Di Pos Terpadu Batas Kota Perlu Kehadiran Tim Medis

Petugas pos terpadu di Batas Kota saat melakukan  pengawasan penerapan pembatasan waktu di depan terminal Tipe B Waena, Sabtu (23/5). (Robert cepos)

SENTANI-Pos Terpadu untuk penanganan Covid-19 yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi Papua melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua di batas  antara Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura terlihat tanpa kehadiran tim medis.

“Sebenarnya harus ada penempatan petugas  kesehatan untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap semua yang melintas di situ kalau memang misinya untuk pencegahan Covid-19 ” kata Arnol salah satu warga saat diwawancarai media ini, Senin (25/5).

Dia mengatakan, saat ini pos terpadu tersebut hanya diisi oleh pihak kepolisian dan Satpol PP ditambah dengan petugas dari Dinas Perhubungan baik dari Kota Jayapura maupun Kabupaten Jayapura. Mereka hanya bertugas untuk melakukan pengawasan dan penjagaan terhadap aktivitas masyarakat khususnya melintas dari pukul 14.00 WIT sampai pukul 21. 00 WIT.

“Sedangkan mulai dari pukul 21.00 WIT ke atas sudah tidak ada lagi pengawasan di situ,” ungkapnya.

Dia menambahkan, perlunya tenaga kesehatan dari Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 ini, misalnya melakukan pemeriksaan suhu badan bagi para pengendara yang melewati lintas batas, termasuk juga penyemprotan disinfektan terhadap semua kendaraan yang melintasi jalan itu.

“Tapi ini kan tidak ada,” katanya singkat.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Jayapura, Alfons Awoitauw mengatakan, saat ini pihaknya menempatkan 3 personel untuk mendukung kegiatan bersama di batas kota tersebut.

Ditanya mengenai penempatan tenaga medis seperti yang dikeluhkan masyarakat tersebut, menurutnya, hal itu menjadi kewenangan provinsi melalui tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua.

“Kegiatan di pos batas kota itu sebenarnya  biasa saja, karena terkait dengan pembatasan waktu dan penggunaan APD. Itu saja,” ungkapnya.

Dia berharap agar pos terpadu yang dibentuk ini harus berpatokan pada protokol kesehatan yang mana adanya  penempatan tenaga kesehatan dari gugus tugas kesehatan untuk benar-benar memastikan masyarakat yang melintas di batas dua wilayah  itu dalam kondisi sehat.

“Setidaknya ada upaya deteksi awal yang perlu kita lakukan misalnya melalui pengecekan suhu tubuh,”tambahnya. (roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *