Kepergian Joiche Ibarat Anak Dalam Rumah yang Meninggal

Alm. Joice Chaizan Lin. 

JAYAPURA – Kecelakaan pesawat MAF di Danau Sentani yang menewaskan seorang pilot bernama Joiche Chaizin Lin menambah panjang catatan duka dunia penerbangan di Papua.

Namun yang paling sering memang kecelakaan di daerah pegunungan akibat buruknya cuaca namun dimanapun lokasinya jika kejadian tersebut menewaskan seorang pilot apalagi pilot pesawat perintis maka ada banyak duka yang dirasa masyarakat Papua.

Ini layaknya melepas kepergian seorang anak yang tinggal serumah.
Sosok pilot apalagi missionaris, guru dan penginjil dianggap sebagai sosok yang sangat berjasa atas pembangunan peradaban di Papua. Karenanya jika ada kejadian duka yang melibatkan tiga pekerjaan di atas maka tak sedikit orang Papua yang ikut merasakan sedih.

“Bagi Orang Asli Papua di Pegunungan, di rawa dan di pedalaman Papua kecelakaan ini seperti rasanya kami melepas anak dalam keluarga yang meninggal. Sosok anak yang tinggal serumah dan bisa dibayangkan rasanya,” kata Nathan Pahabol, salah satu anggota DPR Papua yang juga pernah merasa menjadi guru di pedalaman.

Sosok pilot di Papua dianggap memiliki jasa besar. Sebab awal kehadiran penerbangan ini (MAF) ke tanah Papua dengan membawa sebuah misi pelayanan yang mulia yakni untuk menjangkau daerah terisolir dan memberi terang pada daerah sulit.

“Ini terbukti telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan pelayanan pekabaran injil, kesehatan, pendidikan dan sosial bahkan pemerintahan di daerah pedalaman. Karena itu bagi masyarakat di pedalaman selalu merasa MAF dengan misinya selalu ada di hati rakyat dalam memberi pelayanan yang terbaik,” tulis Nathan.

Dengan ini kecelakaan ini, ia merasa ada anggota keluarga di rumah yang hilang. Apalagi Papua dalam pandemi Covid-19 dimana kehadiran MAF sangat berarti bagi pedalaman Papua. “Kami berdoa Tuhan menolong dan menguatkan keluarga pilot yang meninggal dan pihak MAF. Semua ini terjadi dalam tangan Tuhan. Pihak MAF tetap menguatkan hati untuk terus melayani.
MAF akan tetap di hati orang di pedalaman,”tutupnya.

Kutipan lain disampaikan salah satu akademisi Uncen. Marinus Yaung yanh memberi ucapan terima kasih atas pelayanan yang sudah dilakukan oleh sang pilot selama ini.

“Selamat jalan teman misionaris kami Mrs. Joiche Chaizin Lin. Panggilanmu untuk melayani di tanah Papua sudah selesai. Terima kasih untuk pelayananmu buat kami di tanah Papua,” tulisnya. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *