Jika terus Ada Penebangan, Kerusakan Tinggal Tunggu Waktu

Keindahan Pantai Mendug sampai Holtekamp yang difoto dari atas Jembatan Youtefa Kamis (27/8) kemarin. Keindahan pantai tersebut harus benar-benar dijaga sehingga tidak terjadi pencemaran ekosistem di kawasan tersebut. (FOTO :Noel Wenda/Cenderawasih Pos)

Ekosistem di Kawasan Pantai Mendug-Holtekamp yang Mulai Terancam

Kehadiran jembatan Youtefa memberi dampak yang luar biasa bagi pengembangan sektor ekonomi, pariwisata dan sebagainya, namun pembangunan juga mempunyai dampak negatif terutama dari sisi lingkungan. Bagaimana warga Kota Jayapura melihat hal ini?

Laporan: Noel Wenda

Selepas jempatan Youtefa mulai dari kawasan pantai Mendug-sampai menuju Holtekamp pemandangan sangat indah pantainya sangat menawan tak heran bermunculan pondok-pondok wisata di sepanjang jalan.

Pantai holtekamp diharapkan tidak hanya memiliki keindahan teluk yang yang panjang dengan bibir pantai dan pohon kelapa namun diharapkan memberikan kontribusi bagi masyarakat Port Numbay namun hal ini tidak terjadi karena banyak masyarakat asli memilih untuk menjual tanah yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengelola tempat wisata.

Akibat dari penjualan tersebut terlihat banyak hutan bakau pohon kelapa dan beberapa Apa ekosistem di wilayah tersebut dirusak demi pembangunan hal tersebut tentu akan merusak alam. “Saya menangis maka tidak bisa saya kasih tinggal tanah saya ini, kalau saya jual tanah habis baru kami punya anak-anak mau kemana?, kami hanya menjaga dan melindungi untuk anak anak kami,” ungkap salah satu warga pemilik Tanah, di Holtekamp Jemmy Merahabia.
Dia mengatakan sebagai anak asli Port Numbay dari kampung Nafri dia berpikir untuk tetap melestarikan setiap tumbuhan dan tanaman tanpa harus merusak ekosistem.

Melakukan proses penjualan tanah menurut dia itu merupakan hak setiap orang namun jangan sampai merusak tumbuhan yang sudah ada karena hal tersebut akan merusak ekosistem yang ada di wilayah pesisir seperti pohon kelapa melakukan pembatasan area yang jelas-jelas merusak suasana pantai dari dulu nya kelihatan asri kini malah terlihat batas-batas pantai dengan bangunan tembok yang seharusnya dibiarkan untuk dinikmati masyarakat.

Sementara itu, salah satu pengunjung Pantai Holtekamp Wali Wonda mengatakan untuk melindungi ekosistem di sepanjang Pantai Hamadi-Holtekamp pemerintah kota Jayapura diminta mengeluarkan satu aturan tentang pengelolaan wilayah pesisir pantai Holtekamp dan lainya agar tidak dilakukannya pembangunan secara besar-besaran di bibir pantai yang merusak alam setempat.

Menurutnya, jalan dan tempat wisata itu pemerintah harus menjaga dengan kondisi alam sekitarnya, jangan mengeluarkan izin bangun kios, toko, hotel dan lainya karena dampaknya merusak keasrian alam di wilayah itu.

Bahkan ia menyayangkan hingga ada penimbunana laut di daerah itu, yang seharaunya tidak perlu dilakukan. “Jika kelapa dan semua kayu tumbuhan yang menahan laut itu semuanya ditebang, dibakar, maka kerusakan ekosistem di kawasan tersebut tinggal tunggu waktu. Untuk itu ia berharap, Wali kota Jayapura segera keluarkan surat larangan atas semua pembangunan sepanjang jalan jembatan merah sampai ke Holtekamp.

“Kita sama-sama jaga pantai ini agar pantai ini dilindungi hanya untuk berwisata saja, jangan aneh – aneh, pemerintah harus buat master plann yang bagus bagi pantai ini sehingga masyarakat yang ada disana kita lindungi, buat mereka punya pendapatan disana,” katanya.

Sementara itu, Dosen Jurusan kelautan dan perikanan Efray Wanimbo S.Si., M.Si mengatakan, dewasa ini isu pencemaran sampah plastik dan botol menjadi isu yang sangat sensitif dan mendapatkan perhatian dari berbagai komunitas internasional maupun pemerintah dalam negeri.

Selain melarang pembuangan sampah di laut ia juga meminta agar pemerintah dapat mempertegas pembangunan yang dilakukan di sepanjang tahun tetap harus ditata sesuai dengan potensi wisata yang ada dengan tetap menjaga ekosistem yang ada di pesisir pantai dengan tidak menebang kelapa secara sembarang merusak hutan dan melakukan Pembangunan tanpa melakukan analisa dampak lingkungan. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *