Tanpa Mahar, Pendidikan Politik Hilangkan Budaya Transaksional

Ketua DPW NasDem Papua, Mathius Awoitauw, SE,M.Si . Foto: Robert/ceposonline

SENTAN-Partai NasDem secara resmi telah mengusung sembilan dari 11 calon kandidat kepala daerah di 11 daerah di Papua yang akan bertarung pada Pilkada 2020 ini.
Ketua DPW NasDem, Mathius Awoitauw mengatakan, secara Nasional, Partai NasDem telah mengusung politik tanpa mahar. Tanpa mahar artinya menuntut kandidat memiliki kompetensi, kapasitas dan kapabilitas yang tentunya direkomendasikan masyarakat.
“Dalam proses seperti ini Partai Nasdem tetap mengedepankan tanpa mahar. Jadi politik tanpa mahar karena kami menghargai aspirasi masyarakat yang ada,” Mathius Awoitauw ketika ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya,” Kamis (9/7).
Setidaknya, dalam menentukan arah dukungannya, NasDem menggunakan alat ukur lembaga survei dan suara masyarakat. Alat ukur ini menjadi dasar siapa yang harus diusung. Politik tanpa mahar ala NasDem telah mengesampingkan politik budaya transaksional yang sudah menjadi kebiasaan dan konsumsi publik bahkan partai politik pada umumnya.
Menurut Mathius, Politik transaksional bayarannya mahal, karena kandidat kepala daerah bisa menjadi beban selama duduk sebagai kepala daerah. Bahwa, setelah terpilih, urusanya tidak saja melayani masyarakatnya tetapi ada hal hal lain yang harus dilihatnya. Untuk itu kata Mathius, Nasdem ingin menghentikan praktek politik transaksional itu.
Yang jelas, Lanjut dia, secara nasional, ketika proses rekrutmen ini dengan cara transaksional pasti mempengaruhi kepemimpinan. Itu terbukti sejauh ini banyaknya kepala daerah yang terjerat proses hukum dan itu ujung-ujungnya karena proses rekrutmenya yang lebih banyak transaksional.
Karena itu Nasdem secara nasional bertekad setiap kandidat tidak boleh dibebani. Sehingga, Partai itu terbuka untuk orang orang yang dianggap mampu untuk menggunakan itu.
“Karena itu bagaimana caranya supaya benar-benar orang yang tepat diusung. Lembaga survei penting. Jadi tanpa mahar dengan lembaga survei dengan hasil survei itu dua hal yang saling menentukan. Konsekuensinya banyak kader ingin maju, tetapi karena hasil survei berbicara seperti itu, sehingga ini menjadi tantangan tersendiri bagi Partai Nasdem. Kita sudah siapkan orang, susah-susah. Kita berharap kedepan bisa menjadi pemimpin, kalau dia menjadi pemimpin kan akan memberikan kontribusi juga kepada partai. Tetapi disisi lain ini tuntutan-tuntutan yang serba sulit. Makanya kita coba melihat survei ini kita harus gunakan secara baik,” tambahnya. (roy).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *