Kalau Pengunjung Sudah Padat, Kami Langsung Batasi

Penerapan protokol kesehatan, pengunjung di Waroeng Komrof, Kamis (16/7) kemarin. (Elfira/Cepos)

Melihat Penerapan Protokol Kesehatan di Café-cafe

Sudah sekian bulan dan pandemi Covid-19 rupanya belum juga reda. Hebatnya, di tengah situasi yang sedang tidak baik ini. Banyak pelaku usaha cafe sudah berdamai dengan keadaan. Bahkan, melahirkan begitu banyak inovasi yang cocok dengan keadaan sekarang ini.

Laporan-Elfira

Jika mau membuka tempat usaha saat ini maka diperlukan aturan atau batasan ketat sesuai protokol kesehatan. Termasuk para pengunjung di café-café khsusnya yang ada di Kota Jayapura juga mengalami perubahan kebiasaan ngopi. Hebatnya, kebiasaan nongkrong di café sembari ngopi santai justru menjadi titik cerah di tengah mendung pandemi yang tak jelas kapan selesainya.

Kita lihat saja, di setiap Café atau rumah makan. Tempat cuci tangan diletakan di depan pintu masuk. Para karyawannya memegang alat pengukur suhu, setiap pengunjung diukur suhu tubuhnya dan wajib menggunakan masker.

Pandemi memang menguji banyak lapisan termasuk pelaku usaha café. Namun, dibalik ujian itu ternyata pandemi memberi kebiasaan  baru yang positif  ketika nongkron di café.

Samsia seorang pengelola kafe Kaka Idola  yang berlokasi di Jalan Pantai Hamadi menyampaikan, di café mereka yang aktif sejak 20 hari lalu pasca pembatasan waktu dilonggarkan, tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Pengunjung yang datang ke sini, makan baru mereka buka masker. Kalau masuk harus wajib menggunakan masker. Bagi pengunjung yang tidak menggunakan masker, disuruh pulang ambil masker baru diperbolehkan masuk, kebetulan kami tidak menyediakan masker,” ucap Samsia disela-sela aktivitasnya membereskan café Kamis (16/7) siang.

Café Kaka Idola yang berlokasi di Jalan Pantai Hamadi ini beroperasi sejak Januari 2020, berkonsep Bali dan Papua. Bergapurakan ukiran Asmat, sementara di dalam lokasi menggunakan kain-kain atau payung motif bali.

Samsia tak memungkiri, imbas dari Pandemi begitu terasa bagi usaha mereka. Omset yang turun drastis, pemasukan yang ratusan juta per bulan kini berubah menjadi Rp 2 juta perharinya. Begitu juga pada pekerja lepas di tempat mereka. “Jangankan ratusan juta, setengahnya saja tidak,” ucapnya sembari tersenyum kecil.

Sedang di Waroeng Komrof mereka juga menerapkan protokol kesehatan, anjuran pemerintah diterapkan. Menyediakan tempat cuci tangan, pengukur suhu, pengunjung wajib menggunakan masker. Bahkan, membatasi jumlah pengunjung.

“Kalau pengunjung sudah padat, kami batasi. Mereka harus menjaga jarak,” ucap Ester yang merupakan owner dari Waroeng Komrof.

Waroeng Komrof sendiri didirikan di tepi pantai, semua aksesoris di Waroeng tersebut menggunakan daur ulang sampah. Bahkan, tempat nongkron bagi para pengunjung menggunakan perahu bekas nelayan yang tidak lagi difungsikan lagi oleh nelayan.

Sementara itu, salah satu pengunjung Achel di Waroeng Komrof menyampaikan ia tahu dengan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Misalkan menggunakan masker saat dirinya bepergian atau ke tempat keramaian.

Pemuda yang juga aktif di lingkungan ini tahu membentengi dirinya, apalagi saat ke tempat keramaian. Masker wajib ia gunakan, dan mencuci tangan setiap kali memegang benda apapun itu.

Namun ia menyayangkan, masih ada warga yang ke lokasi wisata atau café tidak menggunakan masker. Bahkan, hingga tak menjaga jarak. “Sebagian dari masyarakat kita memang kepala batu, padahal  hanya disuruh menggunakan masker dan itu untuk kesehatan keselamatan mereka,” keluhnya. Ia justru melihat tempat-tempat wisata yang gencar mengikuti anjuran pemerintah. Menyediakan tempat cuci, alat pengukur suhu. Namun, semua itu kembali ke pengunjung itu sendiri.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *