Curhat Petugas Kesehatan Tangani Covid 19 di Kota Jayapura

dr. Silwanus Sumule (Gratianus silas/Cepos)

Dari Lelah Sampai Rindu Keluarga, Tapi Tetap Utamakan Keselamatan Pasien

Badai Covid-19 belumlah berlalu. Kasus positif terus bertambah, namun kasus sembuh juga semakin meningkat. Hal ini tak lepas dari peranan penting petugas kesehatan di rumah sakit. Juru Bicara Satgas Covid 19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule,Sp.OG(K)., bercerita perihal perjuangan petugas kesehatan menangani Covid 19, apa saja

Laporan: Gratianus Silas

“Apakah harus menunggu sampai petugas kesehatan meregang nyawa baru orang percaya bahwa Covid 19 itu nyata?” Demikian, ungkapan yang terselip dalam menyikapi situasi di mana masih minimnya kesadaran masyarakat di tengah pandemi Covid 19.

Jawabannya sederhana, yakni seharusnya tidak demikian. Sebaliknya, ungkapan syukur yang seharusnya dipanjatkan karena sekalipun sudah seribu lebih kasus positif Covid 19 terjadi di Kota Jayapura, belum ada petugas kesehatan yang meregang nyawa akibat penyakit mematikan ini.

Menangani Covid 19, memang bukan hanya pemerintah maupun masyarakat yang lelah, melainkan petugas kesehatan juga lelah. Terlebih, 1000 lebih kasus positif di Kota Jayapura bermakna, petugas kesehatan akan bekerja penuh dalam satu bulan ke depan untuk merawat pasien selama 14 hari dengan harapan, dalam 14 hari tersebut, hasil PCR pasien dinyatakan negatif.

Bahkan, sesudah 14 hari, pasien sembuh dipulangkan, namun masih harus dipantau lagi oleh petugas untuk memastikan kondisinya selama 14 hari berikutnya. Sebab, bukan tidak mungkin dalam 14 hari di rumah, pasien sembuh tersebut dapat kembali lagi ke rumah sakit.

Berkisah sebagai seorang petugas kesehatan, dr. Silwanus Sumule,Sp.OG(K)., yang merupakan Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) tak jarang mendapat cerita perjuangan teman-teman sejawatnya dalam penanganan Covid 19 di Kota Jayapura.

“Kemarin saya baru menyiapkan kamar di salah satu hotel untuk petugas kesehatan di rumah sakit. Mereka minta tolong, tidak ingin pulang ke rumah karena telah melakukan kontak di dalam satu ruangan ICU dengan pasien yang sudah dinyatakan positif Covid 19. Terpaksa kami harus siapkan ruangan di hotel untuk karantina mandiri. Inipun bermakna, selama 14 hari karantina mandiri, petugas kesehatan tidak bertemu keluarganya,” ungkap dr. Silwanus Sumule,Sp.OG(K)., Jumat (3/7) lalu.

Contoh kasus lainnya, sambung dr. Sumule, di mana terdapat petugas kesehatan yang menelpon dan galau antara pulang ke rumah atau karantina mandiri di hotel, di tengah kondisi memiliki anak yang masih kecil di rumah.

“Ya saya bilang, mau pulang ke rumah dan menularkan kepada anak yang masih kecil itu, serta anggota keluarga lainnya, atau sementara karantina mandiri di hotel? Akhirnya petugas kesehatan tersebut tidak ingin mengambil risiko sehingga memilih tinggal sementara di hotel,” sambugnya.

Kata dr. Sumule, bahwa angka kematian yang berhasil ditekan di Papua, termasuk di Kota Jayapura memanglah prestasi luar biasa. Namun, untuk menekan angka kematian itu, terdapat harga yang harus dibayar, yakni memantau secara ketat kondisi pasien.

“Ketika ada perubahan kondisi klinis, harus cepat mengambil tindakan. Dituntut cepat sambil mengenakan baju hazmat. Saya mengenakan itu, panasnya luar biasa. Terlebih saat operasi, AC harus dimatikan. Makanya, walaupun kita hanya melakukan satu tindakan operasi, namun rasanya itu seperti melakukan 3 – 4 tindakan operasi. Sangat lelah,” katanya.

Dengan demikian, dr. Sumule mengaku bahwa petugas kesehatan pun tak luput dari lelah dalam menjalankan pekerjaannya. Namun, di sisi lain, panggilan sebagai petugas kesehatan, yang mana tertuang dalam sumpah profesi petugas kesehatan adalah mengutamakan  kepentingan keselamatan dari pasien.

“Itu yang menjadi pegangan kami para petugas kesehatan. Oleh karenanya, apapun lelah yang kami rasakan, kepentingan keselamatan pasien itu kami tempatkan di nomor satu. Karena itu sudah menjadi sumpah sebagai petugas kesehatan,” akunya.

Pada dasarnya, petugas kesehatan tidak meminta banyak dari masyarakat dalam menyikapi Covid 19 ini. Petugas kesehatan hanya ingin dukungan dari masyarakat dalam hal menjalankan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker hingga tidak berkumpul, serta tidak menutupi jikalau memiliki kontak dengan pasien positif Covid 19. Petugas kesehatan akan siap untuk membantu.

“Bantu kami petugas kesehatan. Doakan kami petugas kesehatan, agar kami dapat diberikan kesehatan, sehingga dapat memberikan pelayanan, perawatan maksimal bagi pasien,” pungkasnya.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *