Di Era Milinial, Keluarga Kristen Hadapi Sejumlah Tantangan

Kaum ibu dari 17 Jemaat Klasis Konda Wilayah Toli sedang megikuti kegiatan seminar dengan tema Keluarga Kristen di Aula GIDI Karubaga Rabu (29/7) pekan kemarin.

KARUBAGA-Keluarga adalah wadah/kelompok terkecil yang membangun sebuah masyarakat, namun keluarga juga mengalami tantangan yang paling besar seiring dengan perkembangan zaman di era milenial ini. Angka kasus perceraian dan rumah tangga dengan orang tua tunggal terus meningkat. Kondisi ini semakin nyata di hampir  semua daerah baik di kota-kota besar maupun didaerah pelosok pedesaan.

   Hal tersebut ditegaskan Ketua Wilayah Toli Gereja GIDI Pendeta Marthen Jingga,STh dalam pemamparan materi Seminar Kaum Ibu Gereja GIDI Klasis Konda yang digelar di Aula GIDI Karubaga Rabu,29/07/2020 kemarin.

  Menurutnya peningkatan angka perceraian berujung pada meningkatnya jumlah orang tua tunggal, berdampak pada generasi penerus (anak-anak). Hilangnya figur ayah atau ibu pada anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal akan mempengaruhi perkembangan kepribadian dan psikologis anak. Situasi ini menjadi tantangan semakin besar di dalam keluarga Kristen.

  Karena selain pergumulan untuk menjaga keutuhan dan keintiman, keluarga Kristen juga menghadapi tantangan untuk tetap menjaga nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan di tengah perubahan budaya dan gaya hidup modern saat ini. Kuatnya arus perubahan budaya dan gaya hidup ini tanpa terasa mulai mengguncang nilai-nilai dan tujuan keluarga yang ditetapkan Allah pada mulanya.

  “Pandangan relatifisme yang berkembang di masyarakat modern akhir-akhir ini, secara perlahan mulai masuk ke dalam keluarga. Pandangan ini mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada hal yang absolut, termasuk nilai kebenaran Firman Tuhan. Hal ini menjadi ancaman serius terhadap iman Kristen, terutama pada keluarga-keluarga Kristen,”ujar Pdt. Marthen Jingga

  Dikatakannya meningkatnya angka perceraian tinggi akhir-akhir ini,akibat keputusan untuk berpisah/bercerai mulai menjadi opsi yang dianggap terbaik, bahkan tidak jarang mendapatkan dukungan. Komitmen di dalam janji nikah bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral, tapi lebih kepada seremonial. Itu sebabnya ketika Yesus mengatakan, “Apa yang dipersatukan Allah, tidak dapat dipisahkan oleh manusia, bukanlah suatu perintah yang tanpa alasan. Sebagai orang percaya, kita harus selalu mengingat komitmen yang kita ucapkan di dalam janji nikah kita.”tegasnya.

  Pdt. Marthen Jingga berharap kepada Keluarga Kristen untuk selalu hidup melekat kepada Tuhan, Sang Pokok Anggur itu, agar keluarga kita dapat menjadi keluarga yang tumbuh dengan baik dalam kebenaran Firman Tuhan serta menghasilkan buah. “Kita perlu memiliki kerelaan untuk dibentuk dan dibersihkan oleh Tuhan sebagai sebuah keluarga.”ujarnya. (Diskominfo Tolikara)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *