DPRD Sebut Sipil, TNI Sebut KKSB

Ilustrasi

Terkait Dua Orang yang Meninggal Diduga Ditembak di Nduga

JAYAPURA- Pasca insiden penembakan yang menewaskan anak dan ayah di Kabupaten Nduga yang diduga dilakukan oleh oknum TNI pada Sabtu (18/7). Berbagai pihak menyayangkan tindakan tersebut.

Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Nduga, Ronald Kelnea menyayangkan kejadian ini, menurutnya, dua warga yang ditembak oknum TNI bukanlah simpatisan kelompok Egianus Kogoya. Namun, keduanya adalah petani yang sedang dalam perjalanan  ke Kenyam ibu Kota Nduga. “Mereka anak dan bapak, mereka warga sipil murni, bukan bagian dari TPN-OPM,” tegas Ronald saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui  telfon selulernya, Senin (20/7).

Ronald juga membantah jika keduanya membawa senjata, sehingga mereka ditembak. Padahal, keduanya dari kebun dan hendak ke Kenyam. “Kita sangat menyesalkan kejadian ini, sikap TNI-Polri selalu  membunuh sipil yang tidak tahu menahu persoalan. Kalau Egianus Kogoya iya memang anggota TPN-OPM murni, namun yang dibunuh ini waga sipil,” cercanya.

Menurutnya, seharusnya aparat jangan asal tembak. Namun, bertanya dulu terlebih dahulu. Apalagi jika posisi mereka tidak membahayakan. Dengan peristiwa ini, adanya kecurigaan yang berlebihan dari TNI. Sehingga menembak  warga sipil tanpa bertanya terlebih dahulu.

“Insiden ini menambah rasa trauma bagi warga yang ada di Kabupaten Nduga,” ungkapnya.

Kematian ayah dan anak lanjut Ronald, menambah catatan kelam bagi kematian orang papua terutama yang ada di Kabupaten Nduga. Hingga saat ini, total sebanyak 258 warga sipil tewas  dibunuh aparat di Kabupaten Nduga sejak peristiwa Istaka Karya Desember 2018 silam. “Pancasila bagian Sila Kedua dan seterusnya  tidak berlaku di Nduga, nilai-nilai kemanusian yang beradap tidak pernah  terjadi di Nduga,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Papua Language Institute, Samuel Tabuni meminta Otsus dan pembangunan dihentikan dulu. Serta mengakhiri konflik, dengan cara negara menyatakan perang terbuka terhadap OPM. Hal ini agar warga yang di gunung tidak persoalkan lagi.

“Kita akhiri konflik ini, cara mengakhirinya tergantung pemerintah. Mau melakukan  perang terbuka terhadap OPM atau bagaimana? Supaya kita tidak  persoalkan lagi ketika ada warga sipil yang dibunuh sejak 2 tahun terakhir ini,” paparnya.

Menurut Samuel, ini bukan kali pertama sipil meninggal dunia akibat ditembak aparat. Namun sudah sering, bahkan sejak dua tahun terakhir ini. “TNI-Polri  harus tau mana yang harus ditembak mati, apakah yang bersangkutan membahayakan anggota saat itu. Namun membahayakanpun senjata itu paling terakhir, kenapa gampang sekali membunuh orang papua,” tegasnya.

Secara terpisah Kapen Kogabwilhan 3 Kolonel  CZI Gusti Nyoman Suriastawa menegaskan bahwa dua orang yang meninggal merupakan anggota KKSB kelompok Egianus Kogoya.

“Mereka bagian dari KKSB  kelompok Egianus Kogoya, bukan sipil,” tegas Gusti saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Senin (20/7).

Ia menerangkan, tewasnya dua anggota KKSB tersebut pada Sabtu (18/7) sekira pukul 15.00 WIT. Dimana dilakukan penghadangan oleh Tim Satgas Pamtas Yonif PR 330/TD terhadap 2 orang KKSB kelompok Egianus Kogoya di Kenyam.

Penghadangan tersebut dilakukan dengan menggunakan teropong senjata SPR 1 AW sedang melaksanakan transaksi penyerahan senjata jenis pistol. Kedua anggota KKSB tersebut sempat  bergabung dengan sekelompok masyarakat yang akan menyeberang sungai dari arah Tawelma menuju ke arah Quari atas Kampung Genit, kemudian menyeberang bersamaan dengan masyarakat.

“Setelah menyeberangi sungai masyarakat langsung dijemput oleh mobil pikap menuju Kenyam, tetapi kedua orang KKSB tersebut tidak ikut naik mobil pikap,” terangnya.

Tim menurutnya terus melakukan pemantauan terhadap keduanya hingga dilakukan penembakan yang berakhir dengan keduanya meninggal dunia. Didapat barang bukti berupa senjata pistol jenis Revolver dengan nomor senjata S 896209 dan barang bukti lainnya.

“Barang bukti yang diamankan dari keduanya yakni pistol jenis Revolver nomor senjata S 896209  satu pucuk, handphone milik prajurit yang sempat dirampas pelaku sebulan yang lalu, tas dua buah, parang, kampak dan uang tunai Rp 9 jutaan,” jelasnya.

Atas kejadian ini, pimpinan TNI meminta seluruh personel Satgas Pamtas penyangga Yonif PR 330/TD diminta untuk  meningkatkan kewaspadaan di titik kuat masing masing dan melaksanakan siaga tempur. Sebab, pergerakan KKSB bergabung dengan masyarakat sebagai tameng.“Yang namanya menganggu kemanan negara harus dikejar,” tegasnya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *