Aniaya Guru,  Orang Tua Murid Dihukum  6 Bulan Penjara

Terdakwa Jarmad (41) saat mendengarkan  putusan  yang  dibacakan  Majelis  Hakim  Pengadilan  Negeri Merauke  yang dipimpin Hakim  Rizki Yanuar, SH, MH. Karena   terbukti melakukan  penganiayaan  terhadap  seorang guru, terdakwa dijatuhi  hukuman  selama 6 bulan   lebih  ringan dari  tuntutan  JPU selama 1 tahun. (Sulo/Cepos)

MERAUKE- Jarmad  (41),  orang tua murid yang melakukan  pemukulan terhadap  korban Sudarsono,  guru  SD Inpres  Jagebob  IV 22 Januari  2020   lalu, akhirnya dijatuhi  hukuman  selama  6 bulan    penjara  oleh Majelis   Hakim Pengadilan Merauke yang dipimpin Hakim  Rizki Yanuar, SH, MH,   Kamis(30/4).

Vonis hukuman yang  dijatuhkan Majelis  Hakim  Pengadilan Negeri  Merauke  tersebut  lebih ringan dari tuntutan Jaksa  Penuntut  Umun (JPU)  Pieter  Louw, SH, sebelumnya yang  menuntut  terdakwa  selama  1 tahun   penjara.

   Oleh Majelis  Hakim Pengadilan  Negeri Merauke,  terdakwa  dinyatakan  terbukti secara sah dan meyakinkan  melakukan  penganiayaan sebagaimana dakwaan  tunggal  JPU   yang melanggar Pasal 351 ayat (1). Hal-hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan  masyarakat,  meresahkan dunia pendidikan dan dilakukan  saat korban  sedang melaksanakan  tugas  belajar  mengajar.

Hal yang meringankan,  terdakwa  mengakui dan menyesali perbuatannya,  belum pernah  dihukum dan  karena  berusaha melindungi  anak  terdakwa.   Sebelum  Majelis Hakim membacakan  putusan,   terlebih dahulu   Penasihat  Hukum  terdakwa Guntur Ohoiwutun, SH,  membacakan  pledoi  atau pembelaan   atas  tuntutan   JPU.   

  Pledoi   dari PH terdakwa  tersebut pada intinya  menyatakan  bahwa terdakwa  terbukti secara  sah dan meyakinkan melakukan penganiayaan  terhadap korban sebagaimana  dakwaan  tunggal  JPU dan  meminta Majelis  Hakim menjatuhkan  hukuman yang  seringan-ringannya  kepada   terdakwa. Alasan   PH,  karena    apa yang  dilakukan terdakwa  tersebut  untuk  melindungi  anak  terdakwa   yang  sebelumnya  dipukul oleh korban.

   Atas  putusan  tersebut,  baik  terdakwa maupun  JPU  menyatakan  pikir-pikir.    Majelis Hakim memberikan  waktu selama  7 hari   kepada kedua pihakuntuk mengambil  sikap menerima   atau banding.

   Kasus penganiayaan  ini dilakukan   terdakwa  pada 22 Januari  2020 sekitar   pukul   10.05  WIT. Berawal  saat  terdakwa pulang  dari  kebun dan  mendapati  anaknya  sudah  berada di  rumah,  kemudian terdakwa menanyakan kepada korban  perihal  sudah  di rumah  padahal   anak-anak masih di sekolah. Anak  terdakwa melapor jika dia telah dipukul  oleh korban. Tanpa  pikir panjang, terdakwa  menuju ke sekolah. Saat melihat korban  sedang menuju  ruangan  kelas, terdakwa langsung  menghampiri  dan  melakukan  penganiayaan  terhadap korban. (ulo/tri)

  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *