Covid Pembawa Petaka Kapan Berakhir?

Suasana aktivitas pedagang di Pasar Lama Sentani, Senin (27/7). Sejak Covid-19, jumlah pembeli ke pasar menurun drastis. (Robert Mboik/Cepos) 

Pasar Lama Masih Sepi pengunjung

SENTANI-“Corona pembawa sial, entah kapan berakhir.” Itulah ungkapan ibu Ratih, seorang pedagang di Pasar Lama Sentani, saat ditemui media ini, Senin (27/7) pagi.

Wabah Covid-19 yang melanda dunia belakangan ini telah membawa mimpi buruk yang begitu besar bagi masyarakat terlebih khusus bagi para pelaku usaha. Dampak buruk ini juga kini melanda para pedagang kecil yang ada di Pasar Lama Sentani. Kawasan pasar yang sempat diisolasi oleh pemerintah daerah karena menjadi pusat awal penemuan kasus positif Covid-19 di Kabupaten Jayapura, kini para pedagang mulai kembali beraktivitas normal.

Namun para pedagang yang hanya menempati los di pinggir jalan sepajang Jalan Mambruk itu masih dibayangi oleh kekawatiran. Pasalnya, jumlah pembeli masih sangat sedikit.

Ibu Ratih, salah satunya yang sudah belasan tahun berjualan di Pasar Lama Sentani. Harapannya untuk bisa mengais rupiah guna menghidupi keluarganya, terasa berat. Karena nyatanya penghasilanya tidak lagi selaris dan semanis dulu sebelum wabah Covid ini ditemukan di wilayah itu.

“Mungkin orang masih trauma datang ke sini, sehingga mereka tidak mau belanja sayuran atau kebutuhan dasar lainnya di sini. Corona pembawa sial, entah kapan berakhir,” tuturnya.

Ibu Ratih hanya satu dari sekian kaum ibu non OAP yang sampai saat ini masih setia dan bertahan menjaga lapaknya. Ada juga Mama-mama Papua yang menjual sirih pinang, sagu, ikan mujair dan aneka jenis jualanya. Mereka juga mengalami nasib yang sama dengan apa yang dialami ibu Ratih.

Sebelum Covid melanda, pasar itu memang menjadi salah satu pilihan warga untuk berbelanja barang-barang kebutuhan pokok. Akibatnya label macet di Pasar Lama begitu melekat dihati warga. Bahkan saking ramainya, kadang para pedagang biasanya sedikit nekat. Mereka memilih berjualan ikan, sayuran dan lainya berjejer di pinggir jalan. Keselamatan tentunya tidak lagi mereka pedulikan.

“Ya mungkin karena di sini strategis, pengunjung juga banyak. Karena biasanya yang mau beli tidak turun lagi, mereka langsung tawar dan beli. Meski ada risiko tapi mau bagaimana. Tapi hari ini su beda, setelah corona” kata Akleus, seorang penjual ikan Mujair dengan dialek khas Papuanya.

Pantauan media ini, saat ini, untuk lalulintas kendaran, baik roda dua maupun roda empat di jalan itu tidak pernah berkurang dan jarang sekali terjadi kemacetan di sana. Meski lalulintas kendaraan ramai, jumlah pengunjung kepasar tak lagi seramai sebelum Covid-19. Akibatnya lapak jualan warga banyak yang terlihat lengang karena sepi pengunjung. Warga berharap, pemerintah bisa membantu mereka, melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas, mengenai situasi dan kondisi serta status terkini warga yang tinggal di Jalan Mambruk Pasar Lama itu. Karena jika tidak, bisa saja publik masih menilai, komplek pasar lama masih masuk zona merah penyebaran Covid 19.

Alasan inilah yang membuat pembeli di pasar itu turun drastis.

“Mungkin hanya sekira 30 persen saja sehari dari normalnya. Kalau sudah begini siapa mau help,” ujarnya sembari tertawa. (roy/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *