Adalah Keniscayaan Jika Tak Dibarengi Perubahan Mindset

PAKAI MASKER: Sejumlah warga menggunakan masker saat berbelanja bumbu dapur seperti cabe, tomat, dan lain sebagainya di Supermarket Mega Waena, Rabu (27/5). (Yewen/Cepos)

JAYAPURA – Belakangan cukup hangat perbincangan tentang new normal. Banyak ragam pendapat dan ada juga daerah yang menyatakan siap menjalankan ini. Tentunya jika ini diberlakukan maka roda perekonomian akan tumbuh, namun bila dipaksakan konsekwensinya juga mengerikan. Akan ada banyak yang jadi korban dan negara bisa disalahkan karena itu. Pandangan lain disampaikan oleh Rini S Sutrisno Modouw S.Pd, M.Sc, Ed.D, praktisi pendidikan asal Papua.

Ia menyebut New Normal ini dilema antara kenyataan dan kesadaran dimana terlepas dari semua teori konspirasi, pada kenyataannya Covid-19 telah mengubah tatanan hidup normal.  Papua dengan kenyataan “lack of readiness” yang jauh tertinggal dari kesiapan comprehensive itu sendiri menjadikan masyarakat banyak yang terserang kepanikan yang diartikan dalam kalimat psikosomatik ringan. Ketakutan akibat kekawatiran yang berlebihan akan bahaya Cobid-19.

InI terlihat dari perilaku manusianya dimulai dari panic buying, suhu tubuh fisik berubah, makan berlebihan dan insomnia, haus akan hiburan dan jenuh karena terisolasi termasuk ekonomi yang merosot dan kehilangan penghasilan. Masa New Normal akan melahirkan pemberlakuan aturan baru  dimana kekawatiran virus menyebar akan tetap ada. Ini tak lepas dari tidak disiplinnya masyarakat lalu akhirnya muncul perilaku baru yakni stereotype kepada penderita ataupun ex penderita dan bullying atau diskriminasi.

“Saya berpendapat bahwa New Normal adalah keniscayaan jika tidak dibarengi perubahan mindset dan perilaku sosial. Kesadaran manusia terutama mental dan karakter bawaan itu sulit dirubah namun bisa ditreatment melalui proses peristiwa dan pembelajaran kebiasaan yang panjang,” kata Rini. Kesadaran dan disiplin mematuhi sistem adalah wajah baru dari new normal itu sendiri menurutnya. Karenanya kesiapan untuk menghadapi ini adalah antara jasmani dan  rohani harus berjalan seimbang agar perilaku tidak menyimpang.

“Jika satu tak tercukupi maka tatanan new normal yang diharapkan akan sulit tercapai. Situasi tersebut akan merubah sikap manusia. Ada sikap pesimis dari perubahan yang cepat ini namun selalu ada harapan melalui pemberlakuan aturan yang terukur, tepat sasaran, memadai, dan didukung semua masyarakat perilaku untuk melahirkan kebiasaan baru,” imbuhnya.

Sementara Ketua DPR Papua, Johny Banua Rouw berpendapat bahwa Papua masih butuh waktu untuk menerapkan new normal dan tidak bisa mengikuti sama seperti daerah lain begitu saja. Pasalnya ada beberapa alasan yaitu kemampuan sarana prasarana kesehatan yang terbatas, SDM medis yang juga terbatas termasuk persoalan akses. “Semisal rumah sakit jauh di kota sementara masyarakat lebih banyak di kampung. Kami juga tidak punya tenaga medis yang mumpuni hingga ke kampung – kampung dan jika protokoler ini tak berjalan hingga ke kampung termasuk kesiapan sarana prasarana kesehatan mau jadi apa nanti,” tambahnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *