Dua Tahun Sudah Ojek Ibu Hamil Rintisan Bidan Iin Rosita Berjalan 

JASA GRATIS: Layanan ojek ibu hamil di belasan desa di Kecamatan Bendo, Magetan, sudah berjalan dua tahun. 

Harus Tahu Apa yang Dilakukan saat Ketuban Bumil Pecah

Sudah ada 39 relawan driver ojek ibu hamil, semua ibu-ibu. Fisik sehat, tidak punya riwayat penyakit menular, dan mengantongi SIM C jadi syarat mutlak.

FATIHAH IBNU FIQRI, Magetan, Jawa Pos

KALAU tidak cermat, pemotor berjaket hitam dengan logo berwarna hijau di punggung itu bisa dikira pengemudi ojek online. Lambangnya mirip salah satu jasa layanan antar-jemput berbasis aplikasi gadget tersebut.

Yang membedakan, perut penumpang dalam logo dibuat menggelembung besar. Di bawahnya tertulis JEK MIL dengan warna putih. ”Singkatan ojek ibu hamil (bumil),” kata Iin Rosita, bidan Desa Carikan, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Sesuai namanya, ojek yang dirintis Iin itu khusus antar-jemput bumil. Berjalan dua tahun, driver-nya mencapai 39 orang. Seluruhnya ibu-ibu. Tersebar di 12 dari 16 desa di Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Di antaranya, Desa Carikan, Setren, Dukuh, Belotan, dan Tegalarum. Di tiap desa, jumlah driver JEK MIL berbeda-beda. Bergantung kesukarelaan warga yang ingin menjadi driver. ”Akan kami kembangkan ke empat desa yang belum ada JEK MIL-nya,” ujar bidan Desa Carikan itu.

Selama 23 tahun bertugas, Iin paham luar-dalam kondisi dan permasalahan bumil di wilayahnya. Permasalahannya dari waktu ke waktu tidak berubah. Sang bumil kesulitan memeriksakan kandungan di tempat layanan kesehatan.

Tidak ada transportasi dan tidak ada yang mengantar menjadi musababnya. ”Akibatnya, cek kandungan tidak bisa rutin,” ungkap koordinator kesehatan masyarakat Puskesmas Bendo tersebut.

Keresahannya terhadap persoalan bumil membawa ingatannya melayang ke Jawa Barat. Iin pernah mendapati layanan ojek gratis khusus untuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan lansia di wilayah itu. Terpikir oleh alumnus Poltekkes Surabaya itu untuk membuat hal sama buat bumil.

Angan-angan itu lantas diutarakan di sebuah forum pada 2018. Pemaparannya menarik hati Koordinator Bidan Desa Se-Kecamatan Bendo Sri Iswahyuni Ermawati. Ide tersebut lantas diteruskan ke seluruh bidan desa di Kecamatan Bendo. ”Rekan kerja di puskesmas jadi tim kreatifnya. Memberi ide dan membuat logo JEK MIL,” kenang Iin.

Awalnya, ide tersebut tidak mudah diterima masyarakat. Hanya Desa Carikan dan Setren yang menindaklanjuti. Total driver-nya delapan orang.

Mereka merupakan warga setempat yang dianggap dekat dengan para bumil. Kedekatan membuat pelayanan yang diberikan bisa lebih cepat. ”Kalau ada apa-apa di jalan, ibu hamil tidak ragu meminta pertolongan,” terangnya.

Karena bukan sembarang jasa, tidak semua orang bisa menjadi driver JEK MIL. Fisik sehat, tidak punya riwayat penyakit menular, dan mengantongi SIM C menjadi syarat mutlak.

Punya pengetahuan tentang kesehatan ibu dan bayi menjadi nilai tambah. Juga harus patuh standard operating procedure (SOP) pelayanan. ”Bagaimana penanganan ketika dalam perjalanan seperti pecah ketuban atau pendarahan?” beber Iin.

Driver JEK MIL harus berkoordinasi intens dengan tenaga kesehatan. Dengan begitu, perjalanan untuk pemeriksaan bumil bisa lebih efektif. Ketika sedang ada kendala, bisa langsung berkabar. ”Setiba di fasilitas kesehatan, driver harus membantu pendaftaran di loket. Sehingga bumil bisa merasa didampingi dengan baik,” tuturnya.

Selama pandemi Covid-19, kerja driver lebih berat lagi. Harus benar-benar menjaga kesehatan diri sendiri. Menghindari kerumunan dan menyediakan face shield bagi bumil. ”Tidak boleh terlalu kencang saat berkendara. Tetap pakai helm entah dekat maupun jauh,” lanjut Iin.

Meski sukarela, Iin kadang tidak tega melihat perjuangan ibu-ibu yang bersedia mengantar bumil ke puskesmas. Uang bensin dan kebutuhan operasional lain memang diganti oleh puskesmas. Namun, bagi dia, itu belum cukup.

Dia sempat mengusulkan kepada pemerintah desa masing-masing untuk menganggarkan ongkos JEK MIL. ”Jadi, driver dapat insentif dari desa. Itu bagus untuk menunjang ekonomi,” katanya. (*/cor/c1/c11/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *