Penemuan Jobong Sumur dan Tuloang Gegerkan Warga Toyoresmi

Eko Priatno saat mengukur jobong sumur di Dusun Besuk, Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, kemarin (23/6).

Masuk Cagar Budaya,  Peninggalan Abad Ke-12

Bentuknya seperti sumur. Tapi bukan dari bis beton. Melainkan dari tumpukan tembikar. Fungsinya pun untuk simpanan air saat sungai kering. Namanya Jobong Sumur.

RENDI MAHENDRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Saat itu, Minggu (21/6), Budi sedang mancing di Kali Kidul. Tepatnya di Dusun Besuk, Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem. Pria yang sehari-hari bertani ini tak sengaja melihat pusaran air. Budi pun penasaran dengan pusaran itu.  “Saya lihat kok tampak seperti sumur. Lalu saya gali,” kata pria bertubuh tambun itu.

Satu jam menggali, Budi menemukan tulang dan pecahan gerabah di dalam sumur tua itu. Tapi pria 34 tahun ini membiarkan tulang dan pecahan gerabah itu tetap di sumur. Dia tak membawanya pulang. Budi lalu mengabarkan penemuan itu ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kediri. “Biar ada yang neliti,” tuturnya.

Kemarin siang (23/6), Kepala Seksi Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri Eko Priatno datang untuk mengecek langsung.  Sebelumnya, Eko sudah menerima foto terkait sumur tua itu.

Tak menunggu lama, Eko langsung menjelaskan pada Budi dan para tetangga terkait sumur tua itu. “Bukan gentong tapi jobong sumur, kalau sekarang bisa disamakan dengan bis beton,” kata Eko.

Meski begitu, Eko menjelaskan jobong sumur tersebut termasuk cagar budaya yang dilindungi. Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang warisan budaya berupa bangunan, kawasan, dan lain-lain.

Eko pun langsung meninjau lokasi. Didampingi Budi, mereka menuju lokasi penemuan yang membutuhkan waktu tujuh menit tersebut. Meski tak jauh, tapi titik jobong sumur itu cukup sulit. Sebab, di sekitar sungai itu berupa tebing. “Jobong sumur memang biasanya di sekitar sungai. Itu untuk mengantisipasi jika sungai kering,” terang Eko sambil menunjuk jobong sumur tersebut.

Budi kemudian menunjukkan serpihan tulang-tulang itu pada Eko. Ukuran serpihan tulang itu tampak besar.  Menurut Eko, serpihan-serpihan tulang itu merupakan tulang bovidae. Atau keluarga biologis hewan berkuku seperti kerbau, sapi, domba, dan kambing. “Kalau tulang manusia bukan, soalnya ukurannya besar,” tutur Eko.

Meski tebing di sisi sungai itu cukup terjal, Eko tetap menuruninya. Dia lalu menyeberangi sungai yang kedalamannya sekitar selutut orang dewasa. Eko melakukan pengukuran terhadap jobong sumur itu. Mengeluarkan alat ukur berwarna kuning dari sakunya. Dia lalu mengukur diameter, serta kedalaman sumur itu.

“Diameternya 70 sentimeter, kedalamannya 160 sentimeter, dan ruasnya sekitar 15 sentimeter,” beber Eko menunjukkan hasil perhitungannya. Jobong sumur itu memang memiliki ruas seperti bis beton yang ditumpuk.

Namun ukuran ruas itu tak sebesar bis beton modern, hanya sekitar 15 sentimeter. Sementara dalam jobong sumur itu terdapat sekitar sepuluh ruas. “Sumur ini bisa mengeluarkan air bersih,” kata Eko.

Di sekitar lokasi jobong sumur itu terdapat serakan bata-bata. Menurut Eko, bata-bata tersebut merupakan struktur dari jobong sumur itu. “Bisa jadi juga landasan, atau trap-trap an ke bawah sungai, atau juga bisa candi,” terang Eko.

Selain itu, menurut Eko, jobong sumur itu berasal dari abad ke-12 atau abad ke-15, zaman Kerajaan Majapahit. Begitu juga dengan gerabah temuan Budi itu, bisa jadi juga berasal dari abad yang sama. “Ngambilnya dulu itu juga menggunakan jembana-jembana tembikar, jadi kalau ada yang masuk ke situ tidak heran,” kata Eko.

Sebetulnya jobong sumur yang ada di bibir sungai itu berbahaya. Sebab tak bisa dipastikan kedalamannya. Selain itu, menurut Eko, jobong sumur berpotensi menyimpan jamur yang beracun. Jamur tersebut terdapat di rongga jobong sumur. “Jika dibuka, dan menghirup udaranya bisa langsung meninggal,” terang Eko.

Eko mengatakan pihaknya sangat terbantu atas laporan tersebut. Dan jobong sumur yang berada di Toyoresmi tersebut bakal menambah data peninggalan arkeologis di Kabupaten Kediri. “Kalau difungsikan lagi kayaknya sudah tidak mungkin, tapi setidaknya bisa untuk edukasi. Bahwa dulu nenek moyang kita, bisa membuat sumur dengan metode tembikar,” pungkasnya. (dea/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *