Gunakan Dua Kapal, 697 Warga Biak Pulkam

Suasana turunnya penumpang KMP Sabuk Nusantara yang membawa warga dari Jayapura, tiba di Pelabuhan Biak dan Mokmer, Minggu (28/6). (Fiktor/Cepos)

BIAK-Warga Biak yang sempat tertahan di Jayapura akibat lockdown  kembali tiba. Secara keseluruhan sebanyak 697 warga Biak yang tiba dengan menggunakan KMP Sabuk Nusantara 100 dengan membawa 356 penumpang dan KMP Sabuk Nusantara 94 membawa 341 penumpang, turun di Pelabuhan Mokmer dan Pelabuhan Biak.

   Pada saat turun mereka langsung diperiksa kesehatannya dan diminta wajib mengikuti karantina mandiri untuk beberapa hari ke depan. Sementara dua kapal lainnya yang digeser Pemerintah Kabupaten Biak Numfor untuk mengangkut warga Biak di Jayapura, masih berada di Pelabuhan Jayapura. Kedua kapal tersebut adalah KMP Sabuk Nusantara 63 dan Sabuk Nusantara 64.

   Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Biak Numfor Fransisco Olla, S.Sos kepada Cenderawasih Pos mengatakan pada dasarnya proses penurunan warga berlangsung dengan lancar dan tertib. Semua pemumpang yang turun wajib diperiksa kesehatannya oleh tim kesehatan, salah satunya dengan melakukan pengukuran suhu tubuh.

   “Kapal putih belum ada yang membuka rute resmi, oleh karena itu yang digunakan mengangkut warga adalah kapal-kapal perintis dengan kapasitas muatan memang terbatas. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor sendiri mengerahkan 3 kapal ke Jayapura untuk mengangkut warga yang tertahan di Jayapura akibat lockdown,” ujarnya.

   Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa untuk konektivitas untuk beberapa rute pernerbangan, termasuk ke Biak – Jayapura saat ini telah dikomunikasikan dan rencananya segera akan dibuka. Demikian volume penerbangan yang masih satu kali satu minggu untuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air juga rencananya akan ditambah.

   “Sebenarnya tak hanya rute Biak –Jayapura yang akan dibuka, namun kami juga mengusulkan untuk rute penerbangan lainnya dibuka meskipun dengan catatan. Misalnya saja bagaimana supaya ada konekvitas dari Biak sampai ke Timika dan sejumlah lainnya, semuanya ini terus dikomunikasikan agar warga yang ingin pulang atau pergi dapat terakomodir,” kata Fransisco Olla.(itb/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *