Heri Yulianto, Sembuh dari Stroke setelah Rutin Bersepeda

RATUSAN KILOMETER SUDAH BIASA: Jatuh cinta dengan sepeda sejak 2012, Heri Yulianto sudah menjajal berbagai rute di Samarinda. Tampak saat dia melewati jalur perbukitan di Palaran, beberapa waktu lalu. HERI YULIANTO UNTUK KALTIM POST

Dokter pun Kaget, Kini Tiap Minggu Jajal Perbukitan

Dia mengaku sebagai gila sepeda. Rela bercapek ria menempuh ratusan kilometer hingga ke kota tetangga. Saat mengayuh, ada nikmat dan syukur yang dirasa. Melihat tren sepeda, dia harap itu bisa jadi budaya. Tak sekadar latah dan ikut-ikutan saja.

Raden Roro Mira, Samarinda

SIANG itu, seorang pria bersemangat saat Kaltim Post mengajak janji temu. “Cerita saya banyak. Saya goweser yang sembuh dari stroke dengan bersepeda. Nanti jam 5 di warkop ini, di Citra Niaga,” ujarnya melalui pesan WhatsApp disertai gambar warung kopi (warkop) yang dimaksud. Matahari semakin redup, di antara keramaian kedai kopi, terlihat satu orang yang menggunakan helm sepeda.

Matanya fokus pada layar persegi di genggaman. Saat awak Kaltim Post menegur, di situlah dia memperkenalkan diri sebagai Heri Yulianto. “Saya baru pulang kerja. Setiap hari bike to work dari rumah di Jalan Pangeran Suryanata dan kantor di Jalan Kartini,” ujarnya sambil menunjuk sepeda lipat berkelir oranye yang terparkir di sebelahnya. “Dulu pakai sepeda mountain bike (MTB), sekarang pakai sepeda lipat karena lebih cocok dengan kontur jalanan kota,” lanjut dia.

Dari mulut pria kelahiran 1977 itu, terurai kisah jika kecintaannya pada sepeda dimulai sejak 2012. Namun sekadar gowes biasa, angin-anginan. Setahun kemudian, tiba-tiba dia mengalami stroke ringan. “Saya tidak bisa bicara. Ini lidah sama bibir enggak bisa digerakkin!” seru Heri. Dia masih tak percaya terhadap apa yang menimpa. Dokter menyarankan terapi sembari rutin meminum obat. Heri melanjutkan kembali kebiasaan bersepedanya. Rutin setiap Minggu.

“Itu rasanya benar-benar mental saya jatuh. Kayak orang pelo, enggak jelas kalau ngomong. Beberapa bulan setelah rutin sepeda, pelan-pelan saya mulai bisa bicara lagi, percaya diri lagi. Dokter juga kaget waktu saya kontrol,” kata dia. Hingga pada 2014, dia membentuk komunitas, Kaisar namanya (Komunitas Sepeda Gunung Samarinda). Setiap Sabtu dia biasakan bike to work, Minggu bersama kawan komunitas menjajal area perbukitan Samarinda.

Semakin rajin mencari informasi tentang manfaat bersepeda. Hingga gabung komunitas dan sharing pengalaman. “Orang sampai tanya tips kenapa saya bisa cepat sembuh, jawabannya ya sepeda. Orang enggak percaya. Tapi kan memang balik lagi ke masing-masing, obatnya enggak bisa sama,” tukas ayah tiga anak itu. Dia semakin yakin gowes adalah alternatif olahraga paling tepat. Hingga memasuki 2018, niat bike to work full selama kerja.

Bukan sembarang goweser, dia juga tentu mematuhi aturan bersepeda aman di jalan. Selama pandemi, dia pun tetap kukuh bersepeda ke kantor. Dengan protokol kesehatan wajib masker. Selain itu sebelumnya dia juga selalu memakai buff (masker atau bandana yang mampu menutupi bagian tubuh). Ditambah rutin membersihkan sepeda setelah digunakan. Hari kerja rutin bersepeda ke kantor, waktu libur pun dihabiskan Heri bukan untuk bersantai di rumah saja. Dia tetap bertanggung jawab sebagai sosok suami dan ayah.

“Misal malamnya saya ajak dulu keluarga makan di luar, atau jalan-jalan. Jadi besok Minggu tenang, keluarga senang,” sebutnya lalu terkekeh. Hari libur itulah yang kadang dimanfaatkan Heri untuk solo trip. Melewati rute yang jaraknya ratusan kilometer. Terbaru, dia baru saja menyelesaikan perjalanannya ke Bontang dengan sepeda. Dan berencana akan ke Sangatta dalam waktu dekat.

Jalur perbukitan Samarinda sudah dihafal. Begitu pula daerah Kutai Kartanegara seperti Handil, Sangasanga hingga Tenggarong. Beberapa kali pula menjajal rute Bukit Soeharto. “Semua rata-rata pulang hari, berangkat subuh, kembali lagi di Samarinda sore,” ungkap Heri. Melihat tren bersepeda saat ini, dia pun mengimbau agar tetap patuh khususnya menjaga keamanan diri dan sekitar. Dia berharap agar hal itu sekadar latah dan untuk pamer semata.

“Harapannya ini bisa jadi budaya, khususnya untuk bike to work. Di Samarinda masih minim pelakunya,” ujarnya. Nah, dari sepeda itu dia mengatakan sebagai hobi yang dibayar. Paham pernak-pernik hingga akhirnya berjualan sejak 2018. Imbas ramainya pesepeda, dalam sehari Heri mengaku mendapat omzet Rp 1-1,5 juta. “Padahal kalau hari biasa, seminggu belum tentu ada,” paparnya.

Disinggung tentang fasilitas pesepeda di Samarinda, Heri tersenyum. Masih belum memadai. Sama seperti warga umumnya, dia hanya bisa berharap agar haknya sebagai pengguna setia sepeda dapat dipenuhi. Apalagi saat ini ruas-ruas kota diisi ratusan goweser.

Sebelumnya, dia dan beberapa pegiat sepeda di Samarinda sudah punya rencana. Mengadakan kegiatan tentang manfaat sepeda, berbicara lebih luas. Termasuk bagaimana hak fasilitas pesepeda di jalan raya. “Apapun itu, pesan saya ya tetap ikuti aturan. Apalagi kondisinya masih ada wabah, bersepeda harus aman dan tetap nyaman, jangan sampai merugikan,” pungkasnya. (riz/k15/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *