Dilarang Gugus Tugas, PSSI Akan Berkoordinasi

Pemain Persipura Jayapura saat menyapa suporternya di Stadion Klabat Manado usai menjamu PSIS Semarang dalam laga perdana Liga 1 musim ini 1 Maret lalu. (Erik/Cepos)

Harapan PSSI untuk tetap melanjutkan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 musim ini mengalami kendala. Sebab, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 secara tegas masih tidak memperbolehkan alias melarang adanya kegiatan olahraga yang mengandung sentuhan fisik. Sepak bola masuk di dalamnya.

Hal tersebut sempat diungkapkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo sesaat sebelum PSSI memutuskan melanjutkan kompetisi. Tepatnya ketika menghadiri rapat dengan Komisi X DPR RI, Rabu (17/6) kemarin.

Secara tegas pihaknya belum mengizinkan adanya aktivitas olahraga seperti sepak bola dalam masa pandemi yang belum mereda saat ini.

Nah, di luar olahraga yang mengandung sentuhan fisik, Doni memperbolehkannya. Tapi tetap ada syarat, yakni tidak menimbulkan resiko bagi masyarakat. Olahraga yang disarankan diperbolehkan misalnya jogging dan jalan santai saja.

Tentu ini akan jadi masalah. Sebab, PSSI sudah sangat bersemangat untuk menggulirkan kompetisi pada September mendatang. Berbagai persiapan sudah dilakukan, termasuk saat ini sedang mematangkan format dan regulasi untuk kompetisi lanjutan Liga 1 dan Liga 2.

Anggota DPR RI Komisi X Yoyok Sukawi angkat bicara. Pihaknya yang juga ikut rapat dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Rabu kemarin tidak menampik soal larangan tersebut.

“Ya rekomendasi untuk kegiatan olahraga sesuai dengan rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 hanya boleh dilakukan di wilayah yang zona hijau. Olahraganya pun hanya perseorangan saja, bukan tim,’’ tuturnya.

Nah, Yoyok yang juga merupakan anggota Exco PSSI memahami hal tersebut. Pihaknya sendiri sudah melaporkannya kepada PSSI terutama Ketua Umum Moch Iriawan. “Nanti akan ada koordinasi antara gugus tugas dengan PSSI,” tegasnya.

Baginya, tidak ada masalah ketika Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melakukan larangan aktivitas olahraga terutama sepak bola di masa pandemi ini. Hal tersebut dikatakannya tidak akan berpengaruh pada rencana PSSI untuk kembali menggulirkan Liga 1 dan Liga 2 pada September mendatang. “Saya rasa ini masalah komunikasi dan koordinasi saja,” bebernya.

Artinya, jika sudah ada koordinasi dengan baik antara PSSI dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dirinya yakin akan ada kelonggaran bagi sepak bola. Kelonggaran yang  mengizinkan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 dilanjutkan. Tentu dengan syarat ketat melalui protokol kesehatan.

Apalagi, PSSI sendiri sudah membukukan 5 pedoman protokol kesehatan dalam sepak bola. Hal tersebut nantinya akan jadi kunci bagi PSSI untuk mendapat izin dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Pedoman protokol kesehatan itu sendiri saat ini sedang dalam proses untuk disampaikan kepada seluruh member PSSI.

Sementara itu, dalam rapat exco via whatapps pada rabu malam kemarin, ada satu anggota exco yang tidak setuju kompetisi dilanjutkan. Dia adalah Hasnuryadi Sulaiman. Dalam wawancara dengan Jawa Pos, alasan dirinya menolak kompetisi dilanjutkan adalah tidak ada jaminan keselamatan bagi pihak-pihak yang akan terlibat jika Liga 1 dan Liga 2 diputar lagi.

Pria yang juga CEO Barito Putera itu menjelaskan meski ada protokol kesehatan, dia tidak yakin 100 persen pemain, pelatih, official, hingga perangkat pertandingan terhindar dari virus covid-19.

Saat ini saja, korban yang positif virus korona masih jauh dari kata aman. ’’Lalu apa ada jaminan juga September atau Oktober pasti sudah aman? saya setuju bangsa ini harus optimis, tapi juga harus realistis dan waspada,’’ terangnya.

Jika alasan kompetisi harus diputar kembali karena kepentingan Timnas Indonesia U-19 untuk Piala Dunia U-20 tahun depan, Hasnur menyarankan PSSI sebaiknya mencari cara lain di luar memutar lagi kompetisi. menurutnya, tidak seimbang jika alasan tersebut digunakan untuk melanjutkan kompetisi.

“Saya setuju persiapan Timnas U-19 harus dilakukan sebaik-baiknya demi martabat bangsa. Tapi urusan Timnas sebaiknya dicari jalan keluar yang lebih baik. Ini juga untuk  menghindari kebijakan yang coba-coba, ketidakpastian, dan berubah-ubah,” paparnya.

Sebelumnya Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi dalam preskon di Kantor PSSI membenarkan jika Rabu (17/6) malam lalu ada rapat exco. Namun, dia enggan membeberkan apa hasil rapat tersebut.

Menurut sumber internal PSSI, rapat exco yang dilakukan rabu malam tidak langsung secara virtual. Hanya melalui Grup whatapps yang berisi 15 Exco PSSI. Awalnya, rapat dimulai dari WA yang disampaikan oleh Yunus meneruskan pesan Iwan Bule soal pertanyaan apakah anggota exco PSSI setuju atau tidak setuju kompetisi tahun 2020 dilanjutkan.

          Tak berapa lama, seluruh anggota exco menyampaikan pendapatnya. Hasilnya, 12 exco menyatakan setuju kompetisi digelar, tapi dengan syarat-syarat yang berbeda-beda. sedangkan 1 anggota tidak setuju, 1 anggota lain absen.

            Lantas, dari hasil kesimpulan tersebut, muncul  pernyataan dari Iwan Bule. Yakni menyebut exco PSSI memutuskan gelaran kompetisi Liga 1 dan Liga 2 musim kompetisi 2020 dinyatakan diLANJUTKAN pada bulan September/Oktober 2020. Via WA, pesan itu tertanda Iwan Bule.

            Anggota Exco Hasasni Abdulgani membenarkan perihal pesan tersebut. Dia tidak menampik jika memang dari hasil rapat exco tadi malam diputuskan kalau kompetisi 2020 resmi dilanjutkan. “Jadi sudah ada keputusannya, bukan ketum yang memutuskan. Tapi dari hasil rapat ya,” bebernya.

            Hasani sendiri jadi salah satu pihak yang setuju jika kompetisi dilanjutkan. Tapi dia menggarisbawahi, pernyataan setuju yang dilontarkan juga dengan syarat. “Saya katakan tadi malam (rabu malam), saya setuju karena pertanyaannya kan kompetisi dilanjutkan, artinya format dan regulasinya tetap,” bebernya.

          Karena itu, dia mengaku sempat menjelaskan pihaknya setuju kompetisi 2020 yang sudah dimainkan harus dilanjutkan. Tetap ada promosi dan degradasi. ’’Jadi saya berpegang ada promosi dan degradasi, saya setuju kompetisi dilanjutkan. Kalau berubah lagi, ya saya akan lawan nanti,’’ bebernya.

          Anggota exco lainnya Haruna Soemitro juga membenarkan soal kesimpulan rapat exco rabu malam menyebut kompetisi 2020 dilanjutkan. Haruna sendiri mengaku salah satu pihak yang setuju walaupun sebelumnya menolak tegas kompetisi musim ini dilanjutkan. ’’Ada 9 poin yang saya sampaikan dulu sebelum saya setuju,’’ katanya.

          Poin pertama adalah soal alasannya melakukan kampanye agar kompetisi 2020 dihentikan. Dia mengatakan hal tersebut dilakukan karena keputusan kompetisi dilanjutkan di tengah pandemi tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Poin kedua dia menuturkan soal hidup di masa pandemi ibarat orang sekarat yang bertahan hidup karena ditopang oleh mesin.

“Yang ketika sepak bola itu bukan kebutuha pokok, bahkan mungkin kebutuhan mewah. Sehingga rakyat tak lagi melihat sepak bola sebagai sebuah kebutuhan,” tegasnya.

            Lanjut, poin keempat adalah soal rumah sakit dan tenaga medis yang fokusnya semua ditujukan pada pandemi. Poin selanjutnya Haruna menekankan soal Olimpiade dan PON Papua yang ditunda dengan alasan kesehatan dan keselamatan manusia. Harusnya melanjutkan kompetisi juga mempertimbangkan hal tersebut.

            Poin keenam adalah tanggungjawab ketika kompetisi dilanjutkan malah membuat masalah bagi rakyat. Ketuju soal belum adanya penjabutan status bencana non alam oleh pemerintah.

“Poin kedelapan adalah menutup buku kompetisi 2020 dan membukanya kembali ketika semuanya bersih. Kesembilan aspirasi 12 klub Liga 1 yang meminta kompetisi dihentikan,” paparnya.

`           Tapi di luar poin-poin yang dijelaskan, Haruna mengungkapkan ada kepentingan yang lebih besar sehingga membuatnya merubah sikap untuk ikut setuju kompetisi dilanjutkan. Yakni soal bangsa Indonesia yang tidak boleh menyerah dan berpangku tangan menghadapi semua bencana.

“Pengambilan keputusan yang demokratis melalui suara terbanyak setuju kompetisi dilanjutkan. Plus, amanat rakyat terhadap kita (PSSI) adalah pengurus sepak bola yang berarti kompetisi. jika kompetisi berhenti, saya bukan lagi pengurus sepak bola,” tegasnya.

            Alasan itu yang akhirnya membuat Haruna setuju dengan suara terbanyak yang ada dalam rapat exco rabu malam. itu berarti, Direktur Tim Madura United itu setuju kompetisi dilanjutkan. “Suara terbanyak adalah Tuhan kan?,” imbuhnya.

            Namun, ketika Jawa Pos bertanya apakah keputusan Haruna tersebut termasuk merubah keputusan Madura United yang awalnya menolak jadi ikut berkompetisi lagi? dia menuturkan sejak awal fokus Madura United adalah kesehatan dan keselamatan masyarakat. “Jadi ikut atau tidak dilihat seperti apa dalam 2 bulan ke depan,” jelasnya.

            Anehnya, anggota exco lain Yoyok Sukawi justru tidak menganggap rapat via grup WA itu resmi rapat exco. Menurutnya, apa yang terjadi di grup WA anggota exco itu sudah biasa terjadi soal sharing-sharing perihal kelanjutan kompetisi. ’’Sifatnya rapat tak resmi itu,’’ ungkapnya.

            Jika ada pernyataan ketum soal kelanjutan kompetisi karena anggota exco setuju, sebelum rapat via WA itu, sebagian besar exco sudah setuju kompetisi dilanjutkan.

Artinya, ada atau tidak rapat rabu malam kesimpulanya anggota exco mayoritas setuju kompetisi dilanjutkan. ’’Tapi kan finalisasinya tetap rapat exco untuk resminya. Karena itu, kami masih kumpulkan opsi-opsi, walaupun setuju opsi satu, kalau skema tidak bagus dan belum disetujui,’’ terangnya.

            Dia menerangkan masih banyak yang harus disiapkan sebelum memutuskan kompetisi dilanjutkan. Secara prinsip memang kompetisi harus dilanjutkan, tapi terkait format dan regulasi, itu yang menurutnya paling urgent untuk dibahas secara detail. “Jadi di rapat exco nanti harus benar-benar matang semuanya,” tuturnya.(jpg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *