BMP: 7 Pelaku Jalani Hukuman Sesuai Perbuatannya

Hans Papare  (Humas Polda)

Jangan Mudah Terprovokasi, Tetap Satu Dalam Tekad Kebhinekaan

JAYAPURA- Barisan Merah Putih (BMP) Kabupaten Waropen dan Gerakan Merah Putih Provinsi Papua meminta 7 pelaku kriminal kasus kerusuhan Papua pada Agustus 2019 lalu untuk menjalani hukuman sesuai dengan perbuatannya.

Ketua Barisan Merah Putih Republik Indonesia Kabupaten Waropen, Hans Papare  mengingatkan, jangan samakan kejadian yang terjadi di amerika serikat dengan di Indonesia. Karena sudah barang tentu, kedua negara tersebut mempunyai sistem demokrasi yang berbeda.

“Di NKRI mempunyai sistem demokrasi yang berlandaskan Pancasila, sehingga jangan samakan sintem demokrasi di amerika serikat dengan di Indonesia,” tegas Hans sebagaimana rilis yang diterima Cenderawasih Pos, Senin (15/6) kemarin.

Ia juga menegaskan, sebagai warga negara yang baik, tentunya bersama-sama menekan pemahaman-pemaham yang bersifat sukuisme yang diboncengi dengan kepetingan-kepentingan tertentu. Yang harus dikedepankan adalah kepentingan negara. Karena walaupun kita berbeda-beda tetapi kita tetap satu yaitu satu bangsa, bangsa Indonesia.

“Jangan pemahaman kita salah kaprah, sehingga terjadi pemahaman yang membedakan kita dengan yang lain. Jika demikian, maka akan menciptakan perpecahan diantara kita di dalam negara kesatuan republik Indonesia,” paparnya.

Rudi Waromi

Sebagai Ketua Barisan Merah Putih Republik Indonesia Kabupaten Waropen juga sebagai orang tua, ia mengingatkan kepada semua pihak untuk tetap satu didalam tekad kebhinekaan, tekad persatuan Indonesia sehingga tidak terciptanya peluang-peluang konflik dan perpecahan diantara kita.

Terkait dengan 7 Pelaku Kriminal kasus kerusuhan papua 2019 lalu, Hans Papare mengingatkan bahwa, kita harus memahami bahwa, negara kita adalah negara Hukum. Tidak mungkin Kepolisian menangkap orang dengan sembarang lalu menyerahkan ke pengadilan begitu saja.

“Semua ini sesuai dengan perbuatan-perbuatan yang mereka lalukan, sehingga mereka harus berhadapan dengan Hukum. Untuk itu, saya mengajak saudara-saudara sekalian untuk mari kita semua bergandengan tangan menahan hati yang panas dengan pikiran yang dingin kita berpikir bahwa, apapun yang terjadi di dalam negara hukum ini biarlah hukum yang memproses setiap orang perilaku dan tindakannya tidak sesuai dengan Hukum,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Gerakan Merah Putih Provinsi Papua Rudi Waromi yang juga merupakan tokoh masyarakat Papua mengatakan, 7 tahanan pelaku kriminal kerusuhan Papua 2019 merupakan murni pelaku Kriminal dan bukan tahan politik.

“Ketujuh tahanan yang sedang menjalani proses persidangan di kalimatan adalah murni pelaku kriminal yang mengakibatkan terjadi kerusuhan di papua dan khususnya di Kota Jayapura. Akibatnya, banyak masyarakat papua yang mengalami kerugian baik itu materil maupun harta benda,” bebernya.

Terkait adanya beberapa oknum kelompok-kelompok kecil yang mengatakan ketujuh pelaku kasus kerusuhan papua 2019. Merupakan tahan politik, namun ditegaskanya bahwa, mereka adalah murni pelaku kriminal dan bukan tahanan politik. Sehingga saat ini proses hukum yang dijalani oleh mereka adalah sesuai dengan perbuatan mereka.

“Saya juga mengingatkan kepada tokoh-tokoh agama dan masyarakat lainya yang mengatakan 7 pelaku adalah tahanan politik, mari kita melihat dari apa perbuatan mereka. Sehingga terjadi kerusuhan di papua dan mereka adalah murni pelaku kriminal,” tegasnya.

Menurut dia, pihak kepolisian dalam memproses kasus tersebut sesuai dengan bukti dan fakta di lapangan. sehingga itu, jalani proses hukuman yang sedang dipersidangkan di Kalimantan.

“Jangan ada kelompok-kelompok yang mencoba mengaitkan masalah rasisme di Amerika Serikat dengan Indonesia. Karena tentunya sangat berbeda kejadianya. Sehingga masyarakat papua jangan ikut terprovokasi,” harapnya.

Kita ini warga negara Indonesia, sehingga jangan dengan mudah terprovokasi dengan sekelompok orang yang ingin mengaitkan dan atau menjadikan kejadian di papua sama dengan orang-orang di amerika sana.

“Kita harus menyadari bahwa, tanah papua ini adalah titipan tuhan untuk bangsa Indonesia. Sehingga mari kita jaga dan syukuri itu, karena misi utama kita adalah menjadi berkat untuk semua bangsa, sehingga kita tidak ingin ada lagi terjadi pertumpahan dara atau kerusuhan lainya, karena hal tersebut sudah terjadi pada zaman Koreri. Zaman ini adalah bagaiamana kita hidup berdamai dalam NKRI,” pungkasnya. (fia/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *