Mama – mama Ngotot Harus Pulang

Mama-mama asal Kabupaten Yapen yang  kebanyakan berusia lanjut menyampaikan kerinduannya untuk pulang ke kampungnya di Serui pada Jumat (3/7) di Entrop. Mereka menolak jika pemerintah membatasi warga yang akan pulang.(Gamel Cepos)

JAYAPURA – Meski  sempat terjadi polemik terkait pemulangan masyarakat asal Saireri khususnya dari wilayah Yapen dimana dari kepulangan ratusan masyarakat  ke kampungnya beberapa waktu lalu ini  ternyata terjadi penambahan jumlah pasien positif covid 19 di Serui. Kendati demikian sejumlah para lansia dan ibu – ibu tetap ngotot harus pulang. Mereka tak mau tahu alasan pemerintah apalagi jika ada pembatasan.

“Tidak ada tawar-tawar, kami harus pulang. Rumah kami disana (Serui) dan siapa yang mau kasi makan kami disini (Jayapura), memangnya kami makan dan tinggal selama ini ditanggung pemerintah?  tidak kan,” semprot Marcelina Taran, wanita berusia 50 tahun yang nampak tak terima jika batal  pulang saat ditemui di sela-sela rapit tes di Entrop, Jumat (3/7). Dalam rapit tes tersebut ada ratusan warga asal Serui yang ambil bagian dan rencananya  mereka akan pulang menggunakan kapal pada Senin (6/7) pekan depan.

Wanita yang telah memiliki cucu ini menyebut bahwa dirinya ke Jayapura untuk menghadiri sang anak wisuda dan itu sejak 14 Maret hingga kemarin. Namun karena ada pembatasan akses penerbangan akhirnya ia dan masyarakat dari Distrik Teluk Ampimoi banyak yang tertahan tak bisa pulang. “Jangan larang-larang, anak saya yang SMP selalu telepon menangis tanya saja. Belum mereka yang punya anak dan suami.  Disini kami tak ada pendapatan karena tak bisa bekerja, jadi pulangkan kami semua,” bebernya.

Senada disampaikan Kristina Merasi yang meminta jangan dibatasi. “Kalau mau batasi itu mahasiswa sebab mereka pulang tidak ada kepentingan sedangkan kami disana anak anak dan suami yang harus kami urus jadi jangan batasi kepulangan seenaknya,” cecar Kristina. Ia meminta Bupati Yapen, Toni Tesar untuk berjiwa besar  menerima kedatangan masyarakatnya. Apalagi mereka juga siap untuk dilakukan karantina kalaupun akhirnya dalam perjalanan terjadi perubahan kondisi kesehatan dan dinyatakan reaktif.

“Karantina silahkan saja, kami siap. Mau 14 hari atau 30 hari kami siap, yang penting kami pulang ke kampung,” beber Kristina. Silviana  Kaiba juga menyampaikan pesan serupa. “Sulit hidup di Jayapura, tidak bisa apa –apa dan kami kesini bukan untuk main – main tapi ada hal yang harus diselesaikan sehingga kalau ada pembatasan pemulangan itu kami sulit menerima, pemerintah di Serui harus memahami ini dan jelek jelek begini kami ini yang memiliki bupati dan wakilnya sekarang jadi harus ikut berfikir kesulitan kami,” tambah Kaiba. Sementara koordinator pemulangan warga Saireri, Boy Markus Dawir menyampaikan bahwa ada skeitar 500 orang asal Yapen yang akan dipulangkan pada Senin pekan depan.

“Semua memegang identitas, nomor dan kartu rapid masing-masing. Jadi jika dinyatakan reaktif kami meminta untuk  diobati dulu dan tidak boleh pulang,” jelasnya. Disinggung soal persoalan ada yang dipulangkan dan ternyata sampai di Serui ada temuan positif, Boy menyampaikan bahwa hal tersebut sudah didiskusikan dan tetap ditangani serius secara medis. “Bupati sudah berkomunikasi dan kami siap memulangkan,” pungkasnya. (ade/wen)

1 thought on “Mama – mama Ngotot Harus Pulang

  1. yuuukkk MABAR game dupa88 guuys….
    seru asik dan bisa bikin bengkak tak terbatas rek tabungan kita juga,
    banyak bonus bonus yang bisa kita dapatin dan jackpot yang luar biasaaa….
    mau kaya ya di dupa88 ajaaa bukan yang lain..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *