Modus Memancing, SpeedboatAngkut 6 KG Sabu

GAGAL BEREDAR: Kepala BNNP Kaltara Brigjen Pol Henry Parlinggoman Simanjuntak bersama Kepala KPPBC Tipe Madya Pabean B Tarakan Minhajuddin Nafsah menunjukkan barang bukti sabu 6 kg yang berhasil digagalkan di Kantor BNNP Kaltara, kemarin (23/6).

TARAKAN – Aksi penyelundupan narkotika dengan jumlah barang bukti cukup besar kembali digagalkan oleh aparat hukum. Kali ini Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara bersama Kepala Kantor Pelayanan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean B Tarakan berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 6 kg.

Kepala BNNP Kaltara Brigjen Pol Henry Parlinggoman Simanjuntak mengatakan, pengungkapan itu dilakukan pada Jumat (19/6) lalu, sekira pukul 11.50 WITA, di sekitaran perairan Pantai Amal, Tarakan Timur. Saat itu dua pelaku berinisial ES (39) dan EY (36) berhasil diamankan petugas gabungan. Keduanya pelaku saat itu didapati petugas berada di sebuah speedboat dengan mesin 200 PK.

“Kami terima informasi dari masyarakat bahwa ada orang yang katanya akan mancing, namun terlihat mencurigakan,” kata Henry, kemarin (23/6).

Berdasarkan informasi itu, aparat gabungan dari BNNP Kaltara bersama Bea Cukai Tarakan bergerak. Setelah dilakukan pengembangan atas informasi itu, petugas mendapati memang ada speedboat yang mencurigakan. Speedboat para pelaku pun langsung diadang para petugas gabungan. “Kami langsung melakukan penggeledahan dan mendapati 6 bungkus sabu dan memiliki berat 6 kg,” jelasnya.

Sabu-sabu itu ditemukan petugas tepat di bawah tempat duduk penumpang yang ada di dalam speedboat. Diduga kedua pelaku baru saja melakukan transaksi dan mengambil sabu tersebut. Rencananya setelah sabu itu diambil kedua pelaku, diduga sabu itu akan dikirim ke Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Hal tersebut langsung dibeberkan oleh kedua pelaku.

Dari hasil pemeriksaan penyidik BNNP Kaltara, pengendali sabu tersebut berada di Makassar. Masih didalami juga apakah semua sabu itu akan dibawa ke Makassar, atau ada juga yang akan diedarkan di Tarakan. Dibeberkan Henry, para pelaku memberikan keterangan klasik bahwa baru pertama kali mengambil sabu. Namun pihaknya menduga perbuatan kedua pelaku merupakan pemain lama. “Untuk upah, dari pengkauan pelaku kurang lebih Rp 15 juta dan Rp 3 juta,” imbuh Henry.

Terhadap modus pelaku yang berpura-pura akan memancing, petugas mendapati memang ada beberapa alat pancing di dalam speedboat. Namun petugas mendapati speedboat yang digunakan bukanlah jenis yang sering digunakan para pemancing. Makanya menimbulkan kecurigaan dari masyarakat dan petugas gabungan saat itu. “Kami dapati kedua pelaku ini adalah warga Tarakan,” tuturnya.

Salah satu pelaku merupakan nakhoda speedboat. Kemudian speedboat yang digunakannya, merupakan milik dari majikan dari sang nakhoda. Pihaknya masih mendalami apakah pemilik speedboat tahu atas pengambilan sabu itu. “Sabu ini masuk dari negara tetangga kita dan sabunya ini produk sindikat China,” sebut pria berpangkat bintang satu ini.

Selain mengamankan sabu, pihaknya juga mengamankan 9 plastik hitam, 1 buah tas ransel, uang tunai Rp 679 ribu, 2 buah HP dan speedboat yang digunakan kedua pelaku. Sebenarnya ada barang bukti penting yaitu HP milik YS, namun saat petugas datang ia langsung membuangnya ke laut. “Para pelaku ini akan kami kenakan Pasal 114 ayat 2 junto 132 ayat 1 subsider Pasal 112 ayat 2 junto 132 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Kedua tersangka terancam hukuman penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun,” pungkasnya.

Kepala KPPBC Tipe Madya Pabean B Tarakan Minhajuddin Nafsah menambahkan, pengungkapan narkotika oleh BNNP Kaltara dan Bea Cukai merupakan sinergitas aparat hukum dalam memberantas narkotika di Tarakan. Di Bea Cukai Tarakan selain menjalankan fungsi penerimaan, juga terdapat tugas community protector.

“Inilah yang kami gunakan. Jadi tentu adanya kapal speedboat bagaimana mengawasi barang terlarang masuk melalui perairan,” katanya.

Menurutnya, selama ini pihaknya selalu berwaspada terhadap penyelundupan yang terjadi di laut. Apalagi Kaltara memiliki kurang lebih seribu jalur tikus. Maka dari itu, ditegaskan Minhajuddin, sangat diperlukan juga semua peran masyarakat. “Kami dari penegak hukum bagaiman mencegah masuknya. Tapi untuk di kalangan masyarakat, harus mensosialisasikan agar permintaan menjadi berkurang. Jadi ketika ada orang yang menginginkan narkotika, maka ada saja cara agar ia mendapatkan,” tutupnya. (zar/lim/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *