Jangan Tarik Uncen Untuk Terlibat Dalam Kepentingan Politik Tertentu

Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT

JAYAPURA –  Insiden kartu merah yang diberikan seorang mahasiswa berinisial LK kepada Rektor Uncen, Dr Ir Apolo Safanpo ST MT pada aksi demo Senin (3/8) kemarin memantik komentar dari pengamat sosial politik Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung. Dosen fisip yang kerap membuat status keras di media sosial ini menganggap apa yang dilakukan LK adalah perbuatan tak terpuji. Ia meminta oknum mahasiswa tersebut mendatangi rektor dan mengajukan permohonan maaf sebab sebagai dosen, dirinya tidak segan segan melakukan ultimatum kepada LK.

“Datangi dan sampaikan permohonan maaf. Rektor sudah berbaik hati untuk memaafkan dan saya pikir perbuatan seperti itu sangat tidak pantas,” beber Yaung kepada Cenderawasih Pos, Selasa (4/8). I amenyebut silahkan mahasiswa dan aktivis menyampaikan aspirasi di ruang publik tetapi  ingat, jangan memaksakan kehendak. Jangan memaksakan Uncen sebagai institusi pendidikan untuk terlibat atau terseret ke dalam politik praktis dengan kepentingan politik tertentu yang sementara sifatnya,” tegasnya.

Ia menganggap jika ingin mencari sensasi seperti yang dilakukan ketua BEM UI, Zaadit Taqwa maka dianggap belum kelasnya. Jadi ia meminta jangan memaksa Uncen untuk terlibt dalam politik praktis apalagi memaksa dan meneror pimpinan Uncen untuk tunduk dan mengikuti kepentingan dan agenda politik Papua merdeka. “Apa-apaan itu, demo kok memaksa. Jangan seret Uncen kedalam pusaran konflik kepentingan kelompok pro Papua merdeka harga mati dan kelompok Pro NKRI harga mati. Harus cerdas dan  memahami dulu,” sindirnya.

Ia berpendapat bahwa Uncen sebagai institusi harus dibebaskan dari politik kuda tunggangan kedua kubu ideologis ini. Yaung mengatakan bahwa selama ini ada banyak kejadian yang memaksa ia dan rektor harus memasang badan demi mahasiswa Uncen. Hanya itu tak harus diberitahukan kepada publik. “Kami berdua paling  sering berkomunikasi dan pasang badan untuk melindungi banyak mahasiswa Uncen dari jeratan hukum. Ada banyak hal yang kami lakukan dan tidak perlu kami publikasikan. Kami lakukan ini karena dasar kasih sayang yang Yesus Kristus ajarkan dan wariskan buat kami,” jelasnya.

Dari statemen dan kebijakan yang dikeluarkan diakui tak sedikit yang justru mengirimkan pesan ancaman. Dari ancaman yang sifatnya biasa hingga pesan ancaman untuk membunuh. “Kalau pesan – pesan mengancam ini kami sudah sering,  mulai yang biasa hingga mau membunuh tapi kami tanggapi biasa. Kami melihat itu sebagai bahan koreksi dan masukan buat kami jadi kami juga meminta mahasiswa juga jangan memaksakan kehendak,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *