Koalisi Penegak Hukum: Hentikan Penangkapan di Ruang Akademik!

#4 Mahasiswa USTJ Ditangkap Polisi

JAYAPURA- Polresta Jayapura Kota dikabarkan menangkap 4 orang Mahasiswa USTJ di Kampus USTJ, Senin ( 15/6).  Dari informasi, penangkapan terhadap 4 orang mahasiswa USTJ terkait pembukaan Posko Mimbar Bebas Pembebasan Tapol Papua, Sabtu (13/6) lalu.
Adapun keempat orang yang ditangkap yakni Marthen Pakage, Semi Gobay, Albert Yatipai dan Ones Yalak.

Atas penangkapan tersebut, Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua meminta hentikan penangkapan dalam ruang akademik dan membebaskan 4 orang mahasiswa USTJ.
Koordinator Litigasi Koalisi Penegak Hukum dan Ham Papua Emanuel Gobay menyampaikan, pada prinsipnya lingkungan kampus masuk dalam kategori lingkungan akademik.
“Berkaitan dengan aktivitas di dalam lingkungan akademik merupakan bagian dari kegiatan akademik Semestinya kegiatan mimbar bebas terkait pembebasan 7 Tapol Papua di Kaltim yang dilakukan  oleh mahasiswa USTJ dipandang sebagai bagian langsung dari kegiatan akademik,” ucap Emanuel sebagaimana rilis yang diterima Cenderawasih Pos, Senin (15/6)
Untuk diketahui bahwa kegiatan akademik dan kegiatan keagamaan secara jelas disebutkan dalam UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.
Disebutkan bahwa, kegiatan akademik dan keagamaan merupakan kegiatan yang dikecualikan dalam kewajiban pemberian surat pemberitahuan sebagaimana diatur pada pasal 10 ayat (4), UU Nomor 9 Tahun 1998.
“Dengan mengacu pada dasar yuridis di atas serta mengacu pada fakta tidak adanya pelanggaran hukum apapun (khususnya Pasal 6, UU Nomor 9 Tahun 1998) yang diakibatkan. Karena mimbar bebas mahasiswa USTJ dalam lingkungan kampus USTJ maka sudah seharusnya 4 Orang mahasiswa USTJ   itu dibebaskan,” tegasnya.
Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua juga menegaskan aparat penegak hukum dalam hal ini Polisi, wajib menghormati dan melindungi hak demokrasi warga negara yang dijamin dalam UU Nomor 9 Tahun 1998.
“Kapolda Papua dan jajarannya segera membebaskan 4 mahasiswa USTJ yang ditangkap pada tanggal 15 Juni 2020 sebagai wujud pengormatan terhadap UU Nomor 9 Tahun 1998,” paparnya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *