingga saat ini saya masih memiliki rasa trauma, sedih kalau diingat-ingat. Namun saya tidak mau jadi pendendam. Yang terpenting kota ini sudah aman dan bisa beraktifitas lagi,” ucap ibu 3 anak itu.

Kejadian setahun silam membuat wanita 54 tahun ini serba hati-hati, bahkan setiap kali ada demo ia memilih untuk tidak membuka warung makannya. Ia berharap aparat lebih tegas lagi dan mengamankan dengan baik kota ini, sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi.
Hasriani mengenang, saat kejadian dirinya sudah antisipasi memilih keluar dari kiosnya dengan bersembunyi di belakang kios. Tiba-tiba masa demo datang lalu melakukan pembakaran.

“Saat itu juga saya langsung lari ke arah gunung tanpa menyelamatkan barang berharga apapun, saya tidak menyangka separah itu. Hanya baju di badan yang saya selamatkan,” kenangnya dengan kelopak mata yang basah.

Hingga saat ini, ibu 3 anak itu masih mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk membangun kembali rumahnya. Pasalnya, ganti rugi yang ia dapatkan hanya 10 persen saja atau Rp 10 juta.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *