Harus Koordinasi dengan Orang Tua karena Pendampingan Sangat Dibutuhkan

TANPA TATAP MUKA: Ade Putri Sarwendah saat mengajar murid berkebutuhan khusus secara daring di SLB Negeri Balikpapan kemarin.

Ketika Pelajar Berkebutuhan Khusus Juga Dituntut Belajar secara Daring

Para guru SLB harus mengajarkan pula materi kemandirian yang mestinya disampaikan secara tatap muka karena butuh artikulasi. Murid tunagrahita tak boleh dipegangi gawai karena justru akan membuat mereka membatasi diri dari dunia luar.   

OKTAVIA MEGARIA, Balikpapan, Jawa Pos

DENGAN panggilan video, perempuan itu tak hanya membacakan materi pelajaran lengkap dengan bahasa tubuh. Sementara di seberang sana, seorang bocah menyimak.

’’Anak-anak ini harus bisa artikulasi. Jadi, harus dilakukan satu per satu agar fokusnya tidak ke mana-mana,” ujar Ade Putri Sarwendah, perempuan tersebut, di sela kegiatannya mengajar secara daring kepada Kaltim Pos kemarin.

Ade adalah salah seorang guru di SLB Negeri Balikpapan, Kalimantan Timur. Seperti guru-guru lainnya di masa pandemi Covid-19 ini, Ade juga mesti menyampaikan materi ajaran secara daring.

Kata perempuan 30 tahun itu, dalam seminggu, dia mengajar sekitar dua hingga tiga kali. Kepada delapan siswa tunarungu, yang masih duduk di kelas I sekolah dasar. Satu anak memerlukan waktu belajar secara daring sekitar 10 sampai 15 menit.

Jika belajar daring sekolah umum dilakukan secara beramai-ramai, Ade menyebut para muridnya tidak bisa seperti itu. Sistem kombinasi pun dilakukan. Selain pertemuan secara daring, dia memberikan bahan untuk dipelajari murid. Diantarkan langsung ke rumah murid maupun diambil orang tua di sekolah.

Untuk anak berkebutuhan khusus, Ade menyebut tak hanya akademik, tetapi juga ada materi kemandirian diri. Padahal, mestinya materi pembelajaran tersebut disampaikan dengan tatap muka untuk menguatkan artikulasi anak didik. Namun, apa boleh buat, pandemi membuat pengajaran tatap muka belum bisa dilakukan demi mencegah rantai penularan virus korona.

’’Karena itu, pendampingan orang tua amat sangat diperlukan di sini. Untuk waktunya, kami saling berkoordinasi saja,” sebutnya.

Kepala SLB Negeri Balikpapan Mulyono menambahkan, sistem daring memang perlu evaluasi matang. Khususnya bagi para murid sekolah yang berlokasi di Jalan Syarifuddin Yoes, Balikpapan Selatan, itu.

Dia mengungkapkan, tidak hanya soal cara memberikan materi, ekonomi pun menjadi persoalan. Setidaknya sekitar 70 persen saja yang mampu menjalani sistem daring.

Dia mengatakan, beberapa anak tidak memiliki gadget atau gawai. Mereka juga memang tidak diperkenankan mengoperasikannya.

Salah satunya yang harus dijauhkan dari gawai adalah murid tunagrahita atau autisme. Mulyono menyebutkan, pelajar dengan keterbatasan itu akan jadi kecanduan jika diberi gawai. Buntutnya, bukannya mengembangkan kemandirian karakter, dia malah akan semakin membatasi diri dari dunia luar.

Selain itu, pada periode pengajaran Juli–Desember, pihaknya memberikan bantuan kuota internet Rp 50 ribu. Sedangkan yang tidak diberi bantuan akan didatangi guru langsung. ’’Kami adakan sistem home visit juga. Jadi, murid yang tidak bisa daring akan dikunjungi guru sesuai jadwal,” ungkapnya.

Dia berharap ada bantuan untuk para guru yang melaksanakan home visit. Atau jika memungkinkan, bantuan gawai bagi peserta didik yang memiliki keterbatasan ekonomi. (rom/k15/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *