Soal Ujian Menginap Tiga Hari di Rumah Siswa

DOK. PRIBADI AJARKAN MATEMATIKA: Guru SMPN 3 Terangun, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, Rohmad Ari Wibowo mengajar siswa kelas VII bernama Supriadi yang didampingi ibunya.

Mengatasi Keterbatasan Jaringan Internet dengan Mengajar Door-to-Door (2-Habis)

Pengalaman mengajar secara door-to-door atau berkunjung ke rumah siswa juga dirasakan Rohmad Ari Wibowo. Guru matematika di SMPN 3 Terangun, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, itu menilai pembelajaran tersebut tidak efektif.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta, Jawa Pos

Pulang dari mengikuti pelatihan pendidikan di Jogjakarta, Rohmad mendapat kabar bahwa semua kegiatan belajar-mengajar di sekolah dihentikan sejak 17 Maret. Para murid diminta belajar dari rumah. Materi akan diberikan guru dengan metode daring.

Namun, ternyata jaringan internet di wilayah itu kurang bagus. Kepala sekolah meminta para guru untuk mendatangi rumah para siswa. Tugas dibagi. Meski jarak rumah siswa dengan sekolah tidak terlalu jauh, kondisi wilayah yang didominasi perbukitan itu tidak bisa diakses dengan motor. ’’Harus jalan kaki,’’ katanya.

Setiap kunjungan ke rumah siswa berlangsung tak sampai satu jam. Yang harus dikunjungi sangat banyak. Total siswa di SMPN 3 Terangun lebih dari 120 anak. Sementara itu, Rohmad adalah guru matematika satu-satunya di sekolah tersebut.

Supaya proses pembelajaran berjalan efektif, setiap guru mengampu 15 sampai 20 siswa. Menurut Rohmad, dalam sehari dirinya bisa mengajar empat siswa itu sudah bagus. Dalam sepekan dia mengajar door-to-door selama tiga hari. Pada Senin, Rabu atau Kamis, dan Sabtu.

Koordinator Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Gayo Lues untuk wilayah Kecamatan Terangun-Tripe Jaya itu menjelaskan, proses belajar di rumah siswa dimulai dengan bimbingan singkat. ’’Mana soal yang kemarin masih bingung, dibetulkan bersama selama 10 menit,’’ tuturnya.

Setelah itu, dia menerangkan pembahasan baru. Mengajar privat tiga sampai empat siswa sudah capek. Untuk itu, Rohmad mengatakan bahwa teknis pembelajaran door-to-door tersebut tidak efektif. Namun, dia menyadari di tengah pandemi ini, memaksakan belajar di sekolah tentu membahayakan. Tidak hanya bagi siswa, tetapi juga guru serta warga sekolah lainnya. Sementara itu, pembelajaran jarak jauh berbasis online terkendala jaringan internet. Dia mengatakan bisa ditelepon menggunakan WhatsApp call yang berbasis data internet hanya ketika sedang di rumah yang jauhnya sekitar 30 km dari sekolah.

Rohmad lantas menceritakan proses ujian akhir. Jika di daerah yang akses internetnya bagus soal dikirim lewat link Google Form atau sejenisnya, tidak dengan SMPN 3 Terangun. Rohmad beserta guru lain harus datang ke sekolah untuk mengambil lembar ujian. Setiap guru lantas membagikan lembar soal ujian ke sekitar delapan siswa. ’’Setiap guru sudah membawa satu bundel soal ujian. Dari seluruh mata pelajaran,’’ tuturnya.

Dengan sistem seperti itu, para guru tidak cukup waktu untuk menjaga siswanya mengerjakan soal di rumah masing-masing. Para siswa juga tidak mungkin harus menyelesaikan soal itu dalam satu sesi pembelajaran.

Akhirnya soal tersebut menginap di rumah siswa selama tiga hari. Apakah tidak khawatir siswa menyontek? Para guru hanya bisa bermodal percaya. Namun, untuk meminimalkan hal itu, para guru membuat soal ujian yang bersifat open book. Meski bisa membuka buku pelajaran, siswa tidak bisa seketika menjawab pertanyaan dengan sama persis.

Tiga hari setelah pembagian soal, guru kembali datang. Kali ini untuk mengambil lembar jawaban. Ada juga siswa atau orang tua yang membantu meringankan tugas guru dengan mengantar lembar jawaban ke sekolah.

Rohmad yang juga ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika di Kabupaten Gayo Lues sering memberikan pelajaran berbasis proyek. Misalnya, saat membahas bangun datar, soal atau lembar kegiatan siswa didesain supaya anak mengamati benda-benda di sekitar rumah.

Diharapkan, anak tidak terbebani materi tekstual. Apalagi, mata pelajaran yang dia ampu matematika. Saat normal saja, pelajaran itu sering dicap momok. Apalagi ketika siswa harus belajar berhadapan langsung dengan sang guru sendirian. Beberapa murid saking takutnya sampai meminta dia tak datang. ’’Begitu saya datang, anak-anak teriak panik, Pak Rohmad datang, Pak Rohmad datang,’’ tuturnya.

Namun, dengan metode pengajaran yang mengasyikkan, lama-lama proses belajar dari rumah siswa berjalan lancar. Rohmad menjelaskan, sampai saat ini belum ada kabar kapan sekolah akan dibuka kembali. Kabupaten Gayo Lues sempat ditetapkan sebagai salah satu zona merah di Provinsi Aceh. Perkembangan terkini, saat ini statusnya membaik menjadi zona kuning.

Rohmad mengungkapkan, selama ini seluruh siswanya beserta keluarga dalam kondisi aman. Tidak ada kabar mereka tertular Covid-19. Dia sejak awal mengajar di rumah siswa menggunakan masker untuk melindungi diri dan anak-anak. Meski, ada beberapa orang tua siswa yang bilang tidak perlu karena lingkungannya sehat.

Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim mengatakan, para guru yang mengajar door-to-door itu menjalankan pengabdian tugas. Dia menjelaskan, ketika pandemi Covid-19 mendera Indonesia, dunia pendidikan mendapatkan imbas yang besar. ’’Seluruh negeri harus menghentikan aktivitas pendidikan langsung,’’ jelasnya.

Pada kondisi tak ada jaringan internet seperti di Gayo Lues, dedikasi dan keikhlasan seorang guru untuk tetap memberikan yang terbaik bagi siswanya diuji. Dia mengapresiasi pengabdian para guru itu. ”Mendatangi kampung, masuk dari satu rumah ke rumah satunya berisiko tertular Covid-19. Tapi, mereka terpanggil oleh jiwa pengabdian sebagai guru,’’ katanya. (*/c7/ayi/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *