Jemput Bola E-KTP Vakum, Layanan Fokus di Kantor

Masyarakat mengikuti proses perekaman KTP elektronik di Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Senin (15/06/2020). Dukcapil Tangerang Selatan membuka layanan perekaman KTP elektronik dengan menerapkan standar protokol kesehatan. Petugas loket harus mengenakan pelindung wajah dan hazmat bagi operator rekam. FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS

JAKARTA, Jawa Pos – Percepatan perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) mengalami kendala akibat pandemi COVID-19. Bukan hanya pelaksanaan perekaman di kantor yang sempat mengalami pembatasan, gerakan jemput bola juga mengalami kevakuman hingga saat ini.

Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Zudan Arief Fakhrullah mengatakan, program jemput bola masal sulit dilakukan di masa sekarang. Sebab, kegiatan itu berpotensi menciptakan kerumunan orang berkumpul. Sehingga khawatir terjadi penularan.

“Agak terhambat karena petugasnya takut, masyarakat juga takut,” ujarnya, kemarin (21/6). Apalagi, sekolah-sekolah yang menjadi kerap menjadi sasaran program jemput bola juga tengah vakum kegiatannya.

Sebagai solusinya, pelaksanaan pelayanan perekaman difokuskan di kantor dinas setempat. Oleh karenanya, dia berharap masyarakat yang lebih proaktif. “Sebagian besar melayani yang datang di kantor,” imbuhnya.

Zudan memastikan, pelayanan perekaman E-KTP di kantor dinas diberbagai daerah telah menerapkan protokol kesehatan. Seperti penggunaan masker, penyediaan hand sanitizer, jaga jarak hingga dijaganya kebersihan alat rekam sidik jari maupun iris mata.

Terkait stok blangko, pria asal Jogjakarta itu menyebut ketersediaannya cukup melimpah hingga akhir tahun nanti. Hal itu setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani menyetujui penambahan alokasi blangko E-KTP sebanyak 25 juta keping yang diajukannya. “Saya jamin cukup,” tuturnya.

Dengan ketersediaan blangko yang melimpah, pihaknya juga telah menginstruksikan jajaran dinas dukcapil kabupaten/kota untuk tidak mengeluarkan surat keterangan (Suket). Apalagi, antrian sudah menurun tajam.

Jika per awal Juni lalu jumlah antrian tersisa 525 ribu, saat ini sudah lebih rendah lagi. “Sudah di bawah 500 ribu,” kata Zudan. Sehingga pencetakkan E-KTP bagi pemohon baru bisa dilayani lebih cepat.

Selama ini, dukcapil mengambil kebijakan mengeluarkan Suket sebagai solusi akibat belum dicetaknya kartu E-KTP. Selain menjadi bukti telah melakukan perekaman, Suket juga menjadi dokumen sah pengganti E-KTP. (far/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *