Pengurus Dewan Kesenian Diminta Melibatkan Keterwakilan 10 Kampung

George Awi (Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Pelantikan pengurus Dewan Kesenian Kota Jayapura  lalu yang dilakukan Ketua Dewan Kesenian Papua, Nomensen Mambraku  mendapat  catatan dari Ketua LMA Port Numbay, George Awi. Ia sedikit kecewa melihat struktur yang dibentuk mengingat pengurus yang ada tidak menjawab keterwakilan 10 kampung yang di Kota Jayapura. Ia sendiri secara tegas menolak ditempatkan sebagai pelindung ataupun penasehat dalam kepengurusan Dewan Kesenian Kota Jayapura.

“Jelas saya tolak karena beberapa hal. Pertama pembentukan pengurus ini tidak pernah melibatkan 12 keondoafian di Jayapura dan yang mengisi pengurus kebanyakan orang birokrat, apakah tak ada orang di luar birokrat yang memahami soal kesenian?,” beber George Awi saat ditemui di kediamannya, Selasa (28/7). Selain itu mengapa harus berkoordinasi dengan ondoafi karena menurut Awi adat, seni dan budaya di kampung itu dimiliki oleh para ondoafi sehingga tidak bisa dewan kesenian asal masuk tanpa diketahui oleh para ondoafi.

“Saya juga bingung itu siapa yang memasukkan nama saya dalam struktur, harusnya bicara dulu,” beber Awi. Selama ini adat, seni da budaya menurutnya menjadi sesuatu yang sudah mengakar dan menjadi identitas masyarakat di kampung dan kesenian kata Awi sejatinya ada tuannya sehingga sepatutnya ada bahasa yang diketahui para tokoh. Tidak bisa hanya menganggap bisa kemudian memasukkan ke dalam struktur. “Lalu yang mengisi struktur pengurus banyak birokrasi, mengapa tidak  mengambil Jimmi Affar yang menguasai batik, Agus Ohee yang menguasai ornamen dan ukiran. Seharusnya mereka – mereka ini yang dimasukkan,” katanya.

Ia sendiri menyatakan keberlangsungan seni dan budaya di kampung memang tidak diajarkan secara langsung ke masyarakat melainkan secara lisan dan normal disampaikan para ondoafi dan itu diterjemahkan. Ini bentuk lain  untuk menjaga eksistensi dan melestarikan seni budaya itu sendiri. “Bentuknya untuk menjaga biasanya  melalui kegiatan – kegiatan kebudayaan, ritual dan upacara adat. Ini satu upaya untuk menularkan kepada generasi berikutnya tanpa pembelajaran secara formal,” imbuhnya. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *