Selama Tidak Disiplin Jalankan Prokes, Risiko Terkena Covid-19 Sangat Besar 

Ketua tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura Ir.H.Rustan Saru, MM., memberikan arahan kepada pedagang Pasar Youtefa, ketika mendatangi kantor wali kota Jumat (10/7) lalu.Priyadi/Cepos

Melihat Kebijakan Pemkot Jayapura di Tengah Relaksasi Menuju New Normal

Meski kasus Covid-19 Kota Jayapura belum juga teratasi, namun di satu sisi pemerintah sudah melakukan relaksasi untuk menuju new normal Lantas bagaimana pendapat Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura?

Laporan: Priyadi

Pemerintah Kota Jayapura melalui Tim Gugus Covid-19 Kota Jayapura sudah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin dalam memutus penyebaran Covid-19 Kota Jayapura dan membantu merawat pasien yang terkena Covid-19. Segala daya dan upaya yang dilakukan ini sudah dilakukan sekira 4 bulan ini.

Namun, sampai sekarang kasus penyebaran Covid-19 masih terlihat angkanya tinggi karena Tim Gugus Tugas aktif dalam melakukan penjaringan rapid test massal untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dilakukan di pasar, terminal dan pelayanan publik karena memang di sana tempat berkumpulnya orang, jika tidak dilakukan rapid test massal di tempat-tempat itu ditakutkan penyebaran Covid-19 tak terbendung lagi. Walaupun di kabupaten lain di papua sampai saat ini dalam melakukan rapid test belum tidak terus digalakan.

  Di Kota Jayapura sendiri Tim Gugus Tugas sudah melakukan rapid tets massal kurang lebih 23 ribu orang, sehingga wajar jika ada kasus Covid -19 secara data akumulatif bisa sampai 1000 lebih, dan yang dirawat ada ratusan, walaupun demikian, keberhasilan tim Gugus Tugas juga luar biasa dari 1000 lebih pasien Covid-19 kasus kematian saat ini 14 orang.

Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura Ir.H.Rustan Saru, MM., menjelaskan, walaupun kasus Covid-19 Kota Jayapura terbesar di Papua ini bukan suatu kemunduran atau kegagalan tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura, tapi ini suatu upaya yang memang harus dilakukan dalam menyelamatkan warga Kota Jayapura dalam penyebaran Covid-19, jika sampai pemerintah malas tahu tidak mau melakukan rapid test dan ada warga yang malas tahu atau tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan tentu kasus penyebaran Covid-19 sangat luar biasa bisa seperti di negara China, Italia atau amerika, jadi dengan adanya rapid test massal hasilnya banyak warga yang positif walaupun dinyatakan Orang Tanpa Gejala ini tidak jadi masalah, malah ini mudah disembuhkan jika diobati, tapi sebaliknya jika yang positif ini orang Lansia atau punya riwayat sakit tentu untuk penyembuhan cukup sulit bahkan bisa menyebabkan kematian.

“Salah satu cara memutus mata rantai penyebaran Covid-19 menerapkan protokol kesehatan ini adalah kunci utama kedua, harus mau taati anjuran, instruksi dan himbauan pemerintah serta tetap selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,’’jelasnya.

Diakui, saat ini seharusnya di Kota Jayapura sudah jadi zona hijau penyebaran Covid-19 karena sudah dalam penanganan selama 4 bulan, tapi kenyataannya masih banyak yang positif karena warga banyak yang tidak disiplin dan malas tahu, namun jika relaksasi tidak dilakukan tentu perekonomian warga akan semakin hancur, karena virus Corona dan perekonomian harus bisa diatasi dengan arif dan bijaksana oleh pemerintah.

  Pemerintah melakukan relaksasi tujuannya adalah supaya meningkatkan kembali perekonomian warga, karena jika dibiarkan seperti ini warga tentu akan semakin mengeluh dan banyak yang menjerit. Oleh karenanya, dengan adanya relaksasi ini warga wajib menerapkan protokol kesehatan, jika tidak mau tentu akan semakin mudah terkena virus Corona, karena ini juga seperti seleksi alam siapa yang imunitasnya kuat dan mau menaati protokol kesehatan tetap ia akan terhindar dari virus Corona.

   Dijelaskan, pemerintah melalui Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura telah menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit sudah lebih Rp 18 miliar, jika warga masih tidak  mau ikuti anjuran pemerintah kasus Covid-19 masih banyak, tempat tidak muat, dana tidak ada lagi, tentu  kebijakan terakhir warga yang positif Covid-19 harus melakukan perawatan diri tidak lagi ditanggung pemerintah.

Dan ini sudah akan dilakukan Pemerintah Kota Jayapura, karena dalam penanganan Covid-19 Kota Jayapura berdasarkan instruksi wali kota hanya sampai bulan Agustus 2020, jika sudah melewati bulan Agustus tempat penyewaan warga Covid-19 yang dilakukan karantina di Hotel Sahid dan Muspagco sudah tidak diperpanjang lagi, karena sudah tidak ada dananya, kemungkinan besar warga harus dilakukan karantina mandiri di rumah masing-masing dan masih dalam pantauan pemerintah.

“Kendala selama ini masih ada orang kepala batu, padahal jika sudah dilakukan relaksasi tujuannya untuk membuat perekonomian kembali lancar dengan syarat protokol kesehatan dilakukan, tapi jika masih ada yang OKB tentu ini sangat memprihatinkan, saya harap jangan ada warga saya yang terkena virus Corona lagi,’’tandasnya(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *