Pucat Saat Lihat Nasi, Dibayar Jutaan Tetap Menolak

Emeralda Daniela Desitania Saraswati (Gamel Cepos)

Emeralda Daniela Desitania Saraswati, Gadis SMA yang sejak SD Tak Bisa Mengkonsumsi Nasi

Kebanyakan masyarakat di Indonesia menjadikan beras atau nasi sebagai makanan pokok. Bahkan ada yang mengatakan lemas jika tak makan nasi. Ini berbeda dengan Emeralda Daniela Desitania Saraswati yang justru tak bisa mengkonsumsi nasi sejak 1 tahun.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Sebuah Hand Phone android terlihat terus diutak atik sambil sesekali mengetik dan menunggu balasan. Sesekali juga halaman layar diganti ke media sosial  untuk mengamati informasi lain yang lagi hits. Namun konsentrasi ini mendadak pecah ketika didatangi sambil ditunjukkan beberapa butir nasi dari telapak tangan Cenderawasih Pos. Ya Cenderawasih Pos merasa penasaran dengan penyampaian sang ibu bahwa sang anak sedari kecil tak bisa mengkonsumsi nasi.

Sebuah penyampaian yang masih sulit diterima karena jaman sekarang hampir semua orang mengkonsumsi nasi. Kalaupun ada, biasanya bentuknya mengurangi nasi dengan alasan diet dan bukan sama sekali tidak mengkonsumsi. Tak sedikit juga yang mengaku badan lemas atau perut belum kenyang jika belum menyentuh nasi. Malah ada tubuh yang bereaksi gemetar karena belum makan nasi. Nah gadis bernama lengkap Emeralda Daniela Desitania Saraswati justru sejak berusia 1 tahun sudah tidak mengkonsumsi nasi.

Dulunya jika diminta untuk memakan nasi maka dipastikan semua akan dimuntahkan. Akan ada penolakan dari tubuh saat butiran putih padi yang mengembang karena air ini masuk ke rongga mulutnya. Hanya ketidakbisaan mengkonsumsi nasi ini makin menjadi dimana sang anak jangankan memakan nasi, melihat nasi saja wajahnya secara otomatis akan menjadi pucat. “Tidak tahu juga sebab kakak kakaknya yang lain semua bisa makan nasi. Hanya adek (Saras) yang memang tidak bisa makan nasi dari kecil,” jelas sang ibu, Sri Wiratmi saat ditemui di Angkasa, Distrik Jayapura Utara belum lama ini.

Wanita yang bekerja sebagai Kepala Sekolah TK Kemala Bhayangkari II Angkasa ini menceritakan bahwa keanehan ini tidak diketahui ikhwalnya,  pasalnya saat di kandungan dikatakan tak ada tanda – tanda khusus. Hanya Sri awalnya menduga jika sang anak yang akan lahir adalah laki – laki namun ternyata perempuan. “Selama hamil juga saya tak suka mengkonsumsi sayur, hanya ayam dan ikan bakar,” jelas Sri. Saras sendiri lahir pada 3 Desember 2004 di Jayapura dan kini  tengah sekolah di SMAN 5 Angkasa, Jayapura Utara. Ia mulai tak menkonsumsi nasi sejak usia 1 tahun hingga kini.

Jadi setelah didekati dan ditunjukkan beberapa butir nasi, wajah Saras mendadak berubah. Ia terdiam dan langsung terlihat pucat. Butiran nasi ini akhirnya dipindahkan dan meski mengaku tidak merasakan apa – apa namun dari ekspresinya tersirat jelas bahwa ia panik. “Tidak, tidak ada apa – apa,  cuma gimana gitu,”  tangkis Saran menutup kepanikannya. Ia sesekali menaikkan bola matanya seakan tidak percaya ditunjukkan nasi. Tapi sekali lagi ia hanya terdiam. Saras memang tidak mengungkapkan secara terbuka dan ia lebih memilih terus diam.

“Tidak bisa saja (menelan). Jadi biasanya diganti dengan tahu, singkong ataupun roti,” jelas Saras. Ia juga tak merasa ada kelainan meski tak memakan nasi. “Tidak lemas, biasa saja,” imbuhnya. Sang ibu yang bekerja sebagai guru menambahkan bahwa sebagai pengganti nasi, anak bontotnya ini biasa mengkonsumsi tahu.

Saras jago kalau makan tahu dimana dalam sehari ia bisa memakan 5 kotak tahu. Ini biasa diselingi dengan tempe panas maupun telur. Nah untuk menyiapkan stok makan bagi Saras ini menurut Sri ia cukup menyiapkan tahu, tempe, telur maupun singkong dan beberapa jenis sayur. Dan untuk melengkapi gizinya, Saras juga masih suka minum susu Dancow. Dari beberapa item “makanan khusus” mau tidak mau sang ibu harus berfikir ekstra mengingat karena berubahnya pola  konsumsi. “Dalam sebulan jatah telur yang harus saya siapkan adalah 3 rak telur dan semua yang dikonsumsi haruslah fresh. Kalau sudah dingin Saras tidak mau, begitu juga kalau makan ayam maupun tahu tempe, semua harus panas,” tambah Sri.

Ditanya apakah tubuh Saras tetap fit tanpa nasi, menurut Sri ia bersyukur karena sang anak jarang sakit. “Saya bersyukur karena adek (Saras) jarang sakit, ia tahu bagaimana menjaga kesehatan juga,” tambahnya. Disinggung apakah pernah berkonsultasi dengan dokter, kata Sri hal tersebut sudah pernah dilakukan dan menurut dokter jika sang anak memiliki phobia. Secara psikolog ada perasaan takut terhadap barang atau benda-benda tertentu.

“Dokter bilang tidak apa – apa sih,  malah ada yang bilang bagus karena tidak semua karbohidrat memberi efek baik. Kadang bisa menimbulkan penyakit gula juga,” imbuhnya. Sang ibu juga menceritakan bahwa dari kondisi tak bisa memakan nasi ini pernah ada keluarga yang mengganggu Saras dengan siap membayar jika Saras mau makan nasi. “Waktu itu ditawari duit Rp 1 juta asal adek makan nasi, tapi semua ditolak mentah – mentah,” imbunya. Sri memang tak mau terlalu mempublish jika sang anak tak makan nasi mengingat takutnya sang anak dikerjai atau dibully.

“Yang jelas jika ada acara yang didalamnya disajikan nasi, biasanya adek perlu menjauh pelan-pelan dan ia hanya makan seperti yang saya sebut tadi,” imbuhnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *