Peluru Aparat Jangan Justru Lahirkan Gejolak

Frits Ramandey (Elfira/Cepos)

JAYAPURA –  Kepala Komnas HAM Republik Indonesia Perwakilan Papua, Pnt Frits Ramandey berpendapat bahwa dalam penanganan   keamanan di Papua disarankan untuk tidak selamanya mengedepankan kontak senjata. Ada banyak kejadian yang belum terurai secara baik alias masih menyisakan bekas luka sehingga bila salah penanganan maka yang terjadi hanyalah memperpanjang catatan duka tersebut.

Frist mengingatkan bahwa untuk Papua tahun ini ada pesta Pilkada di 11  kabupaten, jangan sampai insiden dari peluru aparat justru menimbulkan gejolak yang berakhir dengan terganggunya Pilkada. “Niatnya mungkin baik, mengamankan agar tak ada ganguan tapi justru dari tindakan itu yang biasanya memancing situasi. Yang perlu diingat bahwa setiap insiden biasanya ada aksi balasan dan jangan sampai gejolak ini muncul di tengah proses pemilu tadi,” wantinya.

Alhasil niat untuk mengamankan kepentingan negara justru memberi dampak pada kacaunya agenda negara itu sendiri. Yang perlu diingat kata Frits adalah seluruh tindakan aparat selalu mewakili negara. Itu karena aparat menyandang jabatan dan menggunakan fasilitas serta difasilitasi oleh negara.  Dan aparat negara selalu berdalih bahwa yang dilakukan adalah untuk kepentingan negara. “Nah kalau dengan alasan ini justru muncul kekacauan, siapa yang akan disalahkan,” sindirnya.

Ia meyakini dari setiap tindakan kekerasan baik yang menggunakan senjata maupun tidak, hanya akan menimbulkan trust yang buruk terhadap negara apalagi hingga kini masalah Nduga belum  terselesaikan. “Masih ada soal pengungsi dan beberapa kejadian lainnya. Harusnya kalau mau  menyelesaikan kejadian kejadian disana itu lebih humanis dan terukur agar tidak menimbulkan ekses. Jadi sekali lagi ini mau Pilkada, jangan sampai peluru aparat justru melahirkan gejolak,” wantinya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *