Ciptakan Valak Dari Trash Bag, Banyak yang Bilang Lebih Horor Dari Film Horor

Para pemain teater mengumpulkan ratusan botol plastik yang tercecer terbawa arus saat melakukan adegan di hutan mangrove Entrop, Rabu (1/7). Ini dilakukan untuk memperingati hari bebas kantong plastik sedunia 3 Juli kemarin.(Gamel Cepos)

Cara Files Nature Teater Memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Setiap 3 Juli

Plastik awal mula diciptakan bertujuan baik. Mengurangi penggunaan bahan dari kayu yang diawali dengan banyaknya pohon yang ditebang. Namun seiring waktu plastik jstru menjadi sumber masalah. Para penggiat lingkungan mencoba dengan cara mereka mengingatkan.

Laporan : Abdel Gamel Naser

Tak banyak yang mengetahui jika setiap 3 Juli seluruh penjuru dunia memperingati hari bebas kantong plastik. Ini untuk mengingatkan publik soal bahaya plastik di era kehidupan saat ini dan perlu sikap bijak agar lingkungan tetap terjaga mengingat butuh ratusan tahun agar sebuah kantong plastik terurai. Bagaimana tidak dari hasil penelitian menyebutkan bahwa dalam sehari ada 1 juta kantong plastik yang digunakan setiap menitnya.

Sementara kantong plastik membutukan waktu ratusan tahun untuk bisa terurai sementara rata – rata orang menggunakan kantong plastik hanya 25 menit sehingga bisa dibayangkan berapa banyak kantong yang dibuang setiap harinya. Ini tak sebanding dengan upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan sehingga  perlu satu regulasi yang mengikat. Ibu Kota Jakarta sendiri terhitung sejak 1 Juli kemarin telah menerapkan  kebijakan tak boleh lagi menggunakan kantong plastik. Sebuah kebijakan berani yang menyelamatkan sedangkan di Jayapura masih dalam tahap terus mencoba.

Nah memperingati moment setahun sekali ini, kelompok penggiat lingkungan ada yang melakukan hal unik dan kreatif dengan caranya masing – masing, salah satunya adalah Files Nature Teater  yang bernaung di bawah Rumah Bakau Jayapura. Yang dilakukan adalah bermain drama yang menceritakan tentang perjalanan sebuah kantong plastik. Awalnya adalah kantong plastik ini keluar dari sebuah mal atau sebuah pasar tradisional kemudian terbawa angin ke berbagai tempat.

Mulai  melintasi jalan raya, melewati tugu Adipura, nyangkut di Jembatan Yotefa hingga terbang dan terjatuh di lautan kemudian tersangkut di belukar akar hutan mangrove dan akhirnya menjadi sebuah momentum berkumpulnya ratusan botol plastik lainnya hingga melahirkan sebuah mahluk jahat valak seperti yang tertuang dalam buku Lesser Key of Solomon. Bentuknya persis seperti seorang suster yang menggunakan jubah serba hitam namun dengan wajah menyeramkan karena bagian matanya berwarna hitam dengan bola mata yang tajam.

“Ini hanya sebuah cerita yang diawali dari perjalanan satu kantong plastik yang kemudian menumpuk dengan plastik lainnya dan akhirnya berubah seperti tumpukan yang menyeramkan. Itu diwakili oleh wujud valak tadi,” kata Ketsya Ohee  Sekretaris Files Nature Teater. Diakui untuk membuat adegan drama yang kemudian akan dituangkan dalam bentuk video pendek ini terlihat cukup mudah padahal aslinya sebaliknya.

“Lokasi yang lebih banyak digunakan justru di hutan bakau. Kami jadikan itu sebagai panggung alam kami dan apapun kondisinya kami harus menyesuaikan,” katanya. Dalam adegan pertama Ketsya menceritakan bahwa seluruh pemain dibalut plastik trash bag harus menenggelamkan diri ke dalam air hingga tak terlihat di permukaan. Setelah itu satu persatu muncul dan berjalan perlahan ke arah yang sudah ditentukan. Adegan lainnya adalah saat berjalan ini akan muncul ratusan botol sampah plastik yang diibaratkan sebagai bagian dari pasukan sampah.

“Ini salah satu pesannya dimana setelah kami berjalan nantinya ada ratusan botol melintas. Kami ingin menyampaikan pesan bahwa sampah plastik yang terbuang hingga kini masih ada. Bahkan yang sudah puluhan tahun saat ini masih bisa ditemukan dan disitulah bahaya plastik khususnya sekali pakai,” jelas Ketsya.

Ia menyebut untuk membuat adegan ini ternyata jauh lebih sulit mengingat pemain tak bisa melihat sekeliling karena dari kepala hingga kaki tertutup plastik hitam dan harus berjalan di dalam lumpur. Selain itu yang membuat seluruh pemain kecele adalah waktu pengambilan gambar yang ternyata disaat air surut. “Ini yang sempat membuat kami panik. Bagaimana tidak, ratusan botol yang mengapung ini terbawa air ke laut sehingga kami harus bulak balik mengejar dan mengumpulkan satu persatu dan itu  sama sekali tidak mudah,” bebernya.

Dari adegan ini juga tak sedikit yang terluka mengingat kondisi lumpur berisi banyak kulit kerang. “Ada yang sampai kukunya terlepas tapi kami tetap main,” kara Vian salah satu pemeran. Vian mengaku tidak mudah  melakoni peran ini mengingat seluruh pemain harus uat menahan nafas di dalam air. “Saat surut kemarin kami kelabakan karena airnya dangkal dan kepala kami sulit untuk dimasukkan ke dalam air. Akhirnya  bagian kaki yang kami akali dengan menancapkan ke dalam lumpur,” ceritanya.

Ending dari adegan ini nantinya kata Kestya adalah munculnya sosok menyeramkan  berwujud valak. Valak lanjutnya bisa diterjemahkan sebagai akumulasi banyaknya kantong plastik yang digunakan dan semakin banyak membentuk wujud tadi. Valak ini nantinya akan memanggil pasukannya untuk ikut sama – sama menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah evolusi dari keputusan manusia memanfaatkan bahan yang sulit terurai. Files Nature Teater kata Ketsya mencoba menitipkan pesan seperti itu.

  “Ada banyak teman – teman yang melihat potongan video kami dan mengatakan bahwa konsepnya sangat menyeramkan. Bahkan lebih seram dari film horor. Bagi kami sah sah saja berpendapat seperti itu dan tujuan kami adalah menyampaikan pesan bahwa jika sikap kita tak berubah maka satu saat akan ada ancaman yang mengerikan, sesederhana itu sih,” imbuhnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *