Mendengar Bahasa Isyarat Dari Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) di Tengah Pandemi Covid

Vany Woen terlihat serius ngobrol dengan Dewi, pendamping Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) di BTN Furia Kotaraja, Jumat (7/8) kemarin. (Gamel Cepos)

Ditelepon Malah Direject, Gelar Virtual Hanya Untuk Lucu – lucuan

Pandemi Covid 19 nyata mengganggu seluruh sendi kehidupan dan tak melihat siapa. Tak hanya bagi mereka yang normal tetapi juga yang memiliki kebutuhan khusus. Komunitas Tuli Jayapura punya cerita

Laporan : Abdel Gamel Naser

Agak sulit untuk menemui sosok Ketua Komunitas Tuli Jayapura,  Stephani Chrisma Lydia Woen. Pasalnya meski tergabung dalam satu grup di  Forum Komunitas Jayapura, ternyata Hp Android yang dimiliki mengalami trouble. Yah, tombol on off milik gadis kelahiran 1995 ini rusak sehingga tak bisa berkomunikasi via WhatsApp. Untungnya sebelum rusak, Cenderawasih Pos masih sempat berkomunikasi dan mengatur jadwal. Hanya lucunya ketika dihubungi pertelepon dan saat diangkat ternyata Hp tersebut langsung direject.

Tentu saja ini membuat kesal karena bukan dia yang menelepon. Namun setelah terdiam sejenak barulah tersadar jika wanita yang akrab disapa Vany ini ternyata memiliki kebutuhan khusus. Ia tuli sehingga jelas saja tidak bisa berbicara dengannya via telepon. Kalaupun mau menghubungi tentu diakali dengan video call namun harus menguasai Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia). Tentunya kami berdua juga tidak mau terlihat aneh hanya dengan menggerak-gerakka tangan sambil memutar mutar kulit wajah kami untuk menjelaskan tentang apa yang dimaksud.

Namun setelah dibantu oleh pendamping Komunitas Tuli Jayapura, Dewi akhirnya Vany bisa ditemui. Saat ditemui di perumahan Furia Kotaraja, kemarin, ia langsung meledek ketika pintu gerbang dibuka. Ia menyambut dengan tawa khasnya. Kamipun mulai ngobrol ringan dengan menanyakan kabar masing – masing hingga menanyakan soal isu  terkini menyangkut Pandemi Covid. Vany mengaku dalam pandemi covid 19 ini banyak hal yang berubah. Ia dan komunitasnya sangat berhati – hati untuk  melakukan kegiatan di luar  rumah. Alasannya cuma satu, takut tertular.

Vany menggunakan bahasa isyarat bahwa ia dan teman – temannya memilih lebih banyak berdiam diri di rumah sambil memantau perkembangan terkini. Ia  mengetahui jika saat ini ada banyak yang sudah terjangkit dan siapapun bisa terkena termasuk dirinya. Vany mengekspresikan bahwa Covid adalah penyakit yang patut diwaspadai karena akan menyerang pernafasan dan akhirnya meninggal. “Mereka paham soal covid dan selama ini terus memantau melalui media sosial, ya dia menganggap penyakit ini akan menyerang saluran pernafasan kemudian mengganggu paru – paru dan meninggal,” jelas Dewi menerjemahkan.

Vany menyampaikan bahwa terkadang ia harus keluar rumah untuk belanja namun setelah itu ia langsung kembali ke rumah dan tidak kemana – mana lagi. Ia sendiri kini terlihat lebih putih setelah memotong habis rambutnya. Nah selama di rumah yang lebih sering dilakukan adalah mengutak atik internet di komputernya untuk mencari kabar terbaru dari Surya Sahepaty, sosok influencer bagi komunitas tuli terkait apa saja yang bisa dilakukan disaat pandemi begini.

“Surya ini panutan mereka setelah anaknya Dewi Yull  yang cewek meninggal. Mereka mencari tahu apa perkembangan informasi yang berkaitan dengan komunitasnya,” beber Dewi.

Vany sendiri pernah melakukan diskusi virtual lewat aplikasi zoom bersama teman – teman KTJ nya. Ketika itu aplikasi zoom ini baru mulai dikenal dan ia sempat ngobrol dengan teman – temannya setelah cukup lama tak bertemu. “Senang sekali bisa bertatap muka meski hanya via zoom, tapi saat itu anak – anak (teman – teman) malah seperti tidak serius karena kami memang tidak ada  topik yang mau dibahas. Hanya menanyakan kabar masing – masing kemudian sibuk lucu lucuan karena ada teman yang coba masuk gagal terus,” celoteh Vany dengan mimik yang sedikit aneh.

Iapun juga menyampaikan bahwa selain berdiskusi dengan teman – teman sesama anggota komunitas. Ia juga sering mengikuti webinar namun dalam bentuk ibadah. Hanya menariknya meski beribadah dengan mereka yang tak memiliki kebutuhan khusus dalam webinar ini ternyata disiapkan penerjemah sehingga ia tak perlu bingung – bingung mengikuti materi ibadah.  “Ia untuk webinar ini dilakukan dengan teman – teman yang ada di Jakarta tapi tidak hanya yang normal melainkan ada juga beberapa yang tuli dan disitu ada penerjemahnya dan itu sangat membantu,” jelasnya.

Ini diakui berbeda dengan ibadah yang dilakukan di gerejanya dimana ia harus dibantu oleh snag adik untuk menerjemahkan apa yang disampaikan pendeta. “Adik saya yang membantu menerjemahkan dan selebihnya saya hanya dia dan mangut mangut,” tuturnya. Ia juga berharap covid bisa segera usai agar aktifitas berjalan normal. “Kami juga tidak bisa apa – apa. Mau kesana kemari  takut dan teman – teman juga bingung karena sekolah juga tidak aktif. Kami berdoa ini bisa segera normal kembali,” pungkasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *