Tambang Ilegal Baiknya Ditutup Saja!

Kapolresta Jayapura Kota AKBP Gusav R Urbinas saat memimpin penggerebekan  tambang ilegal di belakang Gunung Kampus IPDN Waena, Jumat (26/6).

JAYAPURA–Pernyataan demi pernyataan terkait lokasi pernambangan emas di Buper Waena  terus bermunculan. Setelah sebelumnya dari pengamat pertambangan Uncen, kali ini disampaikan oleh Sekretaris Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengda Papua, Marcelino Yonas. Ia merekomendasikan agar lokasi yang sudah digarap sejak tahun 2000 an ini ditutup karena akan memberi dampak negatif jauh ke depan.

Apalagi menurutnya potensi kandungan emas di kawasan tersebut kecil sementara potensi terjadi kerusakan lingkungan jauh lebih besar. Yonas menyebut bahwa sepengetahuannya aktifitas penambangan ini sudah berlangsung sejak tahun 2000 an  namun dengan skala yang kecil. Artinya belum melibatkan alat – alat dan ketika itu hanya dilakukan di kali – kali kecil. Tidak seperti sekarang yang sudah dibackup dengan banyak peralatan modern termasuk exavator.

Yonas yang juga bekerja sebagai dosen  geologi di Fakultas Tehnik Uncen ini melihat sepintas bahwa bentangan  alam di lokasi penambangan sudah terganggu, karena sudah rusak dan ia meyakini berbahaya. Dampak lainnya adalah kawasan Waena Perumnas bisa saja ikut terkena dampak terkait minimnya debit air. Itu tak lepas dari lubang dan aktifitas galian yang mengganggu bebatuan dan lapisan disekitarnya.

Yonas sendiri menyebut bahwa 2 tahun lalu ia sempat mendatangi lokasi dan ternyata  para penambang sudah membuat lubang – lubang. “Saya pikir sebaiknya ditutup saja selain itu perlu dilakukan reklamasi atau revegetasi karena penambang ini hanya membongkar begitu saja,”bebernya. Yonas menyebut kandungan emas di lokasi buper jumlahnya tidak banyak dan ini tak lepas dari peran danau di Cycloop.

“Ada telaga atau danau di bagian atas dan ini limpasannya,” tambahnya. “Di kawasan Buper Waena masuk dalam kategori penambangan aluvial. Jadi emasnya sekunder. Berbeda dengan kawasan di PT Freeport yang emasnya primer artinya emas itu tidak kelihatan. Akan tetapi ada dalam kandungan batu,” beber Yonas.  Lalu selama ini pemerintah agak sulit menyentuh lantaran  para penambang meminta izin ke masyarakat ulayat. “Pendapat saya seperti tadi, mending ditutup saja sebab dampak negatifnya juga banyak,” pungkasnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *