Kurang Laku Setelah Ada Youtube, Kalah Bersaing Tukang Servis Panggilan

Supardi, tukang reparasi elekronika saat memperbaiki VCD di Pasar Cakranegara, kemarin.

Keluh Kesah Tukang Servis Barang Elektronik di Pasar Cakranegara

Zaman sudah benar-benar berubah. Youtube dan media sosial membuat sejumlah pekerjaan terancam punah. Seperti pekerjaan Supardi, tukang servis barang elektronik di Pasar Cakranegara.

ALI ROJAI, Mataram

MEWABAHNYA Covid-19 tidak membuat Pasar Cakranegara sepi pengunjung. Pasar fenomenal yang terletak di Jalan Selaparang Cakranegra ini selalu ramai. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Kota Mataram, namun juga luar daerah.

Pasar ini tidak hanya menjual barang-barang baru. Namun juga barang bekas. Seperti di sekitar lokasi Supardi melakukan membuka jasa servis barang elektronik.

Di sini, banyak pedagang menjual barang bekas. Sepatu, sandal, jam tangan, dan TV. Serta barang bekas lainnya.

Pardi begitu ia disapa, kemarin terlihat sibuk memperbaiki kipas angin milik pelanggan. Sesekali tangannya memegang obeng membuka kipas yang rusak. Setelah beberapa menit, kipas yang diperbaiki kembali normal.

Di sisi lain, pedagang lain asyik bermain catur. Aktivitas itu dilakukan karena sepinya pembeli. “Kalau tidak ada kerjaan, kita main catur,” katanya.

Pardi membuka jasa servis elektronik di lantai satu Pasar Cakranegara. Nampak beberapa televisi dan VCD tersusun rapi di lapak miliknya. Bahkan ada juga tape menggunakan kaset pita yang sedang diperbaiki Pardi. “Ada saja tape kita perbaiki,” ungkap bapak dua anak ini.

Kepada Lombok Post (Grup Cenderawasih Pos), Pardi kemarin berkeluh kesah. Menurutnya, pengguna jasanya tak seramai dulu. Tahun 1990 ke bawah.

Dulu kata dia, jika ada warga yang rusak TV atau tape, dibawa ke pasar untuk diperbaiki. Namun kini, warga lebih memilih membuka Youtube. Mencari tutorial memperbaiki barang elektronik miliknya. “Kalau tidak bisa atau tidak ada tutorialnya di Youtube, baru jasa kita dipakai,” keluhnya.

Selain Youtube, ia juga kalah bersaing dengan tukang servis panggilan yang menawarkan jasa di media sosial. “Sekarang tinggal ditelepon, datang tukang servis,” ujar pria asal Karang Jangkong ini.

Dia juga bingung melihat banyaknya VCD dan TV rusak di lapak miliknya. VCD yang numpuk semuanya bisa normal. Tapi kata dia, harus diperbaiki dulu.

VCD yang numpuk ini diperoleh dari warga yang sengaja datang menjual barang-barang rusak. “Kita beli saja. Niatnya dijual kembali setelah diperbaiki,” ungkapnya.

Dari VCD yang rusak ini, ia mengambil jeroannya. Misalnya,  jika salah satu VCD rusak bagian tombol, tinggal ambil bagian VCD yang tidak rusak bagian tombol untuk diperbaiki. “Kalau ada yang cari VCD baru, kita perbaiki,” ungkapnya.

Dikatakan, menjual barang-barang elektronik yang sudah diperbaikinya, sekarang agak sulit. Jarang ada warga yang mau membeli barang-barang elektronik bekas. Tidak seperti dulu.

Pardi mengaku, tarif memperbaiki barang elektronik tidak mahal. Hanya Rp 50 ribu. Mau rusak berat atau sedang, tarifnya sama. Hanya pembelian alat-alat yang rusak ditanggung pemilik.

Misalnya di TV yang rusak LCD-nya, maka pemilik yang harus menanggung.”Mau gunakan asli atau imitasi, tergantung pemilik,” ungkapnya.(*/r3/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *