Dibatasi Hanya Lima Orang, Melatih Anak-Anak Papua Untuk Bisa Menulis

Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih (Uncen), Kurniawan Patma, S.E, M.Ak, memberikan pelatihan dalam program Kemistri kepada 5 orang peserta di depan teras rumahnya yang berada di Kampung Koya Barat Distrik Muara Tami Kota Jayapura, Jumat (10/7) kemarin.(Yewen/Cepos)

Melihat Aktivitas Kelas Menulis Ispiratif Tiga Hari di Koya Barat

Kemistri adalah program kelas menulis inspiratif tiga hari yang diinisiasi oleh Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih (Uncen), Kurniawan Patma, S.E, M.Ak. Seperti apa saja program Kemistri ini?

Laporan: Roberth Yewen

Di teras depan rumah berukuran panjang 6 meter dan lebar 3 meter di rumah BTN yang berada di Koya Barat Distrik Muara Tami Kota Jayapura menjadi salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih (Uncen), Kurniawan Patma, S.E, M.Ak untuk membuka kelas belajar menulis yang diberi nama Kelas Menulis Inspiratif Tiga Hari (Kemistri).

Terbentuknya Kemistri ini tidak terlepas dari kegelisahan pria yang akrab disapa Kurniawan ini untuk membuka ruang bagi para mahasiswa dan pemuda di dunia menulis. Apalagi dengan kondisi saat ini menjadi sebuah momentum dalam mengasah para mahasiswa dan pemuda untuk menyalurkan ide, gagasan, dan pikirannya dalam sebuah tulisan.

Meskipun hanya menggunakan ruang tamu, tetapi Kurniawan memiliki pola dan sistem dalam Kemistri dengan cara membuka pelatihan dalam seminggu dua kali, mulai dari hari Jumat dan Sabtu dan dimulai pada pukul 13.30-17-30 Wit. Dalam pelatihan Kemistri ini dibagi dalam tiga tahap. Dimana setiap pelatihan Kemistri akan terdiri dari 5 orang peserta.

Sistem perekrutan peserta untuk mengikuti pelatihan Kemistri, yaitu melalui media sosial seperti facebook, wastahapp. Nanti setiap peserta mengkonfirmasi nomor kepada Kurniawan  melalui wathshapp dengan cara mengisi nama, jabatan, dan motivasi ikut kegiatan.

“Saya akan menyeleksi secara propesional, sehingga yang ikut pelatihan tidak hanya dari salah satu suku atau salah satu organisasi atau dominan oleh laki-laki, tetapi yang ikut pelatihan ini bisa merata,” kata Kurniawan kepada cenderawasih pos di Abepura Kota Jayapura, Jumat (10/7).

Kemistri adalah program mandiri gratis yang diinisiasi khusus untuk melatih anak anak Papua khususnya para aktivitas, pemuda dan mahasiswa dalam menulis karya sastra non fiksi berupa esai dan opini serta karya sastra fiksi seperti cerita pendek. Paket pelatihan penulisannya adalah cara menulis esai/opini yang rapi, kritis dan logis selama tiga hari (sama halnya dengan cerita pendek)

Pada hari pertama concern pelatihan pada teknik penulisan draft awal esai dan opini dengan menggunakan mind mapping serta teknik menata argumen dan pada bagian akhir memperkenalkan struktur esai dan opini yang terstruktur. Pada hari kedua peserta mulai diperkenalkan dengan esai deskriptif, esai argumentatif dan esai reflektif. Setelahnya peserta akan diminta praktek menulis esai sesuai dengan keresahan (pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, HAM dan lingkungan hidup). Pada hari ketiga peserta akan presentase hasil tulisan berupa esai dan akan direvisi bersama sama. Media yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah proyektor

“Peserta dibatasi hanya lima orang dengan harapan output pelatihan lebih efektif dan terukur. Selain itu peserta dibatasi agar posisi duduk peserta bisa diatur tidak berdekatan (mengikuti protap/aturan untuk menjaga jarak aman),” jelas mantan Sekjen PMKRI Cabang Jayapura ini.

Selain itu, para peserta tetap mengedepankan protokol kesehatan diera new normal ini dengan cara para peserta pelatihan diwajibkan menggunakan masker dan tidak berjabat tangan selama mengikuti pelatihan Kemistri sampai selesai kegiatan pelatihan berlangsung.

Harapan dari program ini adalah memotivasi anak anak Papua untuk menjadikan tulisan sebagai medium pergerakan kritis dalam menyampaikan aspirasi secara lebih bermartabat dan tanpa harus melalui jalur kekerasan. Tulisan bisa menjadi sarana produktif untuk memperluas parameter gerakan untuk mengkritik secara konstruktif dan menginspirasi orang lain

“Kita berharap akan muncul reinkarnasi sosok Booker T.Washington yang bisa menulis buku sekelas Up From Slavery versi Papua atau Richard Wright yang bisa menulis buku sekelas Native Son versi Papua. Selain itu, Kegiatan ini tentu diharapkan memberikan perubahan bagi mahasiswa dan pemuda, terutama mereka yang belum pernah menulis bisa menulis dan struktur penulisannya sudah berubah lebih baik lagi dalam penulisannya,” harap Alumnus Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Cenderawasih tahun 2009 ini. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *