Soal New Normal di Papua, Ini Pendapat IDI Papua

Prof. dr. Donald Aronggear, SpB(K)

JAYAPURA-Rencana pemerintah untuk menerapkan konsep New Normal menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini termasuk di Provinsi Papua.

Terkait penerapan New Normal di Provinsi Papua, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua, Prof. dr. Donald Aronggear, SpB(K) Trauma Financs memberikan masukan yang perlu diperhatikan.

Menurut dr. Donald, persiapan yang matang sangat diperlukan sebelum penerapan New Normal di Papua. “Bagaimana dengan rencana New Normal di Papua. Apakah sudah dipersiapkan?,” tulis dr. Donald kepada Ceposonline.com, Sabtu (30/5).

Apa saja yang perlu dipersiapkan? Menurut dr. Donald, hal pertama yang harus jadi perhatian Pemprov Papua dan pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Papua yaitu protokol kesehatan dipertegas. Baik di tempat kerja, tempat ibadah, sekolah, industri, pasar tradisional dan ruang publik lainnya.

Langkah selanjutnya yang harus diperhatikan menurut dr. Donald yaitu pencegahan penularan Covid-19 dengan melakukan identifikasi, isolasi, testing, hingga karantina dan memastikan pengendalian pada pasien berisiko tinggi.

“Misalnya pengendalian pada pasien berusia di atas 55 tahun dan pasien dengan faktor-faktor penyakit penyerta. Terutama menyiapkan Faskes dan rumah sakit yang baik dan terstandard sesuai rujukkan,” tegasnya.

Diakuinya, lockdown atau karantina tidak bisa berlangsung lama. Termasuk pemeriksaan test rapid atau PCR massal. Sebab akan selalu muncul kasus baru.

“Jadi pemeriksaan difokuskan kepada PDP di Faskes mulai Puskesmas dan rumah sakit. Karena yang dipertaruhkan sangat banyak, termasuk pembiayaan. Untuk itu, perlu strategi baru, dimana pemerintah akan memberlakukan New Normal,” ujarnya.

Pada New Normal menurutnya semua kembali kepada masyarakat. Dimana masyarakat dituntut untuk bertanggung jawab dan menyesuaikan diri pada keadaan yang saat ini sedang terjadi yang mengubah kebiasaan sehari-hari. “Keadaan ini tak lain adalah pandemi virus Corona,” jelasnya.

Di masa pandemi ini, negara diakuinya tidak bisa selamanya menerapkan kebiasaan di rumah saja. Meskipun ini merupakan salah satu pencegahan penyebaran virus Corona yang baik. “Namun, perekonomian negara bisa jatuh jika ini terus diterapkan,” sambungnya.

“Maka dari itu, New Normal akan diberlakukan. Meskipun begitu, diharapkan masyarakat tetap berhati-hati dalam melakukan setiap kegiatan di luar rumah dan memenuhi protokol kesehatan yang berlaku,” tutupnya. (nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *