Bupati Mathius Awoitauw Canangkan Kampung Sebagai Sumber Ketahanan Pangan 

Bupati Mathius Awoitauw didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Jayapura, Ny. Magdalena Awoitouw saat panen perdana syafu atau Gembili  di Kampung Skori Distrik Kemtuk, Rabu (6/5). (Robert Mboik/Cepos)

SENTANI- Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura saat ini sudah memulai  menggalakkan program ketahanan pangan  dengan memanfaatkan pangan  lokal dimulai dari semua kampung di  Kabupaten Jayapura.

Program ini merupakan upaya pemerintah  daerah dalam menyiapkan semua kampung  potensial menuju  kampung sebagai lumbung pangan lokal.

“Kekuatan ketahanan pangan kita ada di kampung. Kita akan beritahukan kepada dunia bahwa meskipun ada wabah penyakit, dan semua orang lain takut dengan melihat kondisi ekonomi ke depan, pasar tutup toko tutup. Tetapi kampung tidak tutup,” tegas Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, SE., M.Si., saat panen perdana Syafu atau Gembili di Kampung Sekori, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Rabu (6/5) lalu.

Dalam kesempatan itu Bupati Matius Awoitauw mengapresiasi kebesaran Tuhan yang telah memberikan Papua tanah yang subur dan indah. Untuk itu, masyarakat kampung diajak kembali ke kampung dan berkebun dan tidak perlu bepergian keluar dari kampung.
Masyarakat petani juga diminta untuk berkebun dan menanam kembali makanan lokal khas Papua, seperti syafu atau gembili dan jenis umbi umbian lainnya.

PANEN PISANG: Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE., M.Si., saat memanen pisang  bersama warga di, Kampung Sekori, Kemtuk. Ini  sebagai bentuk motivasi dan ajakan kepada petani lokal agar kembali  giat berkebun dengan menanam semua pangan lokal, Rabu (6/5) lalu.

“Kita mau beritahu bahwa kekuatan ekonomi, kekuatan ketahanan pangan itu ada di Kampung,” katanya.
Oleh karena itu, bupati berharap agar masyarakat tetap   berpikir positif dan tidak melihat wabah Covid-19 ini sebagai suatau hal yang  buruk dan menjadi akhir dari segalanya.

Masyarakat diminta untuk tetap optimis dan melihat persoalan ini sebagai suatu rencana Tuhan.
“Penyakit ini,  Tuhan mengajak kita untuk tetap tinggal di rumah dan tinggal di kampung. Itu berarti kita harus berbuat sesuatu untuk menjawab persoalan ini. Mari kita kembali kekampung, kembali menata  keluarga, kembali ke kebun,” ujarnya.

Bertepatan dengan acara panen perdana Syafu atau Gembili itu, Pemkab Jayapura telah menyatakan gerakan kembali ke dusun atau kembali ke kebun. Berkebun merupakan jati diri dan kembali ke keaslian masyarakat Papua dengan kekuatan yang ada di kampung.
“Jadi umbi-umbian ditanam kembali, sagu kita tanam lagi, Pinang kita tanam lagi,” pintanya.
Upaya-upaya yang dicanangkan oleh Pemkab Jayapura ini selain untuk ketahanan pangan tentunya juga mampu memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat mulai dari tingkat kampung. Warga diharapkan tidak lagi bergantung terhadap pangan dari luar. Tetapi harus kembali ke kampung dengan memanfaatkan pangan lokal yang sudah menjadi ciri khas dan budaya masyarakat adat Papua.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura, David A. Zakaria mengatakan, tahun 2019, pemerintah daerah sudah menanam sebanyak 5 hektar jenis pangan lokal di Distrik Kemtuk dan sekarang pemanenan sedang berlangsung.”Skori 1 Ha, Swaeb 2 Ha, dan  Sabeab 2 Ha,” ungkapnya.

Menurutnya, program ini akan dilakukan secara masif pada tahun ini yang tersebar di 19 distrik dan 139 kampung. Melalui program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Bupati Jayapura merupakan upaya untuk menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Jayapura.

“Manakala ketersediaan beras menipis atau habis inilah pangan kita. Sehingga kita harus mulai menyiapkan nya dari sekarang,”tambahnya. (roy/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *