Penganiayaan  di Jalan Safri Darwin dan  Trans Kimbim Dipolitisir

HONAI DIBAKAR: Sejumlah honai milik warga dibakar dalam bentrok antara warga Kampung kampung Meagama Distrik Hubikosi dan kampung Wukahilapok, Distrik Pelebaga, Kabupaten Jayawijaya, Rabu (19/8) kemarin. ( FOTO: Denny/Cepos)

SEMENTARA ITU pasca pembunuhan berantai yang terjadi, Selasa (18/8) lalu di Jalan Trans Kimbim dan Jalan Safri Darwin, Wamena, Kabupaten Jayawijaya yang memicu terjadinya bentrok antar warga kampung Meagama dan Kampung Wukahilapok, berkembang menjadi berita hoax di media sosial.

Hoax yang beredar di media sosial menyebutkan penganiayaan di Jalan Safri Darwin dilakukan warga non Papua. Kasus penganiayaan di Jalan Trans Kimbim juga dipolitisir di media sosial. Terkait merebaknya hoax terkait dua kasus penganiayaan yang mengakibatkan dua orang korban tewas yaitu Yairus Elopere di Jalan Safri Darwin dan Ismael Elopere di Jalan Trans Kimbim, Kapolres Jayawijaya, AKBP. Dominggus Rumaropen menyebutkan, ada pihak-pihak yang tidak menginginkan Jayawijaya aman.

Oleh sebab itu, pihak-pihak ini sengaja menciptakan berita bohong atau hoax yang kemudian disebarkan ke media sosial. Oleh sebab itu, Dominggus Rumaropen meminta masyarakat tidak terpengaruh dengan hoax yang beredar. Sebab, Kepolisian mempunyai alat bukti rekaman CCTV yang bisa membuktikan jika kasus pembunuhan berantai ini adalah bagian dari bentrokan dua kelompok warga dari Kampung Meagama dan Kampung Wukahilapok.

“Kami masih melakukan penyelidikan guna mengungkap pelaku penganiayaan yang mengakibatkan dua warga meninggal dunia. Kami juga punya 10 saksi dari masing-masing pihak yang sedang diupayakan untuk memberikan keterangan yang yang merujuk pada pelaku,”tegasnya Kamis (20/8) kemarin.

Ia juga menyatakan akan menindak tegas para pelaku yang menyebarkan berita bohong di masyarakat. Rumaropen menyebutkan, pihaknya akan terus melakukan analisa-analisa terhadap akun media sosial yang mengaja memposting berita tidak benar di Kabupaten Jayawijaya. Sebab kepolisian mempunyai bukti rekaman CCTV, baik penganiayaan yang terjadi di Jalan Trans Kimbim maupun yang terjadi di Jalan Safri Darwin.

“Dua kasus penganiayaan yang menyebabkan dua korban meninggal dunia di dua tempat berbeda itu hanya berkisar beberapa jam saja. Ini erat kaitannya dengan bentrokan dua kelompok warga yang hingga saat ini masih terus berlangsung saling menjaga satu sama lainnya,”beber Rumaropen.

Pihaknya masih terus mengantisipasi berita hoax ini dengan melakukan penyelidikan khususnya di sekitar kota Wamena. Rumaropen memastikan akan memproses pelaku yang membuat dan menyebarkan berita bohong terkait dua kasus penganiayaan ini.

Rumaropen juga memastikan bahwa dua kasus penganiayaan tersebut memicu terjadinya bentrok dua kelompok massa. “Kami telah mengkantongi 10 nama dari dua belah pihak untuk mediasi dibawa ke Polres Jayawijaya. Intinya hal ini dilakukan untuk meperkecil jatuhnya korban di dua belah pihak,” tutupnya. (jo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *