Pandemi Covid-19 Belum Berakhir

Tambahan 80 Kasus Positif Baru di Papua

JAYAPURA-Pandemi Covid-19 di Provinsi Papua tampaknya belum berakhir. Pasalnya, hingga Kamis (9/7) kemarin masih terjadi penambahan kasus positif Covid-19.

Penambahan yang terjadi berdasarkan data yang diterima Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Provinsi Papua juga tidak tanggung-tanggung yaitu 80 kasus positif baru.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) mengatakan, dari 80 kasus baru tersebut, 60 kasus positif berasal dari Kota Jayapura. Sementara sisanya, 15 kasus dari Kabupaten Mimika, 3 kasus dari Kabupaten Jayapura dan masing-masing satu kasus di Kabupaten Supiori dan Jayawijaya.

“Tambahan 80 kasus baru ini menjadi catatan khusus bagi kita bahwa pandemi Covid 19 belumlah berakhir. Inipun menjadi perhatian khusus bagi pemerintah kabupaten/kota. Khususnya untuk Kota Jayapura bahwa tambahan 60 kasus kasus positif baru sekiranya menjadi perhatian,” ungkap dr. Silwanus Sumule, Kamis (9/7) kemarin.

“Artinya, 60 kasus tambahan ini harus segera dituntaskan dengan mengambil langkah-langkah cepat. Baik dengan isolasi mandiri, karantina terpusat di fasilitas yang telah disediakan pemerintah, maupun perawatan di rumah sakit dengan memperhatikan kondisi klinis pasien,” sambungnya.

Selain itu, diketahui bahwa terjadi pula penambahan angka Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 18 pasien. Dari jumlah tersebut 17 pasien berada di Kota Jayapura dan satu lainnya di Mimika. Sedangkan, Orang Dalam Pemantauan (ODP) juga bertambah sebanyak 24 orang. Dimana jumlah terbanyak yaitu 18 ODP berada di Mimika, kemudian 3 ODP di Kota Jayapura, 2 ODP di Jayawijaya dan  1 ODP di Boven Digoel.

“Patut pula kita syukuri bahwa terjadi penambahan kasus sembuh di Provinsi Papua. Dalam hal ini, penambahan kasus sembuh kali ini mencapai 20 pasien. Tertinggi di Kota Jayapura yaitu 7 pasien, disusul Mimika 4 pasien, lalu Kabupaten Jayapura dan Jayawijaya masing-masing 3 pasien. Penambahan pasien sembuh juga terjadi di Sarmi, Yapen dan Lanny Jaya masing-masing 1 pasien,” tambahnya.

Dengan demikian, diketahui bahwa kasus positif di Papua secara kumulatif telah mencapai 2.107 kasus. Dimana 1.022 pasien masih menjalani perawatan, 1.063 pasien sembuh, dan 22 pasien meninggal dunia. Adapun, ODP sebanyak 2.107 orang, PDP berjumlah 252 pasien, dan pemeriksaan TCM dan PCR yang hingga kini telah mencapai 17.973 sampel.

Sementara itu, terkait kondisi penanganan Covid-19 yang dilakukan di RSUD Jayapura dimana disebutkan ada 85 tenaga medis yang dinyatakan terpapar virus Corona dan harus menjalani isolasi hingga berdampak pada berkurangnya kekuatan  dalam pelayanan kesehatan, dianggap sebagai sesuatu yang saat ini sulit dihindari.

Untuk itu, masyarakat diminta bisa memaklumi dan tidak terus mendesak pihak medis untuk 100 persen memberikan pelayanan prima.

Wakil Ketua DPR Papua, Dr. Yunus Wonda, MH., sendiri mengaku tak bisa memberi saran dan masukan terlalu banyak mengingat situasi lagi tidak mengenakkan. Ia berpendapat bahwa saat ini pihak rumah sakitlah yang paling tahu bagaimana langkah dan penanganan terbaik untuk pasien.

Meski pihak DPR Papua berharap pelayanan terhadap pasien umum atau non Covid bisa tetap dimaksimalkan namun setelah melihat banyaknya tenaga medis yang terjangkit wabah ini akhirnya ia hanya meminta agar rumah sakit mengatur sebaik mungkin.

“Saya pikir hanya rumah sakit yang bisa mengatur itu. Sebab mereka yang paling memahami situasi. Saat ini hanya perlu ekstra kerja keras untuk memastikan jika pelayanan bisa berjalan normal meski kondisinya sedang sulit. Pelayanan publik bagi pasien umum harus tetap jalan dan pasien Covid juga harus jalan,” jelas Yunus Wonda, Kamis (9/7).

Terkait kondisi ini, ia meminta masyarakat juga memahami. Apabila hanya ditangani sedikit lalu disuruh pulang ya ini juga harus dipahami mengingat RSUD Jayapura juga menangani pasien Covid.

“Jangan  merasa tidak ditangani maksimal sebab situasi memang sedang tidak mendukung. Kekuatan tenaga medis sedang pincang jadi masyarakat juga harus paham,” bebernya.

Soal  masih ada space ruangan kata Yunus ini kembali kepada pihak rumah sakit yang paling paham. Meski ada ruangan tapi jika tenaga dokter berkurang ya sama saja.

“Kalaupun harus memperkuat Puskesmas saya pikir pihak Dinas Kesehatan yang tahu persis bagaimana set up ruangan set up gedung,” sambung Wonda.

Satu hal yang dirasa penting adalah bagaimana memberikan dukungan kepada tenaga medis. Yunus berpendapat bahwa dokter, perawat dan lainnya bukanlah malaikat dan pastinya mereka juga akan drop dengan banjirnya pasien covid. “Hanya karena ingin menegakkan sumpah janji akhirnya mereka bertarung dengan situasi sulit dan akhirnya terjangkit dan kini mereka menjadi korban juga. Para medis perlu disuport agar mereka tidak merasa sendiri,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi V DPRP, Jack Komboy. Mantan penggawa Persipura ini mengaku dilema jika harus ngotot meminta pihak rumah sakit melakukan pelayanan prima. “Saat ini benteng terakhir kita sedang goyang,  mulai terpuruk sehingga sulit jika meminta mereka tetap fight. Mungkin masyarakat yang perlu memahami dan belajar untuk mematuhi semua protkoler kesehatan, tidak usah bikin diri kebal sebab semua bisa kena,”  signkatnya. (gr/ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *